Cerpen: Sebelum Ulang Tahun

 


Sebelum Ulang Tahun

Beberapa hari yang lalu dia ulang tahun. Aku tahu itu. Tidak ada kado, kejutan, kata “selamat” entah secara ucap, tulisan, pesan via sosial media. Semuanya kering. Yang terjadi seolah tidak ada yang terjadi. Semua karena dibungkus dengan keraguan. Beberapa orang mengucapkan kata selamat dan sepetah atau dua patah do’a yang diiringkan kepadanya dalam bentuk kalimat pendek di dinding FB. Ia pun membalasnya dengan balutan kalimat do’a pula. Ada pula seseorang yang menulis dalam bentuk ungkkapan selamat. Tetapi ia tida membalasnya.

Jelas, dapat diperhitungkan. Yang dibalas adalah orang yang tidak spesial, kenal atau seseorang yang dicurigai. Sedangkan yang dibalas adalah mereka yang mempunyai kedekatan emosional. Tidak mungkin yang telah deat tidak mendapat respon. Berbeda dengan yang ingin dekat, pasti diwaspadai.

Aku mengira posisi ku berada disamping mereka yang tidak mendapat respon, hanya sekedar ingin dekat saja sehingga dicurigai. Padahal seandainya aku kirimkan sebuah kotak berisi hadiah dengan identitas yang tidak dikenal, pastilah ini cara gampang agar kado ia menerima hadiah di hari kelahirannya. Tetapi itu kan percuma, ia mengira ini orang aneh, bahkan lebih menaruh rasa waspada lagi. Maka yang perlu aku lakukan adalah sebelum ulang tahunnya kedepan aku harus kenal dulu. Sekarang adalah lewat lima hari dari ulang tahunnya, berarti ada waktu 360 hari lagi menjadi kesempatan dan peluang agar dia mengenal ku dan aku mengenalnya.

Hari pertama berlalu dengan sia-sia, karena hari itu aku tidak punya cara untuk mengenalnya. Waktu itu hujan. Semua orang sedang ditawan oleh ketakutan akan basah. Mungkin begitu juga dengan dirinya, tidak akan kemana-mana. Dalam kondisi seperti ini tidak ada cara lain, aku hanya diam.

Naas sekali ternyata. Jenis hari seperti ini bukan hanya terjadi satu kali tetapi beberapa kali atau banyak kali. Hujan lagi dan hujan lagi. Entah telah beberapa hari menjadi sia-sia, hujan yang diharapkan oleh petani, tetapi tidak diharapkan oleh seorang pengucap kata “selamat”. Beberapa kesempatan semua jadi sia-sia.

Pada waktu hujan tidak turun, aku berpikir keras dalam skema “harus bagaimana?”. Tetapi terus saja buntu. Hari seperti ini dilalui banyak kali pula. Memang sepertinya pikiran tidak terlalu cerdas ketika dipaksa untuk memikirkan. Serta pengalaman yang tidak dimiliki untuk menjadi bahan mengambil cara. Semuanya lagi-lagi berlalu dengan sia-sia.

Ah, tidak. Sampai suatu hari aku mendapatinya pergi diwarung kelontong  membeli kebutuhan dapur. Ia anak yang rajin. Begitulah kesan yang aku tangkap. Tetapi segala praduga yang terbersit muncul baik karena objek adalah yang diharapkan. Ini tidak rasional. Aku tahu itu. Tetapi membiarkannya seolah terjadi dengan tanpa ada rasa bersalah setelah terpleset dalam kubangan irrasionalitas rasa.

Dalam kesempatan itu. Sebenarnya aku bisa seolah bertanya agar kemudian menjadi jalan untuk kenal. Bicara ini dan itu yang tidak penting karena yang terpenting adalah bicaranya dan membuat ia mengenal. Ternyata aku gugup sampai beberapa menit ia lantas pergi dan pulang meninggalkan aroma parfum khas yang lengket di hidung. Hilang beberapa menit tetapi rasa yang tertanam dari aroma parfumnya tidak hilang selama satu beberapa ratus hari sampai ia mau ulang tahun lagi.

