Sejarah tidak akan melupakan
sebuah bangsa yang sangat sadis, berani, kejam dan keras. Melakukan invasi
kemanapun kehendak untuk berkuasa muncul. Tidak peduli apapun yang merintangi. Cuaca,
alam, hewan dan segala bentuk marabahaya seolah adalah hiburan ditengah
hasratnya untuk menguasai. Tiada lain adalah Mongol.
Baghdad merupakan salah satu
wilayah yang menjadi sasaran dari hasrat pembumi hangusan, dibawah kendali
seorang Khan pada eranya, Khulagu Khan. Entah berapa nyawa yang telah dibantai.
Angka yang disebut dalam beberapa literatur sejarah hanya merupakan dugaan. Sedangkan
kepastian dari angka tersebut menunjukkan sangat banyaknya. Rasa nyeri masih
terasa dan tambah perih mengingat perpustakaan-perpustakaan, termasuk bait
al-hikmah hancur lebur. Buku-bukunya dihanyutkan ke dalam sungai Tigris.
Seolah tak berguna, nyawa dan
buku di depan mata tentara Mongol tidak lebih dari debu. Sedangkan kuasa dan
menang adalah kegembiraan. Cucu dari Jenghis Khan ini bertanggung jawab atas
semua yang tidak pernah ia tanggung. Kebarbaran bangsa Mongol karena tidak
mengerti dan mau mengenal nilai dari senyum sebagai wujud kebahagiaan orang
lain dan satu kalimat pengetahuan dalam secarik kertas menunjukkan keterbelakangan
mereka dalam peradaban dan kebudayaan.
Entah Khulagu tahu atau tidak,
barangkali tahu. Pada masa kakeknya Jenghis Khan dan pamannya Ogedai Khan ada
seorang dalam lingkaran pasukan yang tidak menyibukkan diri dengan mengasah
tombak dan pedang, tidak pula meruncingkan mata anak panah, tidak pula selalu
berkata “iya” dan “siap” ketika Khan memberikan intruksi. Sebab ia bukanlah
prajurit, melainkan seorang ahli filsafat, kedokteran dan perbintangan. Namanya
Yelu Chucai.
Jengiz Khan bersimpatik padanya
dan Yelu sendiri berusaha mempengaruhi orang ini agar tidak terlalu kejam dan
perlahan mengurangi kebarbarannya. Pernah suatu ketika Jenghis Khan melihat
hewan seperti rusa, berkulit warna hijau dan bertanduk, aneh. Ia bertanya pada
ahli filsafat ini. Yelu memberi penjelasan dengan memperhatikan kehidupan
Jengiz Khan, “ hewan ini bernama Kyo tuan. Ia mengerti bahasa seluruh penduduk
bumi dan menyukai kehidupan bangsa manusia. Hewan ini sangat jijik dengan
dengan perbuatan membunuh. Kemunculannya ini jelas sebagai peringatan untukmu
wahai khan, ia sepertinya mengajakmu untuk menghentikan perbuatan itu”.
Lewat kecerdasannya, Yelu mampu
memberikan tafsir untuk menasihati hasrat tiada habisnya Jengis Khan dengan
simbolisme hewan bertanduk itu. Dapat dipastikan makna hakiki yang sebenarnya
ada adalah kebenaran dalam diri seorang Yelu, bukan pada hewan tersebut. Seandainya
bertemu dengan hewan lain yang sama anehnya, Yelu bisa saja akan menafsirkan
dengan cara yang sama.
Disinilah keunggulan orang yang
berilmu yaitu waras kejiwaannya, tidak dikuasai oleh kebinatangan. Serta mempunyai
peluang untuk memberikan kebenaran pada orang lain. Posisi Yelu sangatlah
strategis dalam merubah peradaban dan alam pikir bangsa Mongol. Sebab ia berada
disamping telinga Khan dan mampu mengetuk hatinya agar tidak melakukan
pembantaian dan pembakaran buku. Kepribadiannya yang luhur dan bening selalu
bersimpati dan meminta agar tidak terjadi pembantain dan penghancuran tiap kali
melakukan invasi.
Orang seperti Yelu jelas adalah
guru dengan kepribadian yang tinggi. Bagaimana tidak? Ia harus bersikap bijak
dan bajik dalam menasihati kebarbaran itu. Tidak secara brutal sekedar
menyalahkan saja. Karena bisa mengakibatkan para tentara dan panglima
tersinggung sehingga seluruh nasihat dan petuah baiknya bakal sia-sia belaka. Dibutuhkan
kematangan pikiran dan kedewasaan untuk kemudian bisa berkomunikasi secara
seimbang. Sama-sama mendengar dan didengarkan oleh kedua belah pihak.
Atas saran Yelu, dalam operasi
militer Gansu sepuluh juta orang tidak jadi dibantai, mereka selamat. Sebagai gantinya
mereka disuruh untuk menggembalakan kuda-kuda prajurit Mongol dan membayar
upeti berupa 500 ribu ons perak, 80 ribu pakaian sutera dan 400 riibu bebijian
tanpa kulit setiap tahunnya. Di masa Ogedai Yelu diberi wewenang untuk menangani
sebuah wilayah. Ia pernah menghukum prajurit di muka umum karena masih bersikap
sadis. Dengan keberadaan Yelu yang hanya seorang kekaisaran Mongol bisa dibawa
ke arah yang lebih bermartabat, berbudaya dan berwawasan.
Padahal hanya ada seorang saja
Yelu Chucai, orang yang memberikan arahan dan masukan berdasarkan akal sehat
manusia. Bagaimana jika ada banyak orang seperti itu? Memang sebuah wilayah
dikuasai atau dibebaskan menggunakan pedang tetapi setelah itu peradaban
dibangun menggunakan pena. Di Indonesia telah lewat masa revolusi memperebutkan
kemerdekaan. Hari-hari ini adalah saat untuk menata dan mengatur Indonesia yang
bermartabat. Itu semua dimulai dari sumber daya manusia yang terdidik dan
tercerahkan oleh guru-guru yang berkarakter seperti Yelu Chucai. Fungsi dari
seorang guru adalah mengingatkan kembali kepada anak didiknya bahwa ia adalah
manusia, sehingga mereka tidak bersikap barbar dalam kesehariannya.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 24-11-2021
Post a Comment for "Yelu Chucai, Guru Bangsa Mongol yang Mengurangi Barbarisme"