Tokoh



 Tokoh

Jika dilihat dengan menggunakan kategori status sosial yang beredar dan terhampar ditengah-tengah masyarakat, maka kita akan mendapati beberapa macam tokoh. Sesuai dengan pengaruh dan bidangnya.

Orang berilmu agama mendapatkan kepercayaan untuk memimpin suatu kegitan ritual peribadatan ditengah masyarakat maka ia akan disebut sebagai tokoh agama. Orang terpandang dikalangan pemuda menjadi icon para pemuda didelegasikan sebagi wakil atas nama pemuda, maka ia disebut sebagai tokoh pemuda.

Orang dengan bergelimpangan harta, dikelilingi oleh beragam usaha, sering didatangi orang untuk menjadikannya donatur. Memperkerjakan banyak orang yang bergantung padanya, maka ia akan disebut sebagai tokoh ekonomi.

Orang terpandang dengan keberaniannya sering menerobos sistem keamanan lingkungan, disegani orang lain yang sejenis atau bukan karena sebenarnya takut akan tindakan-tindakan nya, maka orang tersebut menyandang gelar sebagai tokoh preman.

Orang dengan ketenarannya sebagai panutan dikalangan masyarakat banyak tetapi masuk dalam golongan yang dirasa bukan dari kalangan Agamawan, ia sendiri jelas beragama, tetapi tidak menonjolkan identitas keagamaannya, beragamanya biasa-biasa saja, ia didapuk oleh kalangan Abangan sebagai tokoh, maka ketokohan yang ribet definisinya seperti ini disebut sebagai tokoh nasionalis. Secara nasab sosial dan keberpihakan ia akan menjurus ke atas dalam barisan yang dihadapkan kepada barisan agama, bukan dalam pertentangan, melainkan dalam perbedaan yang membentuk identitas didalam masyarakat.

Seorang yang mewakili Suara ibu-ibu atau perempuan, memberikan pengaruh dan menampung keluh kesah dalam masalah dapur, rumah, anak dan segala atribut keperempuanan ditengah masyarakat maka disebut sebagai tokoh emak-emak.

Mungkin itu garis besar dari macam-macam tokoh di masyarakat yang kemudian memberikan tokoh turunan, seperti tokoh agama menurunkan tokoh NU atau Muhammadiyah sebagai ormas keagamaan. Tokoh nasionalis, menurunkan tokoh partai politik. Garis besar tokoh-tokoh tersebut juga bisa melahirkan tokoh turunan sesukanya, sesuai apa yang digeluti atau tempat ia berproses dalam kelembagaan.

Dari kriteria para tokoh, mereka bisa disebut tokoh apabila mempunyai beberapa identitas, diantaranya kepercayaan orang, menonjol, berpengaruh, mempunyai sifat kepemimpinan dan diikuti orang orang-orang yang nantinya akan menyebut ia sebagai tokoh. Tanpa ada orang yang menyebutnya sebagai tokoh maka sama saja ia bukan apa-apa, jadi ketokohan didapat dari orang lain bukan dari apa yang ada pada diri sendiri. Ketika orang lain telah bosan untuk menyebut sebagai tokoh, maka kala itu ia dengan sendirinya telah dicopot jabatannya.

Orang-orang yang dapat mempengaruhi kerumunan masa kare ketokohannya inilah yang kemudian menjadi ajang atau wahana untuk mendapatkan massa. Tidak sekedar ketika ada pilihan umum, dari ketua RT sampai Presiden, tetapi juga ketika ada kegiatan yang sifatnya sosial, seperti kerja bakti, membangun irigasi air, pos kamling, santunan, pengajian dan sebagainya. Tokoh dibutuhkan agar kegiatan tersebut tampak berwibawa. Sehingga kesan yang ingin dicari, “tokoh agamanya aja ikut masak kita enggak”, dengan kata lain untuk menarik perhatian mereka yang percaya akan ketokohannya itu.

Terkhusus untuk kontestasi politik, jelas sekali tokoh sangat dimanfaatkan ketokohannya oleh mereka yang mencari peluang dalam jabatan. Karena akibat dari ketokohannya itu bisa dengan mudah menanamkan kepercayaan dihati orang banyak, lebih-lebih kalau dirinya tidak laku. Kadang orang awam yang sukar membedakan mana selatan dan utara, akan mengambil sikap “ikut pak kyai aja, atau ikut pak anu itu aja”. Dalam pemilihan umum rasa antara orang awam dan berkaliber tokoh akan bernilai sama, ketika mampu menjerat seorang tokoh agar berpihak pada dirinya sebenarnya ia tidak memperoleh satu suara, melainkan banyak suara dari mereka yang percaya kepadanya.

Oleh karena itu seorang tokoh harus berhati-hati ketika berpihak kepada seseorang, untung-untung jika keberpihakannya adalah memang murni dari nalurinya bukan karena adanya sesuatu. Kalau bisa seorang tokoh adalah seorang yang mana keberpihakannya tidak bisa dibayar oleh apapun. Ketika ia salah dalam berpihak, bisa jadi nilai ketokohannya akan hancur dimata penggemarnya. Seorang tokoh preman bisa akan turun jabatan, tidak diakui kepremanannya, tokoh agama tidak lagi diikuti oleh jama’ahnya, tokoh pemuda tidak lagi diikut oleh pemuda dan selanjutnya.  

Tegalwangi, 10-09-2021

APH

Post a Comment for "Tokoh"