Pak Kiai dan
Chanelnya
Seorang kiai desa yang dikenal
oleh masyarakat hanya mengaji dan berdzikir, mengenakan pakaian putih-putih
dari ujung kaki sampai kepala. Beberapa waktu lalu menanyakan tentang adanya
dana pesantren. Sontak mengejutkan kepada yang diberi pertanyaan itu, yaitu
seorang perangkat desa. Karena memang dana yang dimaksud tidak ada dan tertera
dalam APBDES ataupun pada APBD.
Beberapa hari kemudian, setelah
kejadian tanya jawab itu. Seluruh media memberitakan kalau Presiden Jokowi
men-teken dana abadi pesantren pada tanggal 2 September 2021. Sehingga Bupati
akan segera merubah APBDnya karena ada perubahan anggaran sesuai dengan
keputusan presiden.
Orang bisa berpikir, wah sang
kiai mempunyai kasyaf, ketersingkapan akan hal-hal yang ghaib, sesuatu
yang akan terjadi dimasa depan, ini jelas suatu karomah. Tetapi kalau
dipikir-pikir kenapa justru yang ia singkap adalah persoalan dana, duniawi.
sekalipun itu menyangkut kepentingan pesantrennya yang mana dengan pertanyaannya
kepada seorang perangkat beberapa waktu lalu ia mempunyai inisiatif untuk
menerima bantuan demi mambangun pesantren yang diasuh.
Pikir terus berpikir, sebenarnya
Kiai itu mengetahui dana tersebut tidak berdasarkan kasyaf, melainkan
dari chanel-chanel yang ia miliki dan bina kekerabatannya untuk menghidupi dan
meninggikan bangunan pesantren. Sedangkan perangkat Desa tersebut bisa jadi
kurang menonton berita di televisi karena lebih sering menonton Youtube dengan
sajian yang dipilih sesuai selera.
Dari kejadian tersebut, kita bisa
belajar bahwa chanel itu sangatlah penting tidak sekedar dimiliki oleh para
petinggi-petinggi pemerintahan atau mereka yang berkeinginan untuk menjadi
petinggi itu sendiri. Tetapi juga harus dimiliki oleh seorang kiai, tokoh agama
yang bekerja untuk mendidik dan membina umat. Karena dengan begitu, di era
sekarang, kalau hanya menggunakan donasi dari para dermawan mana mungkin
bangunannya akan tegak berdiri kokoh dan syiar akan kurang semarak.
Sekali-kali ia harus berpikir
diluar kebiasaan, yaitu menaruh harapan kebaikan dari pemerintah agar segala
keinginannya dapat terealisasi dengan cepat. Setelah itu, jika chanel pertama
telah ter-acc tinggal tunggu tanggal pencairan maka langkah selanjutnya adalah
menyiapkan chanel yang lain. Sebagaimana orang bermain catur, ketika pion
pertama dijalankan, maka seluruh bidak haus dipikirkan kemana akan berjalan. Jadi
kiai juga harus mahir dan lihai diatas papan catur. Dengan begitu kalau bisa
melampaui beberapa kenapa harus satu barangkali ada dana perawatan bangunan,
sumbangan kamar mandi, donasi untuk beli kitab kuning, speaker dan kalau ada
mobil transportasi.
Masalah santrinya ada atau tidak
sedikit atau banyak itu urusan lain, yang penting lahan harus disiapkan sebaik
mungkin. Toh, teorinya kalau orang berdagang ia mesti menyiapkan lapak dan
barang jual dengan kualitas terbaik, akhirnya pelanggan akan merasa minat dan
tertarik untuk datang.
Karena kapasitas sebagai Kiai,
tidak perlu ambil ruwet bagaimana tingkah seorang Kiai meminta dan mengaharap
bantuan dari pemerintah. Karena Kiai zaman sekarang tidak sekedar ngulang ngaji
tetapi juga harus ahli manajemen, ahli anggaran, dan ahli segalanya yang
berkaitan meningkatkan infrastruktur.
Jika bicara hukum, secara fiqhiyah seorang Kiai yang telah mendalami ilmu
tersebut, mengotak-atik berbagai macam cara menggali hukum akan menemukan
dalilnya yang kemudian digunakan untuk melegitimasi kehalalannya. Entahlah
halal memang benar halal atau gimana? Kalau dipikir sepintas pemerintah juga
tidak memperoleh dana tersebut dari kegiatan haram, seandainya kalau memang
haram itupun juga tidak tahu, karena tidak ada bukti maka tidak boleh su’udzon.
Jadi dalil kahalalannya jelas sangat banyak dan mendukung.
Jika sudah mengambil jalan seperti
itu, jangan bercerita kepada para jama’ahnya
dalam acara-acara ceramah atau khutbah tentang kisah ulama' salaf yang enggan
dan menolak ketika diberi hadiah oleh penguasa, bahkan ketika penguasanya
adalah seorang yang adil seperti Khalifah Bani Umayyah, Umar bin Abdul Aziz.
Menceritakan kisah seperti itu seperti bomerang yang menghantam diri sendiri.
Karena dihadapan umat telah tampak suatu fenomena ada Kiai yang menanyakan
adanya dana, tidak sekedar menanyakan tetapi menginginkannya dan itu bertentangan
dengan cerita-cerita yang seharusnya tidak ia sampaikan.
Tegalwangi, 24 September 2021
APH

Post a Comment for "Pak Kiai dan Chanelnya"