Seandainya Menpora Dibenarkan oleh Para Filosof

menpora badminton

Dengan penuh argumen kuat, Al-Ghazali menyanggah pendapat para filosof, seperti Ibn Sina dan Al-Farabi. Dimana menurutnya rancu. Tiga diantara pendapat dari para filosof tersebut ia anggap kafir. Sedangkan tujuh belas lainnya masih dikategorikan sebagai bid'ah. Pertama, tentang keabadian alam semesta. Kedua, Tuhan tidak mengetahui hal-hal yang partikular. Ketiga, tidak ada kebangkitan jasmani.

Motivasi dari Al-Ghazali tidak lain untuk menjaga kemurnian ajaran Islam. Serangan yang ia lancarkan menjadi pukulan telak bagi dunia filsafat. Bahkan terdapat asumsi jika Al-Ghazali lah biangnya. Sehingga budaya berpikir dalam dunia Islam menjadi mandek. Seandainya pendapat para filosof tersebut tidak merengsek ke wilayah iman. Maka seribu Al-Ghazali pun tidak akan berangkat untuk membantah dengan keras.

Seperti, Jika pendapat itu  mengatakan, pertama keabadian hasrat penguasa untuk bisa lebih dari dua periode atau sampai bosan berkuasa, bukan keabadian alam semesta. Kedua, Menpora tidak mengetahui hal-hal yang partikular, bukan Tuhan. Ketiga, tidak ada kebangkitan kembali melawan incumbent, bukan jasmani. Jika seperti itu, maka tidak akan lahir buku Tahafut Falasifah yang kita kenal sekarang. Mungkin hanya sederet berita kalau filosof yang berpendapat itu memang benar.

Coba kita ulas semisal kasus Menpora. Ia tidak harus mengetahui persoalan yang partikular. Seperti harus mengenal secara jelas ganda putra, Fajar Alfian-Muhammad Rian Ardianto. Dalam momen penting final piala Thomas 2020.

Zainudin Amali cukup mengetahui berapa kebutuhan para atlit. Distribusi anggaran bisa sampai seutuhnya dan semanfaat mungkin. Demi membawa pesona haru kemenangan. Jadi intinya distribusi anggaran dan menang. Itu saja. Setelah menang tinggal menghapal berapa jumlah emas, perak dan perunggu. Ketika awak media berdatangan mencari keterangan. Tinggal ia sebut dan beri apresiasi. Cukup itu saja sudah keren.

Tidak tahunya akan hal yang partikular, menjadikan ia viral. Kalau media sadar, bahwa Menpora tidak harus mengetahui yang partikular. Maka beliau akan gagal viral. Tetapi kalau media memberi tafsir, tidak tahunya Menpora karena memang kurang berpengalaman didunia bulutangkis dan cerobohnya dalam berbicara. Maka akan mengarah untuk menggerus kapasitasnya sebagai Menteri. Sehingga keviralannya adalah bentuk kritik kapasitas.

Sekalipun akhirnya ia menimpali kejadian sebelumnya adalah kesalahpahaman. Alasan tetap alasan, tetapi pengadilan khalayak ramai untuk menyifati seorang Menpora akan tetap berlangsung. Yang tidak boleh bagi khalayak ramai adalah jika memaksa Menpora mengetahui hal-hal yang partikular seperti hoby para atlit, berapa makan sehari, buah apa yang dijauhi, usia berapa, anaknya siapa, sekolah dulu uang sakunya berapa, bagaimana ia mengatur nafas dan apa yang dilakukan jika tidak latihan. Menpora tidak perlu tahu persoalan partikular seperti itu.

Prestasi atlit dan ia adalah Menporanya, tidak lagi menjadi persoalan partikular lagi tetapi viral. Karena setiap perkataan dari seorang menteri, setiap kata yang dilontarkan akan dijadikan pegangan. Sebab keluar dari seorang yang otoritatif  berbicara tentang itu. Ketidak tahuan akan menjadi sebuah kesalahan. Bahkan sekalipun jika itu sesuatu yang partikular sekali dan tidak penting, seperti keharusan mengetahuinya pada seorang atlit, waktu bayi lebih dahulu bisa bicara atau berjalan.

Tegalwangi, 24-Oktober-2021

Arif Prastyo Huzaeri

Post a Comment for "Seandainya Menpora Dibenarkan oleh Para Filosof"