Cerpen: Pak Kaji Slamet

 


Pak Kaji Slamet

Seorang laki-laki tua bersongkok putih sedang duduk didepan rumahnya. Sambil baca koran, kepulan asap mengisi seluruh suasana didekatnya. Orang-orang memanggilnya pak kaji, orang yang sebaya atau lebih tua memanggilnya dengan sebutan "kaji" tanpa menggunakan kata bapak. Ia terhormat didesanya dan desa-desa sebelah atau juga dari desa-desa mereka yang butuh dan berharap kepadanya. Hartanya melimpah, tangannya selalu terbuka. Sapaannya hangat, senyumannya sejuk, suaranya merasuk ke relung hati pendengarnya. Siapapun yang diajaknya bicara merasa memiliki kehormatan yang pak kaji miliki. Seolah berbicara dengan pak kaji sama artinya dengan ia membagikan kehormatannya. Karena siapapun yang diajaknya bicara, maka orang lainpun akan bertanya-tanya,"ada apa ya si anu diajak bicara sama pak kaji, pasti ada hal penting".

Hari tuanya hanya diisi dengan bersantai. Setiap pagi baca koran, memakai songkok putih, jari jemari mengapit rokok, kopi panas diatas meja, bersebelahan dengan asbak tempat membuang puntung rokok. Ia benar-benar berhasil menikmati hidup dimasa tuanya. Tidak perlu lari-lari mencari kehidupan, sebagaimana kebanyakan orang. Bahkan orang-orang yang ingin mendapatkan kehidupan harus menghampiri dirinya.

Barangkali kalau mau diusut, kenapa ia begitu terpandang dan memperoleh kenikmatan yang begitu luar biasa? Bisa jadi, sekedar tebakan, karena kebiasaannya dulu dalam bersedekah. Pak Kaji tidak pernah berpikir panjang kalau mau memberi makan orang. Setiap keluar dengan berapapun jumlahnya teman, pasti diajaknya mampir pinggir jalan untuk beli makan. Ia lakukan hal tersebut mulai dari masa mudanya, ketika kesuksesan mulai datang sedikit demi sedikit. Umumnya orang apabila akan menanjak sukses dan mapan, maka akan mengantisipasi kejatuhan, semisal dengan tidak boros-boros dalam pengeluaran, ia simpan rapat-rapat, untuk menjaga hal-hal yang tidak dimungkinkan terjadi. Tidak untuk Pak Kaji, sambil lalu menghimpun kesusksesannya ia juga mengobralnya dengan cara yang ia pikir menikmatinya.

Awal mula dari ia menjadi orang terpandang dan terhormat sebagaimana hari ini, dimulai dari keberaniannya memutar uang untuk usaha yang besar. Pertama ia lakukan dengan meminjam modal uang di Bank, dengan bekal bawaan keberanian, rajin, cara bertutur yang ramah dan ilmu pertanian yang baik. Ia gunakan untuk bergerak dimasa awal. Waktu itu masih era orde baru Pak Kaji mulai merintis. Sekali dua kali panen hasil cukup tetapi tidak begitu banyak untuk mendongkrak kebesaran dari usahanya. Perlahan demi perlahan ia tekuni, ia sendiri adalah orang yang tekun dan mempunyai kemampuan manajemen yang baik khususnya tentang perekonomian dan tata usaha, hanya itu sebetulnya yang ia bisa

Masa-masa itu antara untung dan rugi berjalan seimbang, kalau rugi tidak banyak, kalau untung bisa digunakan untuk menutupi kerugiannya. Pada waktu itu ia tidak begitu populer, belum dikenal sebagai Pak Kaji, orang-orang menganggap nya biasa-biasa saja, tidak ada kehormatan. Uang dan identitas sepadan, sama-sama menengah kebawah. Ia mulai merdeka dan berdaulat secara ekonomi bahkan berkuasa dengan kekuasaan yang sangat melebihi dari cukup setelah reformasi. Rezekinya semakin berlipat seperti diguyur hujan dari langit tidak pernah berhenti. Hari-harinya adalah guyuran uang, usaha pertaniannya melesat kencang, tanpa ada rem penahan.

