Kita Perlu Jean Paul Sartre untuk Mengatasi Bucin

 

bucin


Seperti halnya petani, pedagang dan pegawai negeri. Bucin dikonstruk oleh sosial dan budaya hari ini. Hanya saja perbedaannya, ketiga jenis pekerjaan tersebut menghasilkan pundi-pundi rupiah. Bucin tidak. Kecuali kalau hasil dari proses mem-bucin-nya itu dijadikan konten Youtube dan memungkinkan mempunyai banyak subscriber atau jualan quote yang diambil dari pengalamannya sehari-hari, kata-kata sakti untuk membius pembaca.

Secara persamaan, sama-sama mengalami ketergantungan dengan apa yang diinginkan. Petani menginginkan hasil panen yang melimpah, maka ia harus rajin merawat dan memupuk. Pedagang menginginkan laba yang banyak, maka ia harus pandai-pandai bersilat lidah membujuk-rayu pelanggan. Pegawai negari menginginkan naik tingkat, maka ia harus melakukan segala cara. Bucin sebagai akronim dari budak cinta akan melakukan segala hal mulai dari yang rasional sampai irrasional atas nama cinta.

Bucin akan bertindak dan melakukan segalanya secara berlebihan. Dalam kondisinya yang dimabuk cinta, demi pujaan hatinya, tindakan yang dilakukan menurutnya layak dan seharusnya. Bagi orang lain yang melihat tingkah tersebut, akan berfikir aneh dan keterlaluan. Oleh karena itu bucin diasosiasikan sebagai suatu predikat yanng negatif. Benar kiranya jika menggunakan terminologi “budak”. Karena budak akan melakukan apapun demi meraih kebebasannya. Ia dikendalikan oleh rasa kasmaran dan kesemsemnya.

Sayangnya, bucin lahir dan spontan dinilai negatif pada era sekarang. Cerita tentang Qais yang bergumul dengan kawanan domba agar sekejap mampu melihat Layla, tidak dinilai sebagai negatif. Bukankah Qais sedang diperbudak oleh cinta? Ketika langkah tersebut diartikan, jelas sangat bucin sekali. Kematian tragis Romeo dan Juliet lebih disebabkan karena keputus asaan melihat orang yang dicintainya mati, sehingga nekat mengkahiri hidupnya.  Romeo yang tidak menerima pesan bahwa kematian Juliet adalah sandiwara. Akhirnya ia rela menenggak racun. Juliet sendiri setelah bangun dari kematian yang dibuat-buat, melihat kekasihnya terkapar disampingnya dengan botol racun tergeletak. Akhirnya ia pun mengakhiri hidupnya dengan menikamkan pisau. Sepasang kekasih yang diceritakan oleh William Shakespeare, memang berlebihan dengan mengatasnamakan cinta, tidak dinilai negatif layaknya bucin. Kalau terjadi di era sekarang bukankah bucin juga?

Seperti kejadian pada hari Senin 1 November 2021, Radar Jember meliput di kecamatan Jenggawah kabupaten Jember, seorang anak perempuan berusia 15 tahun berinisial SA melompat ke sungai Kalimayang. Saat itu SA bersama seorang teman lelakinya berusia 16 tahun, berinisial R. Informasinya antara SA dan R terdapat hubungan asmara. Dapat kita lihat, keberanian seorang bocil 15 tahun melompat ke sungai tidak lain dimotivasi oleh cinta yang barangkali, entahlah bagaimana perseteruan keduanya, sedang mengalami cek-cok dan kusut. Ia menceburkan diri ke sungai, membuat repot Kapolsek Tempurejo dan membikin gaduh warga.

Pesona seorang bocil dalam bingkai ke-bucin-an menjadi berita menarik bagi Radar Jember. Bisa jadi, pertama kejadian nekat mengakhiri hidup, kedua pelaku masih anak-anak usia 15 dan 16 tahun, ketiga tragedi terjadi karena disulut oleh persoalan asmara. Usia 15 tahun adalah usia yang masih relatif dini, tetapi sudah berputus asa hingga berani mengambil tindakan yang beresiko, rela mati. Kira-kira Juliet, sebagai sesama perempuan, tidak sebelia itu ketika menancapkan pisau untuk mengkahiri hidupnya, atas nama cinta. Bagaimana mungkin seberani itu atau senekat itu?

