Serba-Serbi Kisah Sedu, Sedan, Suka dan Cita Petani Durian

 


Serba-Serbi Kisah Sedu, Sedan, Suka dan Cita Petani Durian

Sudah tidak asing di penciuman banyak orang tentang bau khas dari buah yang banyak durinya, Durian. Buah yang cukup mewah dilidah, penggemarnya harus merogoh kocek yang sangat dalam agar bisa menikmati cita rasanya tidak sekedar mencium aromanya saja. Bagi mereka yang terlampau fanatik kepada buah tersebut maka musim Durian adalah ajang untuk berpesta pora.

Dari sekian banyak penggemar sedikit sekali dari mereka yang memahami betul identitas dan jati diri dari buah Durian. Tanda utama mereka yang tidak mengenal buah Suriah adalah dilihat dari percakapannya, apabila ada seseorang yang tiba-tiba bertanya "Monthong ini?", Itu pertanda bahwa orang tersebut tidak faham betul. Karena Monthong hanyalah salah satu jenis saja yang paling populer dan paling fantastis ditinjau dari besar buahnya ada yang mencapai panjang lingkar 75 cm.

Bisa disebut tidak faham karena banyak jenis lain, semisal Kani, Sunan, Sukun, Mdur, D.99, p-10 furu dan sebagainya. Hanya mengacu kepada yang terpopuler berarti hanya mengerti pada satu tampilan saja. Sama halnya dengan orang mengenal Soeharto sebagai presiden di era orde baru, tetapi sebagai seorang yang memang tahu seluk beluk era itu, pastinya tidak sekedar tahu orang nomor satunya saja, nomor dua, tiga dan seterusnya haruslah tahu, agar bisa dianggap tahu dengan sebenarnya orde baru itu, begitu juga dengan durian.

Berbicara Durian terkait cita rasanya yang menggoda, harumnya yang semerbak membuat nyamuk benci, harganya yang mahal, penggemarnya yang fanatik, pembencinya yang juga fanatik, ternyata itu hanya sudut yang dipandang dari arah pembeli, penikmat atau konsumen saja. Ternyata dibalik itu ada cerita yang heboh dari para petani Durian.

Mereka para petani, adalah penyebab dari adanya cerita yang dituturkan oleh para pembeli. Biasanya pembeli kalau sudah menggelontorkan dananya untuk menebus durian akan cerita dimanapun dan sampai kapanpun, bahkan ketika aroma duriannya sudah sirna dari peredaran. Mereka akan bilang "kemarin aku beli durian dipinggir jalan empat buah aku makan ditempat, enam buah aku bawa pulang, berarti hari itu aku telah menganggarkan dana untuk beli Durian sebanyak itu'. Cerita itu bisa terjadi apabila Duriannya ada, bisa ada ketika ada petani yang memiliki batang-batang berharga dengan perawatan yang tidak bisa disepelekan ruwetnya.

Petani saat pertama kali menanam harus memastikan kebutuhan Durian, mulai dari bibit terbaik yang tidak sakit-sakitan dan lahan yang sesuai. Tidak jarang ada orang yang hobi makan durian, agar kebutuhannya tercukupi maka ia beli bibit dan pokok tanam, akhirnya daun gugur, tangkai kering patah-patah, dan mati.

Ada pula yang telah berhasil membesarkan pohon Durian tampak gagah dengan daun lebat, tangkai besar menjuntai ke yang lainnya. Ketika saat-saat yang ditunggu-tunggu, berbunga dengan lebatnya sungguh hebat, apabila telaten untuk menghitung satu tangkai saja bisa lima ratusan, bayangkan apabila ada sepuluh tangkai, bisa berapa itu hitungannya. Tetapi bunga yang begitu lebatnya dengan hebat nyatanya berguguran, hanya menyisakan beberapa saja, untung-untung masih tersisa, ada yang rontok total tidak menyisakan satu bunga sekalipun. Maka rontok pula khayalan berbuah beribu-ribu Durian.

Kerontokan tidak hanya berhenti disitu saja, Petani dengan sigap haruslah berani mendanai untuk merawat dengan membelikan insektisida bagi hama pengerek tangkai buah. Jika terlambat berarti pasti ada yang berguguran satu sampai sepuluh atau bahkan lebih dan itu adalah hal yang biasa.

Sisa kerontokan yang telah berhasil besar dan tinggal menunggu masa panen, tidak bisa dibiarkan begitu saja soalnya masih ada hama selanjutnya, yaitu serangan tupai, mulai dari tupai yang benar-benar tupai hingga tupai dalam bentuknya yang lain, dalam istilah Jawa disebut "bajing ndas Ireng". Keduanya juga merupakan hama yang sama-sama mengkhawatirkan. Untuk yang terakhir disebut, apabila hama seperti itu sedang beraksi maka bisa ludes seluruh buah hanya meninggalkan daun dan batangnya saja.

Oleh karena itu tidak semudah yang dibayangkan, tinggal hitung batang terus tangkai terus perkiraan hasil kalau satunya berapa sampai kalau saratus hingga seribunya. Dimana-mana tetap enak yang lihat, bagi petani Durian kisah sedu, sedan, suka dan cita dilumat menjadi satu. Kalau memang tidak panen ya sudah selesai semuanya, tetapi kalau ada yang dipanen ya syukur Alhamdulillah.

Tegalwangi, 27 September 2021

APH

 

Post a Comment for "Serba-Serbi Kisah Sedu, Sedan, Suka dan Cita Petani Durian"