Waktu rame-rame orang menanam semangka, pak kaji lebih dulu menanam tidak dengan jumlah sedikit, sangat banyak, berhektar-hektar. Orang rame-rame tanam melon, lagi-lagi tidak ada yang bisa mendahuluinya. Lemon sudah turun harga, berganti ke tomat, tebu, jagung dan tembakau ia selalu didepan, dalam urusan modal, banyaknya tanaman dan pengetahuan tentang apa yang sedang diusahakan. Tabungannya semakin hari semakin bertambah angkanya, tidak sekedar jumlah antara satu terus ke sembilan, melainkan sembilan terus menetaskan nol-nol dibelakangnya terus dan terus, hasil untung usaha ia gunakan untuk beli sawah dan sewa. Tanahnya ada dimana-mana, berserakan seperti sampah, tetapi terurus semua. Tidak tahu berapa pekerjanya kalau melihat sawah yang tidak ada orangpun mengetahui jumlah dan tempatnya dimana saja.

Selain untuk menambah modal, ia gunakan untuk berangkat haji. Sebelum nya ia dikenal dengan nama pemberian orang tuanya, pak Slamet, setelah naik haji baru orang perlahan dan pelan beralih panggil menjadi Pak Kaji. Nama pak Slamet lenyap dikikis waktu dan ditindih nama Pak Kaji. Ia berhasil membentuk identitas, masa-masa reformasi adalah masa kegemilangan nya, hari-harinya semakin menarik, seolah dunia diciptakan untuknya. Posisinya masih dan seolah akan senantiasa berada diatas terus. Beberapa tahun, kira-kira dua tahunan ia beranjak ke pentas politik. Dengan masuk ke sebuah partai yang bernafaskan agama, maka serasilah sudah identitas pak kajinya dengan partai tersebut.

Pak Kaji aliyas Slamet adalah seorang pebisnis ulung, ia mampu menghasilkan untung dari arah yang tidak disangka-sangka orang. Partai dan politik adalah salah satu jalan saja agar nomor rekeningnya semakin terisi banyak dan banyak. Setelah ia resmi terdaftar sebagai anggota legislatif maka jalan yang ia tempuh adalah bermain dibalik-balik berkas administrasi. Satu tahun lewat satu mobil terbaru sudah berdiri gagah didepan pintu rumahnya menunggu si pemilik datang.

Maklum ia adalah orang yang beruntung dalam hal ekonomi, pergi ke Mekah menjadi wajib baginya karena uangnya menumpuk banyak, sayang ia naik haji ke Mekah hanya bermodal uang bukan iman. Ia mendaftar sebagai perwakilan rakyat bukan karena ingin benar-benar mewakili rakyat, tetapi mewakili dirinya sendiri sebagai seorang bapak yang mencintai anak-anaknya, jangan sampai anaknya tidak makan, tidak sekolah, tidak punya mobil dan sepedah. Sebagai seorang suami yang sangat sayang istri, karena permintaan istri yang aneh-aneh antara kemewahan dan kebutuhan tercampur aduk maka beberapa semen dalam bangunan ia kurangi untuk memenuhi itu semua. Ia sangat sayang dengan anak dan istri, maka cara apapun ia lakukan. Permainannya baik, setan pun tidak perlu mengajari pak kaji.

Masa tuanya ia berhasil menikmati kopi dengan benar-benar nikmat. Tidak ada yang tahu apakah kopi yang dibelinya itu adalah bercampur dengan aspal jalanan atau tidak, hanya dirinya saja yang tahu. Ketika berwujud kopi masih saja akan terasa nikmat kecuali kalau sudah dicampur dengan isi pikiran yang kemana-mana, resah, gundah dan was-was. Pagi itu rasa-rasa sejenis tidak ada diraut muka Pak Kaji, yang ada hanya nimatnya pagi dengan secangkir kopi. Tanpa ada kecemasan apapun dunia fana sudah cukup dirasakannya sebagai surga.

Tegalwangi, 20-09-2021

APH

Post a Comment for "Cerpen: Pak Kaji Slamet"