Judul film: Dignitate
Tahun rilis: 2020
Sutradara: Fajar Nugros
Produser: MD Pictures
Genre: Drama
Pemain: Al Ghazali, Caitlin Halderman, Giorgino Abraham, Teuku Ryzki, Shopia Latjuba, Izabel Jahja
Seluruh cerita bermula sama
dengan film Dilan 1990, yaitu ketika seorang siswi baru masuk sekolah. Alana
yang diperankan oleh Caitlin Halderman. Perempuan dengan tubuh ramping, rambut
tergerai panjang, wajah teduh, sendu dan menawan bertemu di toilet dengan Alfi,
diperankan oleh Al Ghazali. Perjumpaan pertama yang disaksikan oleh Kinan sudah
memberi petunjuk keduanya mempunyai sifat keras.
Watak Alana dibentuk dari masa
lalunya yang getir. Termasuk alasan dari perpindahan ia sekolah adalah untuk
menjauh dari ingatan yang mengganggu kesehariannya. Alfi seorang siswa yang
terlampau rajin dengan obsesi akan kesempurnaan yang berlebihan, dari targetnya
itu menjadikan ia mesti disiplin dan lebih cenderung kaku, tidak hanya kepada
orang-orang sekitar tetapi juga kepada dirinya sendiri.
Berbeda sekali dengan Kinan yang diperankan
oleh Teuku Rizky, mantan personil Coboy Junior. Ia seorang yang cair, santai
tidak mengambil serius terhadap segala sesuatu yang dihadapi. Kinan ini lah
yang menjadi mediator komunikasi antara kedua temannya yang keras itu. Watak seperti
Kinan selalu hadir dalam film Indonesia, menjadi khas dengan humornya yang
dikehendaki untuk lucu.
Film yang disutradari oleh Fajar
Nugros ini diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama, karya Hana Margaretha.
Menghadirkan sebuah problem masa lalu yang selalu membayang-bayangi hari-hari
Alana. Alasan dari perpiindahan sekolahnya tidak lain adalah sebuah upaya lari
dari ingatan pahit itu sendiri.
Alana mempunyai konflik dengan
Regan, yang tidak lain adalah kakak kandung dari Alfi. Regan mengejarnya, tidak
hanya di sekolah bahkan didalam rumah sekalipun. Ini menjadi trauma tersendiri
bagi Alana. Tanpa diketahui, ternyata Alfi menaruh rasa benci kepada kakaknya
yang telah lama menjadi anak jalanan meninggalkan ia dan ibunya di rumah. Sekali
pulang hanya untuk meminta uang.
Titik utama dari cerita
sebenarnya ada pada Regan sendiri sekalipun ia bukan pemeran utama. Karena daya
tarik sikap dan ucapan selalu tertuju dari konflik yang ia buat. Entah dengan
Alana, Alfi dan ibunya atau juga hubungan antara Alfi dan Alana yang telah
mulai bersemi menjadi kering karena Alana mengetahui hubungan darah antara
Regan dan Alfi. Sehingga dalam traumanya yang berlebihan ia menganggap sama
antara keduanya, kadar kebenciannya pun juga.
Akhir dari sebuah film bukan
karena kemampuan seorang Alana untuk menghapuskan pahit dan getir yang bersemayam
dalam ingatannya. Bukan juga karena Alfi berhasil menyelesaikan permasalahan
dengan Regan dan brandal-brandal yang mana kakaknya berhutang barang terlarang
dalam jumlah banyak dengan memenangkan balap liar. Tetapi dari Regan setelah
ditangkap oleh polisi kemudian berinisiatif untuk membunuh seorang kawan yang
mensuplai barang terlarang itu kepadanya dan menjadikan dirinya dibenci oleh
Alfi dan Alana. Tambah lagi, orang tersebut juga yang mencederai harkat dan
martabat Sabitha.
Regan membunuhnya ketika didalam
penjara dengan menusuk ke arah lehernya. Ia sendiri lantas dikeroyok oleh napi
lain dan meninggal dengan melampirkan wasiat, bahwa matanya ia berikan kepada
adiknya, Alfi yang tidak bisa melihat setelah kecelakaan dalam balap liar.
Bukan Lari tetapi Harusnya Menghadapi
Cerita dalam film adalah proyeksi
dari jagat batin Alana sendiri dan secara khusus. Menjadi semakin problematis
manakala Alfi adalah adik dari Regan, laki-laki yang menjadikan Alana trauma
sehingga pindah sekolah. Ketakutan yang berlebihan itu menjadikan pandangan
matanya buram, tidak bisa melihat dengan jernih dan membedakan antara adik dan
kakak, antara Alfi dan Regan. Seolah karena mempunyai hubungan darah maka
mudahnya untuk menyimpulkan bahwa keduanya adalah sama.
Wajar saja bila Alana begitu,
ketakutan yang berlebihan ternyata mengganggu cara pikirnya. Tidak berbeda
dengan kegembiraan yang berlebihan juga akan menggiring seseorang yang
mengalaminya untuk buta terhadap realitas nyata. Seluruh dunia seolah tergambar
dari ingatan saja tanpa memperdulikan adanya perubahan yang berkelanjutan. Hanya
saja dalam cerita film tidak terdapat penyebab kebutaan realitas dalam kategori
kedua.
Masa lalu adalah tiran bagi
beberapa orang bisa juga kebanyakan yang didera trauma dan atau prestasi. Seolah
waktu masa lalu adalah ruang keabadian dimana seseorang tidak akan pernah pergi
meninggalkan ruang tersebut dan berbelok ke lorong lain. Jika kemerdekaan
adalah tidak adanya ketergantungan selain pada dirinya sendiri dalam bentuknya
yang paling utuh, maka Alana jelas dengan mudah disimpulkan ia sama sekali
bukan perempuan merdeka. Ia selalu terjerat dan wataknya hari ini bukanlah
hasil dari kesadaran melainkan alam bawah sadar yang telah terhimpun dari
berbagai kepingan getir dan pahit.
Tidak sadar akan adanya proses
dalam kehidupan, bahwa daun yang bersemi harus tangkai suatu waktu harus rela
untuk ditinggalkan dan sesegera mungkin harus siap untuk menerima datangnya
semi baru, adalah konsep alam bahwa segalanya akan berbeda dan berubah. Menghindar
dari bayang-bayang masa lalu, seperti Alana yang pindah sekolah, tidak akan
dapat menjauh dari bayang-bayang tersebut secara hakiki. Seandainya Alana sadar
untuk menhadapinya harus dengan keberanian, barangkali itu akan membuatnya
lebih baikan, sekalipun juga tidak akan membuat Regan bertaubat dari hasratnya.
Hanya saja alur film mengharuskan
seluruh masalah berakhir dengan berakhirnya Regan dan kawannya yang brandal
itu. Jika tidak seperti itu, Regan dan hasratnya berumur panjang maka tidak ada
kata lain selain melawan bagi Alana. Dengan cara apapun dan bagaimanapun mengumpulkan
kekuatan, termasuk menarik Alfi sebagai kekuatannya adalah salah satu cara.
Post a Comment for "Bedah Film Dignitate"