Uang
“Uang adalah segalanya”, kata itu
terucap oleh mereka yang tidak beruang. Karena hampir hari-hari nya selalu
dituntut oleh kebutuhan yang hanya dapat dibeli dengan menggunakan uang.
Sehingga menjadi kebiasaan dalam alam pikirnya bahwa apapun tercapai dengan
menggunakan uang. Mulai dari sesuatu yang berbentuk fisik, seperti makanan dan
rumah sampai non-fisik seperti jabatan. Jadi kalau orang tidak beruang ketika
melihat seorang memperoleh jabatan, ia akan mengatakan "karena modalnya
banyak, ya pantas saja, coba jika gak punya uang, dia gak akan bisa
apa-apa".
Sudut pandang tersebut ternyata
juga dimiliki oleh mereka yang beruang. Karena selalu terdidik dalam melihat
sesuatu dengan uang maka ia pun juga berpikir, bahwa uang adalah segalanya. Semangat
dan motivasi hidupnya didedikasikan untuk uang, dari uang dan oleh uang. Dari kebiasaan
segalanya harus beruang maka tak ayal apabila orang jenis tersebut usianya
dihabiskan demi memburu rupiah, dollar dsb.
Dalam kacamata yang lain, ada
pula yang mengatakan"uang bukan segalanya" karena ia sendiri
merasakan bahwa uang yang dimilikinya nyatanya tidak bisa membeli kesehatan.
Sekalipun bisa membeli makanan sehat tetapi, obat-obatan, segala macam
perlakuan medis yang istimewa agar memperoleh kualitas kesehatan tertinggi, tetapi
tidak dapat digunakan untuk memperoleh kesehatan yang dirasakan oleh tubuh. Ia sadar
betul bahwa akses kehidupan dapat dilalui dengan menggunakan uang, tetapi hanya
sekedar akses bukan sampai kepada tujuan. Uang hanya mencerahkan cara tetapi
yang cerah belum tentu tidak memungkinkan terdapat badai. Orang seperti ini
sedikit, jika ada sebentar saja akan tergerus dalam gelombang dan terjerembab
dengan cara berpikir berbasis “segalanya harus ber-uang”.
Dua model tersebut, bukan arti
dalam bentuk nyatanya. Seperti kalau ber-uang berarti saldo direkeningnya
berangka tinggi. Kalau tidak ber-uang berarti tidak ada saldo sedikitpun. Mendapatkan
uang sekarang habis sekarang. Besok adalah apa katanya besok, sedangkan yang
dimaksud adalah mentalitasnya.
Orang dengan mentalitas ber-uang
akan cenderung jika punya uang ia tidak bangga, jika tidak punya juga tidak
sedih. Karena yang diinginkan adalah kebutuhan bukan angan-angan dari balik
lembaran uang. Mentalitas orang tidak beruang, ia cenderung akan kurang
sekalipun uangnya bertumpuk-tumpuk. Karena uangnya tidak bisa memenuhi
imajinasinya yang tak terbatas. Ia hidup dalam alur dan dunia imajinatif akan
dunia nyata ini, bukan sebaliknya, ia menghadapi kenyataan dan ingin merubahnya
dengan imajinasinya.
Dalam kesadaran hari ini dan
sampai kapanpun uang sangat penting, kita letakkan sebentar membahas tentang
mentalitas seseorang dihadapan uang. Karena benda tersebut tanpa harus ada
perdebatan ia bisa membeli kebutuhan orang banyak. Bahkan hari-hari ini uang
dapat membeli kecerdasan. Seperti begini, seseorang yang nakal dan bodoh
bahkan, tetapi punya orang tua kaya raya. Ia bisa minta dibelikan pengakuan
sebagai orang terdidik, secara sederhana buat banner sebesar mungkin dan
sebanyak mungkin, beri foto dan nama lalu tinggal bubuhi S.Pd, S.Ag, S.E dan
lain sebagainya. Orang yang melek huruf akan mengira "wah sarjana"
berarti mempunyai segenap ilmu pengetahuan, pandai dan pintar.
Model tersebutlah yang lebih
efisien, daripada coba-coba membeli ijazah tanpa harus sekolah dan ujian. Karena
ijazah tidak pernah diketahui orang, sedangkan yang diinginkan adalah diketahui
orang banyak bahwa ia adalah termasuk golongan cerdik-cendekia. Jika suatu hari
ada seorang yang mengutarakan masalah, maka ia pun akan segera
menyelesaikannya, tetapi tidak dengan pengetahuan, pengalaman, kecerdasan
apalagi kebijaksanaan, tetapi dengan menggunakan uang sebagai ganti itu semua,
semisal si A bersengketa dengan si B, orang kaya tinggal manggil keduanya dan
beberapa oknum terkait termasuk lembaga pemerintahan, ia jamu dirumahnya,
berbicara ngalor-ngidul dengan niat baik, seluruh orang pasti terkesima
dengan wibawa orang yang ber-uang. Akhirnya masalah dihadapi, entah selesai
atau tidak, setidaknya orang kaya akan punya point. Kalau orang tidak ber-uang
akan disebut “cuma omong doang”. Manakala ia sedang menyampaikan segala
pengetahuannya yang memang benar-benar nyata.
Orang ber-uang juga bisa membeli
status peribadatan "Haji atau Hajah", dan pastinya memang berangkat
benar ke tanah suci, mengelilingi Ka'bah, melempar jumroh, wukuf dan semua
bentuk ritual haji. Pulang langsung dimintai do'a. Jika tidak hafal bisa searching
di Google jika tidak fasih bacanya bisa sok tertunduk khusyu' mengingat
lafadz terdepan dan lafadz paling belakang. Selesai sudah. Ia telah menyandang
nama terpandang "pak kaji". Orang berilmu tetapi tidak berduit tidak
akan terlihat terhormat. Orang lain akan menganggap lagi-lagi “omong doang”,
buktinya gak ada amalnya kosong.
Begitulah, uang menyebabkan rasa dalam
bentuknya paling sejati hampir punah. Bagaimana tidak jika segalanya seolah
bisa tergantikan dengan uang, akhirnya segalanya pun juga bertujuan untuk uang.
Yang tidak uang minggir dulu. Ocehan tidak menyebabkan kenyang juga tidak dapat
membeli hari esok. Seperti inilah dunia kita terlipat didalam dompet dan
terpampang sebaris didalam rekening. Akhirnya kita pun juga didesak untuk
mengatakan dan mengakui bahwa “segalanya membutuhkan uang”, sekalipun hati
kecil akan sedikit beriak-riak menolak akan hal tersebut.
Tegalwangi, 07-09-2021

Post a Comment for "Uang"