Tidak hanya menyoal jika langkah-langkah yang mengarah pada predikat bucin hari ini sebagai suatu yang konyol dan lucu berbau miris. Tetapi perlu kiranya untuk memberikan kesadaran baru, bagi bocil khususnya dan siapapun yang berpotensi menjadi bucin untuk mengerti dan faham betul pentingnya kebebasan dari belenggu perbudakan yang mengatasnamakan cinta. Tidak menarik bagi perkembangan peradaban dan kebudayaan apabila mengalami penyempitan cara pandang. Seolah segalanya pantas terjadi ketika sudah mengatasnamakan cinta. Itu konyol.

Tindakan berlebihan, termasuk Qais, Romeo-Juliet dan Bocil itu mengingatkan saya pada Jean Paul Sartre (1905-1980). Ia pernah mengucapkan bahwa “orang lain adalah neraka”. Kalimat unik dan bagi pengucapnya tidak sekedar kata-kata tetapi bermakna. Menjadi judul sebuah buku yang ditulis oleh Wahyu Budi Nugroho berjudul “Orang Lain Adalah Neraka: sosiologi eksistensialisme Jean Paul Sartre”. Bagi Sartre manusia itu dikutuk untuk bebas, tetapi orang lain mencoba menjajah kita dengan berbagai cara dan istilah dalam kehidupan sosial, termasuk cinta.

Sartre menganggap bahwa cinta itu adalah konflik. Karena seseorang yang layak menjadi manusia bebas mesti diobyekkan oleh orang lain dengan mengatasnamakan cinta. Seorang kekasih akan rela hujan-hujanan untuk beli coklat demi yang terkasih. Seandainya ia tidak menaruh rasa apapun, ia bisa tidur-tiduran sambiil bermain HP. Apabila tidak ada jalinan rasa maka tidak mungkin Radar Jember membuat liputan seorang anak 15 tahun melompat ke Kalimayang.

Menurutnya cinta itu paradok. Sebab seseorang sedang mengalami kegagalan menjadi subyek yang utuh untuk dirinya sendiri. Ia sedang diobjekkan oleh sesatu yang lain diluar dirinya.  Akhirnya ia tidak menjadi seorang yang benar-benar bebas. Ketika seseorang berkehendak akan sesuatu dan orang lain menghendakinya dengan sesuatu yang lain. Bila interaksi keduanya terjalin ikatan asmara, dapat dimungkinkan yang satu harus rela mengurungkan keinginannya sendiri ketika mengganggu keinginan dari pujaannya. Sadar atau tidak sadar, atas nama cinta ia sedang menjadi objek.

Mode berpikir Sartre tentang hubungan sosial manusia memang sangat ekstrem. Tetapi bisa dianggap bermanfaat untuk memberikan keseimbangan pada fenomena sosial yaitu bucin, yang dinilai adalah gejala sosial yang juga ekstrem dan turut memprihatinkan. Perlu adanya penyadaran terhadap jati diri seorang manusia agar tidak terlena atas nama cinta.  Sekalipun itu adalah hal yang natural dalam diri manusia dan dibutuhkan, tetapi tidak perlu berlebihan, hingga lepas kesadaran dan melompat ke sungai. Rela segalanya atas nama cinta.

Oleh karena itu, kesadaran akan diri sendiri. Aku ini? Aku adalah? Aku harus? Aku sedang? Harus dan selayaknya senantiasa aktif. Objek dan subjek diluar diri ketika merasuki sebuah kesadaran haruslah dipertimbangkan dengan akal sehat. Tidak dengan rasa kesemsemnya itu.

Arif Prastyo Huzaeri

Tegalwangi, 04-11-2021             

Post a Comment for "Kita Perlu Jean Paul Sartre untuk Mengatasi Bucin"