Politik Tingkat Tinggi Pak RT
Sebagai seorang pimpinan terendah
dalam pemerintahahan RI, Pak RT tidak perlu minder dan merasa tidak berguna,
seolah ia hanya sekedar suruhan pak RW saja. Melainkan ia harus dan mempunyai
cara pandang bahwa menjabat dan mengendalikan adalah dua persoalan yang berbeda
secara serius. Mengetahui makna dibalik dua istilah tersebut akan membuatnya mengerti
apa yang harus dilakukan setelah itu, tidak hanya berprofesi sebagai kacung
saja tetapi ada yang lain.
Bahwa menjabat adalah sekedar
status sosial saja, ia berhak menandatangani dan membubuhkan stempel diatas
tanda tangannya tiap kali ada warga yang berkepentingan. Tetapi mengendalikan
adalah karakter dan kepiawaian khusus dimana mulut selalu dinanti cuap-cuapnya
oleh mereka yang memerlukan arahan atau masukan, sedangkan ia sendiri hanya
duduk diatas kursi bersandar menghadap kedepan dengan kepulan asap rokok..
Bagaimana menjadikan orang mendengar, yakin dan kemudian lanjut bertindak
adalah bentuk pengendalian yang tanpa harus mengenal jabatan.
Seorang RT apakah bisa seperti itu?
Bukannya ia adalah sasaran dari pengendalian tanpa harus mengerti lor-kidul.
Memang sepertinya begitu. Seorang Pak RT harus tidak berfikir seperti itu,
tidak mengandalkan jabatannya tetapi lebih kepada melakukan pengendalian. Oleh karenanya
ada beberapa tahapan dan termasuk watak juga sikap yang harus dimiliki dan
dijalankan.
Pertama kali ia akan berhadapan
dengan status sosialnya, Pak RT, ia harus sadar itu. Terkadang jabatan malah
membuatnya tak berguna, ketika ada orang yang meminta bantuan, dengan mengatasnamakan
"Pak RT, tolong dong pak". Berkuasa adalah soal mengendalikan, bukan
menjabat. Ini yang mesti dimengerti. Ketika jabatan justru menjadikannya
dikendalikan, berarti ia tidak benar-benar berkuasa. Supaya dapat mengendalikan
dengan sungguh, maka ada beberapa point yang harus Pak RT mengerti dan
laksanakan.
Pertama, peta sosial. Pak RT
selayaknya mengerti kalau dunia sosialnya ada beberapa agen yang terhampar
ditengah masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh nasional, tokoh ekonomi,
tokoh preman, tokoh pemuda, tokoh emak-emak, dan silahkan menyesuaikan
sendiri keberadaan tokoh yang berpengaruh dimasyarakat. Selain itu ia harus
paham karakter para pejabat dalam struktur pemerintahan, mulai dari RW, Kasun,
perangkat desa dan Kepala Desa tempat ia tinggal.
Ketika pak RT sudah mengerti peta
sosial, tidak sekedar status saja melainkan kecenderungan, hobi, cara berpikir,
keberpihakan dan sebaginya yang menjurus kepada individualisme masing-masing
orang. Maka yang harus ia lakukan adalah bagaimana melakukan pendekatan
persuasif kepada mereka, sampai kemudian ada ruang didalam hatinya untuk posisi
seorang Pak RT dan bagaimana menciptakan pengaruh dalam sifat ketergantungan
mereka untuk selalu membutuhkan pendapat dari pak RT.
Ini bukan hal yang mudah, maka
pak RT harus pandai-pandai berwacana yang sekiranya masuk akal sekali, cara
pembawaan dari penyampaiannya harus mengena dilubuk hati mereka. Dari sini
sangat menggantungkan kepiawaian retorika, yang jelas bukan mengumbar khayalan,
tatapan masa depan, gaya bahasa apalagi jangan sampai mencomot ide dari
internet, sekalipun terlihat masuk akal tetapi belum tentu melibatkan emosi
orang-orang itu. Emosi penting, karena darinya siapapun akan cenderung untuk
tidak menggunakan akalnya, ketika orang tidak mempunyai pertimbangan maka
sangat mudah untuk diajak kemanapun.
