Pemikir yang Jernih Adalah yang Berotot Sempurna?



Sebagai seorang penulis yang produktif, sangat bahkan. Haruki Murakami melatih pikirannya agar imajinasinya tetap bersayap bebas layaknya burung ternyata dengan melatih tubuhnya. Setiap hari ia jogging dan berenang. Sebagaimana pengakuannya dalam sebuah wawancara.

Kita bisa meragukan pendapatnya itu, tetapi karya-karyanya tidak bisa disangkal. Masih ada peluang lain untuk membantah premis itu. Dengan melihat beberapa intelektual kita hari ini. Kebanyakan diantara mereka adalah lemah tubuhnya, mengenakan kacamata sebagai tanda tidak bisa gerak bebas. Gerak sedikit kacanya akan pecah dan dunia yang ditatap akan buram. Sedikit sekali yang memiliki postur tinggi bagaikan pemain gladiator atau terbilang tidak ada. Yang banyak bentuk tubuh tidak menarik, satu, dua atau tiga dengan kepala botak. Sebagai tanda yang berarti, ia adalah seorang pemikir. Itu saja. Jadi orang pintar adalah berpenampilan tidak menarik.

Beberapa patung dalam sebagai replika orang Yunani yang pemikir, Sokrates, Plato, Aristoteles dan lain-lainnya akan terlihat orang yang penuh otot, berbadan tegap, six pack. Kebijaksanaan mereka tampak dari otot yang terlatih dan kelamin yang kecil pertanda mereka tidak suka mengikuti hawa nafsu. Tidak sekedar dari kelincahan retorika saja. Watak, sifat dan tabiat yang mencerminkan mereka kuat, mampu dan berusaha menguasai diri sendiri mengharuskan mereka membawa beban yang nantinya akan menjadikan memiliki tubuh ideal. Kira-kira tidak sekedar untuk melatih konsentrasi dan kuatnya berpikir, lebih dari itu. Wajah intelektual yang berbeda.

Murakami sepertinya memperoleh pembenaran dari patung-patung Yunani. Bahwa latihan tubuh juga mampu meningkatkan konsentrasi dan kualitas pikiran. Bukan berarti harus meragukan pemikiran-pemikiran intelektual yang tidak berbody sixpack, tetapi kalau hendak meragukan title aliyas pangkat kesarjanaan intelektual kita hari ini maka mendapatkan peluangnya. Seseorang yang berpendidikan tinggi belum tentu dibersamai dengan pengetahuan, apalagi kebijaksanaan, yang tinggi pula.

Wajah dan otot yang berbeda dari para pemikir yang sama-sama jernih. Meskipun tidak sixpack bisa saja mempunyai pikiran yang tajam. Termasuk yang mempunyai tubuh kuat tidak berarti pikirannya juga kuat, kalau tidak terlatih. Jogging dan renang yang dilakukan oleh Murakami adalah untuk meningkatkan daya dan mutu pikirannya. Mengingat otak adalah tubuh pula sebagaimana oragan fisik yang lain, maka perlu dilatih.

Materialisme berdalil, kalau materi mendahului ide dibutikan dengan keberadaan otak yang ada dikepala. Ide lahir kalau organ yang bernama otak dalam kondisi sehat. Artinya otak adalah prasyarat dari ide, jadi materi dulu baru ide yang bersifat non-fisik. Seseorang yang otaknya tidak kekurangan suplemen, gizi, dan vitamin maka akan memproduksi ide-ide paling cemerlang, begitu juga dengan sebaliknya.

Maka terdapat peluang, bagaiamana merawat ide sama halnya dengan merawat pernapasan, jantung dan ginjal. Harus ditempuh dengan menggunakan pelatihan yang bersifat fisik. Lari-lari, berenang, angkat beban untuk melatih fisik sehingga didapati stamina yang maksimal. Oleh karena itu memberikan impuls pada otak untuk menguatkan ingatan dan memudahkan konsolidasi antara beberapa ide. Hal ini jelas sama dengan apa yang nantinya akan didapat oleh organ tubuh yang lain.

Tahu atau tidak tahu dunia yang kita persepsi ini mempunyai rongga, ruang dan waktu. Tubuh kita bisa merasakan sesuatu ketika berfungsi sesuai dengan hukum alam yang ditetapkan. Ketika menyentuh api terbakar, ketika terbentur benda keras memar, ketika jatuh pasti akan tertarik ke bawah. Termasuk ide-ide kita bisa muncul apabila oragan yang bernama otak itu terjaga dengan baik.

Merawat otak berarti juga merawat ide itu  sendiri, karena fungsi dari otak hanyak itu saja. Ketika tidak berfungsi, seseorang masih bisa melangsungkan kehidupan tetapi tidak lebih dari hewan. Sebab bentuknya yang fisik maka perawatannya juga melalui mekanisme yang diharuskan dan ditempuh oleh fisik juga. Selain itu bisa juga diartikan sebaliknya. Pikiran yang sehat juga akan meniscayakan tubuh yang sehat. Orang yang tidak berfikir terlalu futuristik atau mengkhawatirkan masa depan dengan cara ekstrem akan menghasilkan beban dalam tubuh yang lain, seperti tekanan darah, jantung dan beberapa penyakit kambuhan lainnya yang bisa diperparah karena terlalu banyaknya pikiran.

Sangat berbeda sekali dengan organ lain. Ketika kejiwaan seseorang diserang oleh malapetaka pertama kali yang menjadi penentu tubuhnya bisa sakita atau tidak adalah pikiran itu sendiri bagaimana caranya menghadapi. Jika salah tangkap dan pikir maka bisa jadi masalah. Oleh karena itu merawat ide dan gagasan agar tetap cemerlang dan jernih mengharuskan untuk bertindak ganda, pertama dari luar, yaitu merawat otak dalam bentuknya yang fisik dengan cara mengkonsumsi gizi yang cukup dan olahraga. Kedua, dari dalam, yaitu dengan cara menghalau pikiran-pikiran negatif yang bisa merunyamkan kehidupan. Sehingga ide-ide yang telah disiapkan dengan baik tidak amburadul karena adanya faktor-faktor tidak berguna yang lain.

Dengan begitu semboyan “didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat” sekali lagi kita benarkan. Tetapi tidak boleh ditinggalkan maknanya dalam kebalikan “pada jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat” adalah merupakan kebenaran pula.

Tegalwangi, 01-12-2021

Arif Prastyo Huzaeri   





Post a Comment for "Pemikir yang Jernih Adalah yang Berotot Sempurna?"