Punya Uang, Pilih Kuliah atau Beli Buku?

 


Punya Uang, Pilih Kuliah atau Beli Buku?

Judul seperti itu sebagai suatu pilihan, tidak menjadi milik semua orang kecuali yang bernafaskan akademis saja, entah dalam bentuknya yang sejati atau hanya sekedar sensasi. Karena orang yang berpikir identitas pasti tidak akan memilih buku. Orang yang kaya tidak harus mendapatkan pilihan semacam itu, karena pasti akan memilih kedua-duanya atau salah satunya saja, tergantung jati dirinya. Ia bermental akademis atau bukan. Menjadi kondisi yang cukup dilematis bagi mereka yang bermental akademis, sadar tuntutan zaman sekarang dan mempunyai sedikit dana.

Persoalan sebenarnya berawal dari dunia pendidikan kita, di Indonesia. Seperti kita ketahui, bahwa hanya orang kaya yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Semakin tinggi maka biaya yang dikeluarkan juga harus tambah banyak dan suatu keinginan untuk dapat mencapainya seolah adalah penderitaan, sebab ada rasa ingin tetapi tidak tercapai. Kodisi seperti ini telah diucapkan oleh judul sebuah buku, “Orang Miskin Dilarang Sekolah”, karangan Eko Prasetyo.

Berbicara mengenai posisi dilematis milik orang berdana kecil tetapi ingin kedua-duanya, maka tidak ada pilihan lain kecuali hanya dapat pilih salah satu saja. Kuliah atau beli buku? Sebenarnya orang yang kuliah nanti juga harus beli buku, tetapi orang yang beli buku tidak kuliah adalah cerminan dari mereka yang ingin kuliah. Jika memang demikian masalahnya, untuk memilih salah satu saja. Ia bisa bisa membuat pertimbangan, seperti ini.

Kalau pilih beli buku tidak kuliah, maka harus mempersiapkan mental, jangan berpikir apa guna baca buku jika tidak dapat kerja, tidak dikenal orang, tidak mendapatkan title. Berpikirlah yang waras, semisal dengan menggunakan perumpamaan orang yang hobi mancing, ia akan tetap dan terus saja mancing sekalipun tidak ada hasil. Karena memancing itu sendiri yang disukai.

Begitu juga dengan orang yang beli buku, pastinya untuk dibaca. Sekalipun tidak ada imbas pada tatanan ekonomi dan jabatan pekerjaan. Beli buku dan membacanya sudah menghasilkan sesuatu, yaitu pengetahuan dan perawatan kepada akal pikiran. Bahkan itu adalah ikannya. Sedangkan untuk pekerjaan bisa dicari tidak harus mengandalkan ijazah, tetapi memang dengan menggunakan kapasitas diri. Modal utama orang semacam ini adalah yakin secara penuh terhadap dirinya sendiri, termasuk dengan pengetahuan yang selama ini diperoleh tanpa harus melibatkan pengakuan dari pihak luar.

Apabila seseorang menggunakan dananya yang sedikit untuk kuliah. Dalam arti menabung sedikit demi sedikit, selama menabung ia tidak gunakan untuk beli buku, karena pilihannya ini. Maka orang semacam ini harus mempertimbangkan kalau kuliah tidak mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi keinginannya untuk tahu salah satunya adalah dengan rajin membaca buku harus tetap terpenuhi. Karena uang sedang dipersiapkan untuk bayar semester depan, tidak ada anggaran beli buku. Ia bisa rajin-rajin pinjam buku ke perpustakaan, hanya saja sensasi pinjam dan beli untuk dipunyai sendiri berbeda sekali, kalau pinjam hati tidak bisa tenang membaca, karena teringat masa jatuh tempo pengembalian dan rasa tanggungjawab untuk menyelesaikan tidak seperti kalau punya sendiri.

Selain itu jangan percaya kepada masa depan yang digantungkan pada selembar ijazah dan title kesarjanaan. Hanya saja kalau orang menjadi sarjana akan dipandang terhormat. Orang lain tidak akan meragukan kapasitas keilmuannya sekalipun belum diperlihatkan atau bahkan tidak ada. Berbeda dengan orang yang bukan sarjana, apabila ia tidak kaya maka seluruh omongannya dianggap kosong dan tidak berguna sama sekali, sekalipun penuh ilmu. Kebanyakan orang melihat dari bungkusnya saja bukan isinya. Itu memang watak publik kita hari ini. Menjadi tugas yang harus dikerjakan oleh peradaban dan kebudayaan kita adalah bagaimana supaya orang yang bukan sarjana tetapi berilmu mendapatkan penghargaan Dimata publik. Sedangkan tugas negara yang juga harus segera diselesaikan adalah bagaimana supaya orang tidak berduit tetapi berkarakter dan gemar kepada pengetahuan mendapatkan layanan pendidikan yang ditawarkan oleh negara tanpa ribet-ribet memikirkan dana yang banyak, hanya bermodal mau saja dan tekad yang baik, bukan keterangan miskin dari desa.

Tegalwangi, 20-09-2021

APH

Post a Comment for "Punya Uang, Pilih Kuliah atau Beli Buku?"