Lingkungan Pendidikan Sukarno Kecil

 

Sukarno kecil dididik pada masa kecilnya dengan kepedihan hidup, itulah pelajaran pertama dan penting bagi dirinya untuk mengenal kehidupan. Bapaknya seorang guru, Raden Sukemi Sosrodiharjo, hanya mendapat gaji 25 rupiah. Kala itu, dipotong dengan harga sewa rumah sebesar 15 rupiah. Bisa dibayangkan, meskipun bapak adalah seorang raden, bangsawan keturunan Sultan kediri dan ibu Idayu adalah keponakan dari raja Singaraja Bali terakhir. Mahkota yang dikenakan di kepalanya adalah kesederhanaan.

Lahir di Surabaya dengan nama Kusno. Seperti kebiasaan orang Jawa, apabila anak mengalami sakit-sakitan, maka akan dirubah namanya. Ia sakit-sakitan, malaria, disentri, semua penyakit dan setiap penyakit. Kemudian baru nama Karna dipilih sebagai obat dari semua penyakit itu. Raden Sukemi adalah seorang yang menyukai kisah Mahabharata. “engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah seorang pahlawan terbesar dalam Mahabharata”.  

Dari nama itu, Sukarno kecil mengerti sebuah arti nama yang mengandung pelajaran. Sosok besar tersebut adalah orang yang kuat dan setia pada kawan-kawannya dan memiliki keyakinan tanpa mempedulikan akibatnya. Dikenal karena keberanian dan kesetiaannya pada Kurawa yang ia bina sampai mati, meskipun mengetahui bahwa orang yang ia bela ada dipihak yang salah. Kesetiaannya tidak bisa tergantikan dan ditawar oleh apapun.

Bapaknya keras dalam mengajar. Abjad A-Z diulang-ulang terus dan menerus tanpa peduli rasa kasihan dalam mendidik anak laki-lakinya itu. “hayo Karno ulangi abjad”. Kasih sayangnya bukan berwujud pembiaran seorang anak kecil emngikuti kesenangannya tanpa peduli kemanfaatan. Ia mendidik dengan mengarahkan jalan yang harus ditempuh dengan sebuah keharusan. Sukarno kecil dibentak, karena menjatuhkan sarang burung meskipun tanpa sengaja. Dengan wajah kelabu seraya berkata,”kukira aku sudah mengajarimu agar menyayangi binatang, masih ingatkah kau kata ‘tat twan asi, tat twan asi’?”. Dia adalah aku dan aku adalah dia.

Disamping ada seorang bapak yang keras dalam mendidik anakknya ada seorang ibu yang penuh kasih sayang. Tiap kali bapak marah-marah maka pangkuan ibu adalah tempat pelarian sebagai hiburan dari kedisiplinan yang sedang ditanam. Ibunya juga mengingatkan bahwa “jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa kau adalah putra sang fajar. Ada juga Sarinah, seorang gadis yang dikenang oleh Sukarno hingga besar. Dialah pula wanita yang mengajarkan arti dari kasih sayang. “Karno, diatas segalanya engkkau harus mencintai ibumu. Tetapi berikutnya engkau harus mencintai rakyat kecil. Engkau harus mencintai umat manusia”, tutur Sarinah. Sukarno sendiri, karena sangat berhutang budi dengan wanita tersebut, sampai menulis buku yang berjudul Sarinah, Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia.

Sukarno waktu kecil adalah anak yang pintar, dididik dengan watakk keras bapaknya dan kasih sayang yang bertalu-talu dari ibu dan Sarinah. Hanya saja ia ada kurangnya dalam pelajaran bahasa Belanda. Sebagai anak yang cerdik, ia bisa memanfaatkan cara lain. Yaitu pada waktu usianya 14 tahun, hatinya tertambat pada seorang anak Belanda bernama Rika Meelhusyen, dari dirinya lah disamping Sukarno belajar mencintai juga mempelajari bahasa Belanda agar lebih baik.

Ditengah-tengah kemelaratan hidupnya, juga dibersamai oleh bunga-bunga kasih sayang dari bapaknya dengan bentuk kerasnya pendidikan, perhatian penuh dari sang ibu, senyum hangat dari Sarinah yang tlaten merawat Sukarno kecil. Kelak menjadikan seorang Sukarno yang kuat mental dan berdedikasi tinggi pada rakyat. Bukan sebagai presiden, melainkan sebagai patriot yang setia sebagaimana nama yang tersemat dalam dirinya diambil dari seorang pahlawan Mahabharata, Raja Angga Karna.

Jika dilihat dari pendidikan yang dilalui, Sukarno tidak mengenyam pendidikan dari Barat. Tetapi dari Indonesia sendiri meskipun didalam pemerintahan Hindia Belanda, ia adalah insinyur lulusan ITB Bandung. Karena tidak meninggalkan Indonesia, menjadi potensi untuk dirinya menjalin kedekatannya dengan rakyat menjadi sangatlah hangat. Bukan berarti, dalam kasus ini, orang yang tidak berpendidikan Barat adalah seorang yang terbelakang. Contoh Sukarno adalah hasil dari produk dalam negeri sendiri dan begitu memberi pengaruh dan manfaat yang sangat besar kepada Indonesia.

Pendidikan yang terbaik bukanlah pendidikan yang menjadikan seseorang banyak mengkonsumsi pengetahuan dan lantas menjadikan asing terhadap dirinya dan lingkungannya sendiri, melainkan semakin sadar akan sekitarnya dan tidak bingung harus mengerjakan apa setelah ia lulus. Hal ini mengingatkan kita pada satu sajak seonggok jagung dari WS Rendra di tahun 1975:

 

Aku bertanya :

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing

di tengah kenyataan persoalannya ?

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya mendorong seseorang

menjadi layang-layang di ibukota

kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang

belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran

atau apa saja,

ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata :

“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

 

 

 

Post a Comment for "Lingkungan Pendidikan Sukarno Kecil"