Orang Indonesia pada umumnya
tidak suka membaca. Jangankan tulisan yang berat seperti filsafat dan sains.
Tulisan ringan sekalipun, seperti berita di koran. Mereka jarang karena malas
membaca. Lebih enak dan efisien secara pemahaman, jika mendengarkan berita dari
televisi. Jika mendengarkan pengajian lebih senang jika penceramahnya banyak
memberikan guyuran lawak.
Memahami suatu konsep dari cara
mendengar saja sulit dan terasa berat. Apalagi jika membaca. Dimana harus
mengandalkan diri sendiri dalam proses kognitif tersebut. Sebenarnya bukan
salah mereka yang malas membaca. Selagi masih mau berusaha untuk memahami.
Tetapi juga bisa menyalahkan gaya tulisan dalam penyampaiannya.
Di Jogjakarta, Masjid Jendral
Sudirman setiap hari Rabu malam Kamis diadakan acara Ngaji Filsafat. Mendengar
tema yang dikaji saja sudah ngeri. Baiknya, pemateri, Ust Fahrudin Faiz mampu
mengelola bahasa sesederhana mungkin, sehingga mudah difahami.
Begitu juga dengan tulisan.
Apabila seseorang bisa memilihkan gaya tulisan dan penyampaian sesederhana
mungkin. Agar mudah difahami. Maka tulisanpun tidak tampak mengerikan. Bahkan
jika isi yang disajikan berat.
Jangan salah anggap. Jika tulisan
tidak difahami seolah penulis seorang yang hebat. Justru ia adalah seorang yang
lemah. Karena tidak mampu mengkomunikasikan pengetahuan yang ia fahami dengan
bahasanya sendiri dan pembaca yang dituju. Kecuali memang diperuntukkan
kalangan khusus. Terserah, mau berat atau santai.
Ada beberapa catatan yang saya
rangkum. Agar tulisan tersebut santai untuk dibaca. Tidak memberatkan pembaca.
Apalagi sampai menjadikannya kapok. Karena hal tersebut bisa mengurangi minat
baca. Lantas, bisa mengurangi indeks kecerdasan nasional.
Pertama, menulis seolah
berbicara. Jadi anggap saja ketika pena tergores atau keyboard ditekan.
Bayangkan sebenarnya sedang berbicara. Jika tulisan ditujukan kepada masyarakat
umum. Buatlah sekedar imajinasi, seolah sedang memberikan materi. Tidak perlu
repot-repot berkenaan gaya tulisan. Terus saja menulis yang seolah berbicara.
Karena mendengar lebih mudah memahami daripada memahami lewat membaca.
Kedua, jangan terlalu panjang.
Tembus 1000 kata akan mengakibatkan pembaca pusing. Karena ia harus menggulung
seluruh bacaan. Cukup antara 400 kata sampai 700 untuk tiap gagasan.
Ketiga, jangan kemana-mana fokus
ke inti dari yang disampaikan. Semisal menjelaskan tentang sifm usaha ternak
lele. Jelaskan saja dari satu sudut seperti jenis lele, hitungan keuntungan,
kerugian, modal pakan, marketing dan sebagainya. Ditiap 400-700 kata itu. Kalau
mau pindah sudut, berarti ganti lembar tulisan.
Keempat, jangan banyak-banyak
pakai kata penghubung. Jenis kata tersebut mengakibatkan pembaca akan kewalahan
menghubungkan satu kata dengan yang lainnya. Belum lagi mencerna makna. Gaya
tulisan seperti itu dimiliki oleh sastrawan asal Prancis, Albert Camus
Kelima, jangan panjang-panjag dalam
setiap kalimat. Cukup 5-14 kata. Jangan lebih. Foucault, seorang filsuf Prancis
ketika menulis bisa satu alenia baru titik. Akhirnya pembaca merasa kering
kerontang saat membaca. Tulisan tersebut tidak bisa dikonsumsi khalayak ramai.
Hanya beberapa jenis orang saja yang bisa.
Keenam, kalau bisa jangan pakai
koma langsung saja titik. Koma berarti pemahaman masih berlanjut. Tidak bisa
menyimpulkan jika masih ada koma. Sedangkan dengan langsung titik, akhirnya
sedikit demi sedikit pemahaman terkantongi. Tinggal kesimpulan. Bukan berarti
tidak pakai sekali. Sebisa mungkin dikurangi.
Ketujuh, kedekatan emosional
penulis terhadap tema gagasan yang disampaikan. Seorang petani akan lebih mudah
difahami tulisannya daripada insinyur pertanian. Karena perbedaan keduanya.
Yang satu tidak pernah berkecimpung langsung dengan keadaan. Pengetahuannya
didapat dari buku-buku. Sehingga bisa jadi ia hanya sekedar memindah dari suatu
buku ke tulisannya. Sedangkan petani bahasa yang digunakan adalah pengalaman
sehari-hari. Orang yang memang benar akan bertani dalam praktek akan menemukan
pemahaman dari tulisan berbahan pengalaman.
Arif Prastyo Huzaeri
20-10-2021
Post a Comment for "Kiat-Kiat agar Tulisan Terlihat Santai"