Gramsci, Mahasiswa, Hegemoni, Ilmu dan Amal

 
Antonio Gramsci, nama yang cukup tragis untuk dikenang. Ia mesti mendekam dalam kerangkeng jeruji besi ideologi totaliter pada eranya, Fasisme Itali. Setelah dinyatakan bahwa partai komunis Itali sebagai terlarang, sehingga aktivisnya adalah penjahat. Sekalipun begitu, tidak membuat nyali Gramsci menciut. Ia justru mencuatkan catatan paling menarik, 4000 halaman lebih ia menulis catatan-catatan penjara. Ditulis dengan secarik demi secarik kertas penjara. Baru tahun 50-an tulisannya di edit dan namanya tidak bisa diremehkan dalam barisan intelektual marxisme yang berpengaruh.

Mustahil kiranya, aktivis mahasiswa tidak mengenal nama besar seorang Gramsci. Hanya saja dan barangkali tingkatan kenalnya saja yang berbeda. Mulai dari yang mengenal namanya karena memang mengoleksi buku dan gagasannya dalam pikiran yang dibawa lalu lalang kemana-mana. Ada yang mengenal namanya dan sepotong gagasannya yang terkenal, semisal hegemoni. Jadi bila kemana-mana ketika nama Gramsci disebut, maka yang langsung muncul adalah hegemoni atau sebaliknya disebut hegemoni maka teringat Gramsci.

Ada pula yang mengenal namanya saja tanpa peduli apa pikiran dan pengaruhnya. Jadi ketika nama Gramsci disebut, entah dalam sebuah seminar atau diskusi-diskusi santai, maka ia tidak kaget untuk kemudian bertanya, siapa Gramsci itu? Karena sayup-sayup dan samar-samar nama tersebut tidak asing. Terakhir ada yang tidak kenal sekali nama Gramsci. Sehingga tidak peduli nama seorang lelaki dengan tinggi 150 cm ini disebutkan atau tidak. Inilah yang disesalkan, bagaimana mungkin ada seorang aktivis tidak mengenal Gramsci bahkan sebagai nama sekalipun.

Dari beberapa ide dan kontribusinya untuk marxisme, hegemoni paling sering difahami atau sekedar disebut saja. Tidak jarang beberapa senior mahasiswa ketika memberikan pengayoman bertindak secara langsung, sadar atau tidak bersifat hegemonik dan itu diceritakan oleh mereka sebagai hegemoni Gramsci. Bisa juga memberikan kiat-kiat pengayoman kepada junior yang akan beranjak menjadi senior, menganjurkan untuk menghegemoni. “iya dek, bisa menggunakan hegemoninya Gramsci”. Kata seorang senior untuk mengatasi problematika kader. Pokoknya dan kebanyakan kata hegemoni selalu dirujuk ke Gramsci. Meskipun itu sesuai dengan prinsip Gramsci atau tidak. Mampu mengucapkan kata “hegemoni” itu sudah keren.

Meskipun hegemoni adalah barang penting dalam dunia keorganisasian. Ada pikiran Gramsci yang lain dan tidak kalah penting dalam memberikan pandangannya terhadap hubungan pengetahuan dan alam sekitarnya. Nyoto pernah menulis beberapa esai tentang marxisme yang digunakan untuk bahan kuliah. Kemudian tuilisan-tulisan itu dibendel menjadi satu buku dengan judul,”marxisme ilmu dan amalnya”. Dalam bahasa yang lebih ilmiyah akan disebut dengan teori dan praxis.

Gramsci membenarkan dan menyambut gembira apa yang dikenal dengan voluntarisme di Uni Soviet. Lenin tidak mau menunggu revolusi bisa dan benar-benar siap untuk meletus. Melainkan harus disiapkan dan dilahirkan sendiri dengan segala cara dan kesempatan dari tawaran-tawaran sejarah. Ini menunjukkan cara berpikir Gramsci yang dinamis dan kontekstual. Ia tidak serta merta memukul rata bahwa marxisme mengandung kebenaran abadi. Karenanya harus sesegera mungkin menerima adanya revisi.

Selama sebuah teori tidak lagi dapat diandalkan karena problem lingkungan sosial, maka tiadalah arti sebuah teori itu sendiri. Yang namanya ide atau gagasan harus bersangkut paut dengan namanya praxis. Keduanya merupakan satu kesatuan, tidak bisa dipisahkan antara satu atau menjadikannya dua. Apabila ditemukan suatu kali waktu sebuah teori yang tidak berdasarkan dari kenyataaan atau kehidupan sehari-hari, maka tidak bisa dikatakan itu adalah teori yang benar. Lebih radikal lagi, bisa dinyatakan bahwa keberadaaannya sebenarnya tidak ada.

Sebagaimana garapan Gramsci adalah perjuangan proletariat, yang ia sendiri pemimpin buruh. Marxisme sebagai teori perjuangan, menurutnya, harus bertitik tolak dari apa yang sedang disadari oleh massa sendiri. Seorang intelektual tidak benar kiranya apabila kemegahan pikirannya dan ramalannya tentang masyarakat berkeadilan berasal dari pikirannya sendiri bukan berangkat dari apa yang sedang dirasakan oleh masyarakat. Seorang intelektual harus bisa mendengarkan jiwa sejati dari bawah, baru kemudian merumuskan sebuah metodologi. Tidak bisa sebaliknya.

Antonio Gramsci tidak menerima apabila marxisme adalah sebuah teori objektif sebagaimana telah dirumuskan oleh Engels. Sebuah pandangan yang benar secara terus menerus dan dapat dicekokan kapanpun dan dimanapun. Penolakannya memperlihatkan bahwa ia tidak mempunyai karakter seorang tekstualis. Seorang marxis harus inovatif. Tidak baik apabila menggunakan marxisme untuk berkumur-kumur belaka semprot kesana kemari dalam bahasa-bahasa menawan, sok pejuang yang mengabdikan dirinya pada masyarakat. Padahal hanya sekedar guyur istilah dan sensasi belaka.

Oleh karena itu, terlihat aneh apabila ada seorang intelektual baru pandai beretorika mempuisikan keadilan, kemelaratan dan kebaikan bersama. Sedangkan tangannya halus, tidak ada retak sedikitpun, karena hanya digunakan untuk mengangkat beban buku saja. Bukan cangkul, keringat, sabit yang terlibat langsung dengan terik panas dan runyamnya kehidupan.

Tegalwangi, 24-11-2021

Arif Prastyo Huzaeri

Post a Comment for "Gramsci, Mahasiswa, Hegemoni, Ilmu dan Amal"