Lagi-lagi sia-sia dan sia-sia terus secara menerus. Aku mulai berpikir keras dan resah, karena tidak sedikitpun keberanian yang hadir. Entah ia pergi dan menghilang kemana. Andai saja ada disebuah toko yang menjual keberanian dalam bentuk kemasan, aku akan membelinya. Jika masih diproduksi aku akan menunggunya sampai selesai dan memesannya beberapa bungkus. Bahkan akan pesan lagi untuk bulan depan. Takut keberanian hari ini habis dan tidak cukup, maka butuh stok lagi. Itu tidak mungkin ada.

Sambil menunggu kesempatan beberapa kali aku melintas melewati rumahnya sekedar melihat dirinya yang biasanya menyapu lantai depan rumah. Beberapa kali juga aku berjumpa. Beberapa kali juga akku hanya melihat sandal dan sapunya. Itu semua dilakukan sekedar untuk mengawetkan aroma yang kemarin untuk menuju kepada keabadian rasa. Setelah pulang beberapa rasa yang hadir ditangkap oleh pikiran dijelmakannya sebagai kata-kata dalam bahasa sehari-hari disusun agar difahami tiap barisnya menjadi puisi.

Pokoknya setelah pergi melewati rumahnya sekalipun tidak bertemu. Pulangnya pasti ada puisi yang tertulis. Hal ini terjadi sampai dua bulan lamanya.

Pada hari-hari terakhir, sebelum ia ulang tahun aku membawa untaian kata-kata itu ke percetakkan untuk dicetak menjadi buku kumpulan puisi. Akhirnya berhasil pula. Sedangkan untuk sekedar mengenalnya sulitnya bukan main. Dalam harap-harap cemas mengingat watu tinggal sedikit sebelum ia ulang tahun. Sebenarnya wakktu selalu panjang kalau hanya sebatas digunakan untuk mengenal. Bisa seluruh usia. Tetapi untuk kelayakan mengenal aku sendiri membatasi untuk diri sendiri. Dasar pengecut dan bebal tidak berpengalaman. Itu gerutu dalam pikiran yang hadir menyapa karena ketidak becusan untuk menyelesaikan persoalan ini.

Sampai tinggal tiga hari. Pikiran seolah tidak ada ia dipasung oleh keinginan yang tidak dibekali oleh setitik pun keberanian. Ini semua jelas bukan persoalan kesempatan dan lihainya menggunakan siasat. Tetapi tidak adanya keberanian saja. Setiap menit menuju ke hari yang dimaksud tidak berubah menjadi jam melainkan resah yang semakin menumpuk seolah sedang menggunung. Satu tahun terjadi begitu saja dengan kegagalan yang direncanakan.

“ahhh” aku pun berteriak hebat agar bebas. Mengeluarkan beban dari dalam tubuh berupa ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran. Sampai kemudia aku berdiam diri begitu lama di jalan pematang sawah, hari sudah senja malam hampir kelihatan dan semua masih sia-sia. Entah beberapa jam aku terdudu lesu mencari ketenangan tida lagi cara. Karena seluruh cara telah sirna. Semua menjadi putus asa.

Aku pun berpikir lekas-lekas. Harus ada yang diperbuat daripada berbuat sesuatu yang tidak ada sama sekali. Biarlah semua berlalu dengan apapun yang terjadi. Usaha tetaplah harus dijalankan daripada tidak sama sekali. Meskipun usaha dihadapan takdir seperti sehelai rambut dihadapan pedang. Tidak berarti apa-apa, tetapi harus tetap ada usaha.

Akhirnya aku merogoh saku mengambil telepon genggam. Membuka FB dan mengucapkan kalimat “selamat ulang tahun”. Hari itu adalah tiga hari sebelum ia ulang tahun. Sejenakk menghela napas. Tidak hanya dia yang curiga pastinya, seluruh isi jagat raya ini pasti curiga padaku. Ada apa mengirim selamat ulang tahun sebelum pada waktunya. Biarkan saja. Aku lupakan. Akhirnya selesai semuanya. Tiga hari sebelum seluruhnya aku anggap gagal. Bagaimana tanggapannya. Aku tidak akan membuka FB sampai tiga hari kedepan. Hal yang irrasional untuk yang irrasional, mungkin begitu. 

Tegalwangi, 24 September 2021

APH    

 

 

 

 

Post a Comment for "Cerpen: Sebelum Ulang Tahun"