Pertimbangan yang Dipikirkan Orang untuk Berangkat Tahlilan

 

tahlilan

Pertimbangan yang Dipikirkan Orang untuk Berangkat Tahlilan

Pertimbangan geografis, ekonomis, sosial selalu menjadi acuan dalam berbagai hal dan persoalan kehidupan yang menyertai. Termasuk dalam kaitannya tahlil, kegiatan keagamaan warga NU untuk mendoakan warganya yang meninggal. Merupakan bentuk doa dan pengejawantahan iman. Seperti kita ketahui sendiri tahlil berarti peneguhan didalam hati dalam ucapan tiada Tuhan selain Allah. Sedangkan tahlilan berarti menunjuk kepada aktifitas tersebut yang dilakukan secara berjama’ah dengan massa yang banyak.

Kekompakan warga NU tanpa harus diberi komando khusus layaknya militer, sudah menjadi budaya yang turun temurun dari nenek moyang hingga cucu dan terus berlanjut. Mereka dengan spontanitas akan hadir sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh tuan rumah, bisa setelah magrib, isya' atau setelah asar. Kegiatan ini hanya dilakukan oleh warga NU, diluar NU mereka yang berafiliasi dengan organisasi lain secara struktural, tanpa harus disebut, tetapi ingin melaksanakan do’a kepada keluarga yang telah meninggal, terkadang pula juga diadakan tahlil.  

Kedatangan para jama’ah dikediaman shohibul bait untuk memilih tempat membaca Yasin, tahlil dan merapalkan “amiin” dalam do’a menjadi kebebasan dan terserah mereka sendiri dimanapun berada. Ada yang mengambil tempat sesuai dengan apa yang telah dipersiapkan tuan rumah, di terpal, karpet yang dihampar di pelataran depan rumah. Ada yang mengambil posisi dirumah tetangga orang yang bersangkutan, sekalipun kadang rumah tuan rumah masih terasa luas. Ya namanya aja terserah dan tidak ada komando khusus sah-sah saja, kehadiran mereka di manapun merupakan kehormatan bagi tuan rumah.Alasan mengambil tempat dengan cara seperti itu, jelas dengan pertimbangan geografis. Bagaimana tata letak posisi rumah dan apa saja fasilitas yang menyertai untuk dijadikan himpunan atau kumpulan massa aksi tahlil.

Selain itu ada pula pertimbangan lain yang bisa dijadikan acuan dan merubah pola pikir yang akhirnya menghasilkan suatu sudut pandang dalam kehadiran di acara tahlilan, yaitu sosial. Memang kegiatan tahlilan adalah bentuk partisipasi sosial keagamaan, tetapi terkadang hanya beberapa gelintir orang saja yang berjiwa sosial akan hadir ke acara-acara tersebut. Orang yang tidak demikian, bersifat individualis, akan hadir jika mempunyai pertimbangan lain, semisal saudara, tetangga dekat, teman akrab, atau karena orang tersebut yang menghadiri menyempatkan untuk hadir karena akan nyaleg atau mencalonkan jadi kepala desa.

Orang berjiwa sosial tidak akan membutuhkan alasan-alasan seperti itu untuk hadir. Apalagi orang yang mendasarkan kehadiran dengan dasar keimanan, bahkan apapun yang merintangi termasuk ketika sedang bermusuhan dengan keluarga yang bersangkutan, ia akan tetap hadir. Menarik sekali orang seperti ini dan langka pastinya. Dimana jwa sosialnya dibangun atas dasar keimanan itu sendiri bukan berlandaskan kesadaran akan dirinya sebagai makhluk yang tidak bisa hidup secara sendiri-sendiri dan membutuhkan orang lain. Jadi ada beberapa tingkatan jiwa yang mendasari orang untuk mempunyai motivasi berangkat tahlil.

Terakhir, sebagai pertimbangan adalah ekonomi. Dimaksudkan apabila yang terkena musibah adalah orang kaya maka jelas akan membludak dan banjir jama’ah yang akan datang. Entah karena kalau orang kaya secara geografis pasti mempunyai lahan yang dapat menampung orang banyak, kalau orang kaya yang dermawan mempunyai bakti sosial yang tak terhitung, atau kalau orang kaya akan menyajikan menu makanan yang menggugah selera. Orang kaya selalu unggul dalam berbagai hal didunia ini, oleh karenanya sangat membuka kemungkinan ia menjadi magnet untuk didatangi oleh massa yang banyak.

Motivasi terakhir ini sangat miris apabila dijadikan pegangan, bagaimana tidak? secara tidak langsung ia hendak menjual bacaan-bacaan yasin dan tahlil dengan sepiring nasi.Untuk karena itu, sebaiknya bagi orang-orang baik yang mendasarkan jiwa sosialnya berdasarkan iman atau seminimal mungkin berdasarkan rasa solidaritas maka akan tetap hadir di manapun dan siapapun orangnya tanpa melihat dan berimajinasi apa yang disuguhkan dalam piringan nasi, bentuk dan tata letak rumahnya.

Tegalwangi, 24, September 2021

APH

Post a Comment for "Pertimbangan yang Dipikirkan Orang untuk Berangkat Tahlilan"