Maka bahan yang dibutuhkan oleh
Pak RT dalam hal ini adalah pengalaman yang benar-benar otentik didapat dari
pergaulan sehari-hari, kalau mau jadi pak RT yang berpengaruh maka ia harus
sering terjun dan bergumul dengan siapapun, tidak ikut arus melainkan membaca
lingkungan sampai akhirnya dipersiapkan untuk mengarahkan arus itu sendiri
Ketika semua orang merasa
menerimanya, maka langkah awal sedang berjalan, tetap sabar, santai dan jangan
terburu-buru, sering evaluasi diri dalam setiap kondisi, Dimana dan bagaimana
kondisi akan menentukan apa yang semestinya diucapkan. Terus begitu.
Kedua, sering berada didepan
dalam dua macam, kontribusi sosial, bentuknya bisa dana atau tenaga, dan
kontribusi pemikiran lebih-lebih dalam rapat desa atau dusun yang sekiranya
tampak oleh orang banyak Pak RT harus menjadi vokalis dalam arti sering angkat
tangan untuk bicara. Jadi bergerak aktif, sehingga tampak sering kali
terpandang oleh orang banyak dalam berbagai macam aktifitas. Tentu saja modal
yang dimiliki adalah berdasarkan pada pandai berwacana yang mampu mempengaruhi
orang lain.
Dalam menghadapi orang banyak,
utamakan untuk tidak terlalu kelihatan hasrat akan sesuatu secara berlebihan
karena akan mengurangi wibawa yang menjurus kepada berkurangnya pengaruh. Serta
jauhi pertikaian sekalipun berada di posisi yang benar, karena pertentangan
benar melawan salah akan menampilkan watak yang kurang bijaksana. Oleh
karenanya pak RT harus memilih kebijaksanaan daripada kebenaran. Apabila
terjadi gesekan yang tak terhindarkan cepat-cepat melakukan konsolidasi dengan pihak
terkait dan lagi-lagi sering-sering mendominasi wacana, jangan sampai mereka mengambil
kesimpulan sesuai sudut pandangnya sendiri.
Akhirnya Pak RT, sampai disini
dapat disimpulkan adalah seorang inisiator, pemikir, teguh pendirian, solutif,
aktivis, rela berkorban, berkawan, mampu menumpahkan kebersamaan dengan segala
pihak, mempengaruhi bukan dipengaruhi.
Terakhir atau yang ketiga, adalah berkaitan waktu tempuh akan hal itu
semua. Jelas bukan waktu yang sedikit tidak bisa dipastikan dengan hitungan
tahun, melainkan dengan cara evaluasi terhadap respon lingkungan. Kategorinya
adalah Pak RT bisa mengendalikan tidak sekedar mempunyai wilayah kekuasaan yang
terdiri dari beberapa rumah saja. Pengendalian bisa dikatakan berfungsi apabila
pak RW, Kasun, tokoh masyarakat, bahkan Pak Kades, dan semua orang yang mempunyai
kepentingan meminta pertimbangannya tanpa harus melihat jabatan melainkan wujud
sejati dari seorang manusia penguasa RT itu. Silahkan bayangkan, apabila
nyatanya ada masalah tingkat nasional tetapi diselesaikan di rumah Pak RT,
dengan kata lain diselesaikan ditingkat RT.
Maka saat itu, Sekalipun hanya RT
ia sungguh-sungguh telah berkuasa dengan caranya yang menarik. Perlu diingat
kalau berkuasa adalah siapa bebas melakukan apa tanpa ada keterkaitan dengan
apapun dan tuntutan pertimbangan dari siapapun, bukan siapa yang menduduki apa
atau berada dipuncak mana.
Tegalwangi, 09 September 2021
APH

Post a Comment for "Politik Tingkat Tinggi Pak RT"