Nasihat Plato Tentang Cinta dan Perkawinan

 cinta plato

Plato adalah filosof terbesar setelah Sokrates. Pikiran-pikirannya hari ini memang terlihat sangat purba. Tetapi tidak satu pun pemikir besar yang kemudian bisa berdiri gagah dengan segala racauannya tentang sebuah teori tanpa bisa terhindar dari bayang-bayang Plato. Pengaruh Plato terkadang tidak serta merta menjadikan pengikut pikirannya harus mengembangkannya. Bisa jadi nilai keterpengaruhan itu justru menjadikan seseorang menjauh dan bertentangan dengannya, hal ini lah yang terjadi pada Aristoteles, “aku menyayangi Plato, tetapi aku lebih menyayangi kebenaran ujarnya”.

Berbeda sekali dengan Plotinus. Ia adalah salah satu orang yang terpengaruh dengan cara mengikuti dan mengembangkan model berpikir khas Plato. Kita mengenal sebuah isme atau aliran dalam babakan sejarah Filsafat, yaitu neo-Platonisme. Tidak lain dan tidak bukan adalah upaya mengabadikan seorang Plato itu sendiri. Jasadnya telah sirna, tetapi namanya tetap disebut, hingga sekarang.

Karya-karya dari Plato sampai hari ini masih dan dapat kita jumpai di perpustakaan atau toko-toko buku. Yang sering adalah Republik, Sofis, Symposium dan Phaedo. Gaya Plato menuturkan idenya sangat menarik, ia akan membuat sebuah untaian percakapan dalam membahas sebuah tema tertentu. Sehingga pembaca tidak merasa bosan. Seandainya ide yang dimaksud tidak terpahami maka kenikmatan membaca sastra masih bisa terasakan. Tetapi pembaca harus mencerna dalam-dalam beberapa metafor yang dibuat, tidak sepintas makna dapat dicerna.  Sebagaimana ketika ia ingin memberikan pemaknaan pada hakikat cinta dan perkawinan.

 

       Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Dan bagaimana saya menemukannya?” Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan jangan menoleh mundur, kemudian ambillah satu ranting saja yang menurutmu paling menakjubkan". Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?" Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali. Sebenarnya aku telah menemukan ranting yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru aku sadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya". Gurunya kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta"

 

Sederhana sekali, cinta adalah ranting yang paling menakjubkan. Seseorang sebenarnya dapat mudah sekali mendapatkan cinta. Sayangnya sering kali ketika cinta itu hadir entah dalam bentuk dan wujud apapun, seolah ada kabut yang menutupi dan angin yang menghalaunya. Oleh karena itu, seseorang kerap kali akan menncari yang lain dengan beberapa argumen yang didasarkan pada pikiran. Larangan Guru Plato untuk tidak mundur kembali adalah sebuah petunjuk untuk tidak terlalu banyak berangan-angan.

Sekali cinta hadir dalam bentuknya yang sesederhana mungkin, hati akan terpaut dan pikiran akan merespon sebagai sesuatu yang menakjubkan. Pikiran sering kali tertipu dengan rasionalisasi-rasionalisasinya sendiri, tetapi hati sekali berkata “iya” maka itulah yang lebih dapat dipercaya. Karena cinta layaknya kesederhanaan ranting dan pikiran selalu mencari kemewahan dan kesempurnaan, maka tiada cara lain untuk mengerti cinta kecuali dengan mendengarkan ranting yang patah menggunakan hati.



Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,"Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?" Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh menoleh mundur dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan". Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar atau subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja. Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?" Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi di kesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya" Gurunya pun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan".

 

Perkawinan adalah kelanjutan dari cinta. Seumpama bangunan, ia adalah dinding-dinding yang berfungsi untuk meletakkan cinta layaknya pigora berisi foto. Perkawinan adalah kesempatan untuk meletakkan pigora tersebut ke dinding. Banyak sekali kisah cinta yang berujung kandas hanya karena ia ragu meletakkan pigora tersebut. Padahal hanya meletakkan saja, tanpa perlu mempertimbangkan panjang-panjang tentang kualitas dinding itu.

Seseorang secara wajar ingin meletakkan pigoranya ditempat terbaik dengan kondisi dan rasa paling pas. Setelah menemukan kesempatan untuk memberlangsungkan perkawinan tidak sedikit yang kemudian ragu dengan dirinya sendiri, artinya ragu dengan dinding yang akan ia gantungkan cintanya itu. Keraguan itulah yang kemudian menjadi awal dan sebab buyarnya hubungan jalinan kasih. Karena tidak menggunakan kesempatan yang ada. Dengan demikian sekali saja kesempatan itu datang, langsung untuk dipergunakan. Tidak perlu harus menanti adanya “pohon yang tinggi”.

Begitulah cinta dan perkawinan tidak membutuhkan perlakuan yang mewah. Ia hanya membutuhkan keyakinan dari seseorang yang mencintai itu sendiri. Berpikir dan menghayal yang rumit-rumit atau yang ndakik-ndakik hanya akan menngulur waktu dan membuang usia saja. Karena sebenarnya cinta itu sendiri tidak akan kemana. Ia ada didekat kita, hanya saja sering kali mata kita lah yang rabun.

Arif Prastyo Huzaeri

Tegalwangi, 22-11-2021

Post a Comment for "Nasihat Plato Tentang Cinta dan Perkawinan"