“Ada” yang Sejati: Jiwa dan Tubuh menurut Descartes dan Plato
Rene Descartes mengatakan bahwa
tubuh lebih dominan. Sedangkan Plato, jiwa lah yang lebih dominan daripada
tubuh. Keduanya sama-sama berprinsip adanya dua kategori dalam diri manusia. Hanya
saja memberikan tekanan pada aspek yang berbeda. Kalau bagi Descartes tubuh
manusia layaknya mesin. Sakit berarti ada kesalahan mekanik pada tubuh. Bagi Plato
tubuh adalah replika dari jiwa. Tubuh yang garang, lunglai, lemah, kuat
merupakan bentuk dari jiwa itu sendiri. Tubuh adalah palsu, jiwa abadi. Akibatnya
seorang pematung yang mencari inspirasinya dari dunia, sebenarnya ia sedang
membuat kepalsuan dari bentuk yang palsu pula. Palsu kuadrat.
Lepas dari pendapat keduanya,
kalau mau mencari keaslian yang memang benar-benar asli dari diri manusia. Sepertinya
sangat sulit, tetapi setidaknya kita bisa menengok pada sebuah ayat dalam
Al-Qur’an, ketika Allah swt berfirman:”tidak kah aku adalah Tuhan mu? Iya kami
bersaksi”. Pada ayat tersebut, sebelum manusia terlahir ke dunia dengan beragam
bentuk sifat, akhlak dan iman. Seluruh umat manusia telah bersaksi akan keesaan
Allah swt. Yang jelas pada waktu itu, kita sebagai manusia tidaklah membawa
perangkat tubuh, tetapi jiwa.
Setelah terlahir ke alam dunia,
maka takdir sebagai manusia mengharuskan mereka untuk melengkapi akses
kehidupan dengan cara mematuhi hukum alam dunia. Tubuh menjadi niscaya dan
tampak dominan. Pengetahuan apapun di alam Azali tidak sedikitpun kita ingat. Bahkan
persaksian tersebut. Kita tahu karena Allah swt membocorkannya melalui wahyu
kepada Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, apa saja yang terjadi disana hari
ini kita tidak pernah mengetahuinya.
Manusia terlahir didunia dalam
keadaan layaknya kertas kosong, tabula rasa. Pengalaman di alam azali tidak
sedikitpun diingat. Akibatnya tidak satupun pengetahuan yang dimiliki untuk
digunakan sebagai bekal di alam dunia ini. Seseorang harus memulainya dari nol.
Kesadaran pertama yang harus dimiliki dari kehidupan dunia adalah kesadaran
kebertubuhan itu sendiri. Ketika kita menutup mata maka akan terasa gelap. Kenapa?
Karena akses dunia ini bisa terjadi dengan menggunakan fasilitas tubuh. Jiwa yang
bersemayam pada tubuh tidak bisa melihat bentuk, motif dan ukiran duniawi. Dunia
tidak relevan dengan jiwa, harus menggantungkan pada tubuh. Sampai disini Rene
Descartes sepertinya benar.
Sayangnya tubuh mempunyai
keterbatasan, ia tidak mampu mengakses hal-hal diluar prinsip keduniaan. Selain
itu, ketika tubuh telah rusak dalam arti mekanik. Beberapa organ, jantung,
paru-paru, ginjal, syaraf, otak dan sebagainya tidak berfungsi. Sehingga kelangsungan
kehidupan terganggu, maka kehidupan dunia berakhir dengan berakhirnya tubuh itu
sendiri. Semuanya kembali sesuai prinsip hukum alam. Dimana didalam tubuh
terdapat protein, kalsium dan zat-zat lainnya yang juga sama ada ditanah,
dibatang pohon, di air. Semuanya adalah hal dari bumi dan kembali ke bumi.
Masalah selanjutnya, apakah kehidupan
manusia sedang berakhir? Tidak. Sebagaimana dulu manusia telah diadakan sebelum
di dunia fana ini. Maka setelah di dunia fana ini pun kehidupan masih
berlangsung. Kehidupan setelah kematian. Bersama jiwa yang abadi. Ia bebas. Tidak
tunduk dan tergantung pada tubuh lagi. Untuk memberikan penjelasan yang
sekiranya mudah dalam konteks ini. Kita bisa melihat lirik dari soundtrack film
Habibi-Ainun. Mengisahkan kisah cinta presiden BJ Habibi dengan istrinya. Terdapat
sebuah kalimat yang berbunuyi, “kutunggu kau di keabadian”. Artinya, kita
sama-sama mengerti kalau Ainun lebih dahulu meninggalkan Habibi. Kalimat tersebut
menyadarkan, kalau Ainun hanya berpisah secara jasad dan berada di alam
keabadian. Keterpisahan keduanya sebenarnya dipisah oleh tubuh itu sendiri. Ketika
presiden Habibi wafat, maka masa penantian Ainun telah selesai.
Kita akhirnya bisa mengerti
dengan mengambil kesimpula. Bahwa “ada” yang sejati dengan sebenar-benarnya itu
pada jiwa. Bukan pada tubuh. Karena jiwa lah yang abadi, sedangkan tubuh tidak.
Doktrin Plato dapat dibenarkan begitu pula dengan Rene Descartes. jiwa memang
benar-benar abadi, tetapi ketika bersemayam pada tubuh maka jiwa sedang
mengalami ketergantungan padanya dengan segala prinsip dan hukum alam duniawi. Seorang
manusia pada hakikatnya adalah dari ketiadaan dan menuju kepada ketiadaan. Itu semua
terjadi karena diadakan oleh yang Maha Ada.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 18-10-2021
Post a Comment for "“Ada” yang Sejati: Jiwa dan Tubuh menurut Descartes dan Plato"