3 Macam Kelas Sosial Penyelenggara Tahlilan Dilihat dari Suguhan Rokoknya

 


3 Macam Kelas Sosial Penyelenggara Tahlilan Dilihat dari Suguhan Rokoknya

Untuk mengetahui kelas sosial penyelenggara tidak bisa hanya dilihat dari suguhan yang diberikan. Suguhan yang diberikan itu random dan tidak terukur. Apalagi dari berkatannya hampir sama karena dalam berkatan item wajib adalah kue apem dan ini memang ajaran Walisongo.

Sejak SMA saya sudah diajarkan untuk mengikuti tahlilan, saya ditugaskan untuk mewakili menghadiri undangan  tahlilan dari sang penyelenggara atau shohibul hajah. Tentu karena masih muda dan belum punya status sosial yang tinggi maka tempat saya adalah di halaman rumah, berkumpul dengan kawan seumuran lain dan orang-orang biasa bin sederhana. Tempat duduk tahlilan bukan berdasarkan nomor urut seperti antre sembako, bukan juga pakai asas siapa cepat dia dapat, tapi, pakai asas kelas sosial. Orang yang mumpuni dalam hal agama, sesepuh desa dan punya status sosial tinggi akan ditempatkan di ruang tamu sedangkan, orang seperti saya dan para brandalan desa akan dibiarkan berserakan di halaman.

Mungkin ada yang menganggap itu tidak adil karena mengklasifikasikan sesuai kelas sosial, namun sebenarnya hal tersebut sudah memenuhi prinsip keadilan, karena keadilan bukan kesamaan timbangan tapi menempatkan sesuatu di tempat yang tepat. Meski tahlilan outdoor pahalanya akan sama kok sama yang indoor, pun dengan berkatannya.

Kali ini akan saya coba paparkan sebenarnya apa sih aspek yang bisa dijadikan acuan dalam menentukan kelas sosial penyelenggara tahlilan. Apakah suguhannya atau aspek lain, jika kita hanya mengambil satu aspek yakni suguhannya, saya rasa masih debatable pasalnya dalam tahlilan, suguhan setiap rumah hampir sama baik yang punya kelas sosial yang rendah maupun tinggi. Terutama kacang rebus, kacang adalah suguhan paling relevan disajikan saat tahlilan, kacang tidak memandang status social, tetapi memandang kebiasaan daerah tersebut.

Hal ini yang saya temukan dalam setiap adat atau kebiasaan, orang yang masih muda (awam) akan menanyakan kepada yang lebih tua tentang bagaimana menjalankan adat dan kebiasaan di daerah tersebut istilahnya ‘manut mbah-mbahe’ karena di Jawa terkenal istilah ‘deso mowo coro’ yang artinya desa memiliki adat. Ya, tahu sendiri kan kalo kita salah dalam bertindak terutama di desa seketika itu akan jadi trending #1 perghibahan di desa meskipun hanya karena hal sepele.

Hal yang paling mudah dan terukur sebenarnya hanya dengan melihat rokok apa yang diberikan pihak penyelenggara tahlilan, saya rasa hal ini lebih bisa terukur ketimbang hanya dari suguhannya saja.

#1 Kelas Sosial Menengah ke bawah

Cara mudah mengetahui pihak penyelenggara tahlilan itu dari kelas sosial apa? bisa dilihat dari rokoknya. Jika rokoknya adalah Grendel atau Mlindjo filter yang harganya kisaran 12.000-an setara dengan A1 atau Toppas kalo di Jember selain itu ada lagi rokok premium harga pertalite yang bisa jadi opsi memenuhi syarat tahlilan, rokok ini menjadi alternatif bagi kelas menengah ke bawah jika ingin menyuguhkan rokok dengan harga terjangkau, karena jika penyelenggara menyuguhkan rokok dengan harga di bawah harga Mlindjo atau Grendel dianggap tidak sopan dan tentunya akan trending , memang repot sama orang-orang yang punya kecepatan cahaya dalam soal maido.

#2 Kelas Sosial Menengah

Berbeda dengan kelas sosial menengah  ke bawah, pada kelas ini punya rokok andalan yakni Surya 12. Pada kelas ini adalah kelas aman dari zona gelap per-paido-an, pasalnya rokok Surya punya pangagumnya sendiri, rokok tanpa sekat umur tua maupun muda sangat welcome dengan rokok ini, habis makan kurang lengkap rasanya tanpa kacang garuda rokok surya, sampai-sampai lahir parikan ‘preman bacok’an, mari mangan rokok’an’ maka tak heran banyak yang memilih rokok ini dalam pelengkap berkatan tahlilan.

#3 Kelas Sosial Menengah ke atas

Terakhir, pada kelas ini rokok yang disuguhkan ialah rokok Sampoerna Mild, rokok ini punya kalangan sendiri dan biasanya mudah diidentifikasi, begitu juga jika dijadikan sebagai pelengkap dalam berkatan tahlilan, rokok ini mengisyaraktkan bahwa penyelenggara tahlilan bukan orang biasa dan mempunyai kelas sosial yang tinggi kalo tidak pejabat ya konglomerat, dengan harga kisaran 25.000-an rokok ini sangat relevan jika diasosiasiakan dengan kelas sosial menengah ke atas.

Orang NU kurang lengkap rasanya jika tidak disandingkan dengan rokok, guyonan ‘NU Smoking’ adalah salah satu bukti orang NU tidak bisa dilepaskan dari rokok, begitu juga dengan tradisi tahlilannya rokok adalah elemen yang musti ada dan tidak bisa tergantikan baik dengan vape ataupun sisa, ya mana mungkin mau nyediain vape kepada semua undangan, yo rugi bandare.

M. Rizal Firdaus

 

Post a Comment for " 3 Macam Kelas Sosial Penyelenggara Tahlilan Dilihat dari Suguhan Rokoknya"