Sajak: Pak Tani

 


Pak Tani

Beberapa butir embun semalam masih singgah di dedaunan

Sebagian lagi harus sirna ditatap surya

Tanah basah merata seluruh permukaan

Pak Tani beranjak dari peraduan

Menuju belantara ikhtiyar

Punggung laksana pohon jati

Selalu kokoh digantungi cangkul

Senjata warisan yang selalu setia

Jejak langkah tanah-tanah basah

Memberi sinyal kepada seluruh penghuni bumi

Ada seorang yang hatinya teguh mencari anugrah ilahi

Tapak demi tapak dilalui oleh Pak Tani

Entah telah berusia berapa tanah yang ia jadikan tumpuan kaki kuatnya

Menghadapi berbagai sandiwara diatas bumi

Ketika hama menyerang Pak Tani harus menyiapkan perisai

Ketika pemerintah menaikkan harga pupuk

Pak Tani harus mengambil pilihan

Berhati luas atau berkantong tebal

Pak Tani adalah simbol para pahlawan

Mereka yang ingin disebut pahlawan hari ini

Harus sering-sering menyebut nama Pak Tani

Di banner, petisi, seruan aksi, nama Pak Tani disebut untuk dibela

Agar jalan menjadi pahlawan lancar dan sampai tujuan

Kasihan sekali Pak Tani

Namanya dieksploitasi padahal ia hanya ingin menghidupi anak dan istri

Pahlawan sejati hanya ada dalam televisi dan hitungan jari

Pahlawan sejati akan siap menjadi petani

Menjadikan kertas skripsinya sebagai bungkus nasi

Tidak menggembor-gemborkan nama petani untuk aksi

Mereka harus hadir karena dorongan pengalaman

Bukan mimpi-mimpi yang dibentuk lewat imajinasi buku bacaan

Pak Tani oh Pak Tani namamu adalah abdi sejati untuk negeri ini

Tegalwangi, 15-09-2021

APH

Post a Comment for "Sajak: Pak Tani"