Seperti halnya petani, pedagang
dan pegawai negeri. Bucin dikonstruk oleh sosial dan budaya hari ini. Hanya
saja perbedaannya, ketiga jenis pekerjaan tersebut menghasilkan pundi-pundi
rupiah. Bucin tidak. Kecuali kalau hasil dari proses mem-bucin-nya itu
dijadikan konten Youtube dan memungkinkan mempunyai banyak subscriber atau
jualan quote yang diambil dari pengalamannya sehari-hari, kata-kata
sakti untuk membius pembaca.
Secara persamaan, sama-sama
mengalami ketergantungan dengan apa yang diinginkan. Petani menginginkan hasil
panen yang melimpah, maka ia harus rajin merawat dan memupuk. Pedagang
menginginkan laba yang banyak, maka ia harus pandai-pandai bersilat lidah
membujuk-rayu pelanggan. Pegawai negari menginginkan naik tingkat, maka ia
harus melakukan segala cara. Bucin sebagai akronim dari budak cinta akan
melakukan segala hal mulai dari yang rasional sampai irrasional atas nama
cinta.
Bucin akan bertindak dan
melakukan segalanya secara berlebihan. Dalam kondisinya yang dimabuk cinta,
demi pujaan hatinya, tindakan yang dilakukan menurutnya layak dan seharusnya.
Bagi orang lain yang melihat tingkah tersebut, akan berfikir aneh dan
keterlaluan. Oleh karena itu bucin diasosiasikan sebagai suatu predikat yanng
negatif. Benar kiranya jika menggunakan terminologi “budak”. Karena budak akan
melakukan apapun demi meraih kebebasannya. Ia dikendalikan oleh rasa kasmaran
dan kesemsemnya.
Sayangnya, bucin lahir dan
spontan dinilai negatif pada era sekarang. Cerita tentang Qais yang bergumul
dengan kawanan domba agar sekejap mampu melihat Layla, tidak dinilai sebagai
negatif. Bukankah Qais sedang diperbudak oleh cinta? Ketika langkah tersebut
diartikan, jelas sangat bucin sekali. Kematian tragis Romeo dan Juliet lebih
disebabkan karena keputus asaan melihat orang yang dicintainya mati, sehingga
nekat mengkahiri hidupnya. Romeo yang
tidak menerima pesan bahwa kematian Juliet adalah sandiwara. Akhirnya ia rela
menenggak racun. Juliet sendiri setelah bangun dari kematian yang dibuat-buat, melihat
kekasihnya terkapar disampingnya dengan botol racun tergeletak. Akhirnya ia pun
mengakhiri hidupnya dengan menikamkan pisau. Sepasang kekasih yang diceritakan
oleh William Shakespeare, memang berlebihan dengan mengatasnamakan cinta, tidak
dinilai negatif layaknya bucin. Kalau terjadi di era sekarang bukankah bucin
juga?
Seperti kejadian pada hari Senin 1
November 2021, Radar Jember meliput di kecamatan Jenggawah kabupaten Jember, seorang
anak perempuan berusia 15 tahun berinisial SA melompat ke sungai Kalimayang.
Saat itu SA bersama seorang teman lelakinya berusia 16 tahun, berinisial R. Informasinya
antara SA dan R terdapat hubungan asmara. Dapat kita lihat, keberanian seorang
bocil 15 tahun melompat ke sungai tidak lain dimotivasi oleh cinta yang
barangkali, entahlah bagaimana perseteruan keduanya, sedang mengalami cek-cok
dan kusut. Ia menceburkan diri ke sungai, membuat repot Kapolsek Tempurejo dan
membikin gaduh warga.
Pesona seorang bocil dalam
bingkai ke-bucin-an menjadi berita menarik bagi Radar Jember. Bisa jadi,
pertama kejadian nekat mengakhiri hidup, kedua pelaku masih anak-anak usia 15
dan 16 tahun, ketiga tragedi terjadi karena disulut oleh persoalan asmara. Usia
15 tahun adalah usia yang masih relatif dini, tetapi sudah berputus asa hingga
berani mengambil tindakan yang beresiko, rela mati. Kira-kira Juliet, sebagai
sesama perempuan, tidak sebelia itu ketika menancapkan pisau untuk mengkahiri
hidupnya, atas nama cinta. Bagaimana mungkin seberani itu atau senekat itu?
Tidak hanya menyoal jika
langkah-langkah yang mengarah pada predikat bucin hari ini sebagai suatu yang
konyol dan lucu berbau miris. Tetapi perlu kiranya untuk memberikan kesadaran
baru, bagi bocil khususnya dan siapapun yang berpotensi menjadi bucin untuk
mengerti dan faham betul pentingnya kebebasan dari belenggu perbudakan yang
mengatasnamakan cinta. Tidak menarik bagi perkembangan peradaban dan kebudayaan
apabila mengalami penyempitan cara pandang. Seolah segalanya pantas terjadi
ketika sudah mengatasnamakan cinta. Itu konyol.
Tindakan berlebihan, termasuk
Qais, Romeo-Juliet dan Bocil itu mengingatkan saya pada Jean Paul Sartre
(1905-1980). Ia pernah mengucapkan bahwa “orang lain adalah neraka”. Kalimat
unik dan bagi pengucapnya tidak sekedar kata-kata tetapi bermakna. Menjadi
judul sebuah buku yang ditulis oleh Wahyu Budi Nugroho berjudul “Orang Lain
Adalah Neraka: sosiologi eksistensialisme Jean Paul Sartre”. Bagi Sartre
manusia itu dikutuk untuk bebas, tetapi orang lain mencoba menjajah kita dengan
berbagai cara dan istilah dalam kehidupan sosial, termasuk cinta.
Sartre menganggap bahwa cinta itu
adalah konflik. Karena seseorang yang layak menjadi manusia bebas mesti
diobyekkan oleh orang lain dengan mengatasnamakan cinta. Seorang kekasih akan
rela hujan-hujanan untuk beli coklat demi yang terkasih. Seandainya ia tidak
menaruh rasa apapun, ia bisa tidur-tiduran sambiil bermain HP. Apabila tidak
ada jalinan rasa maka tidak mungkin Radar Jember membuat liputan seorang anak
15 tahun melompat ke Kalimayang.
Menurutnya cinta itu paradok.
Sebab seseorang sedang mengalami kegagalan menjadi subyek yang utuh untuk
dirinya sendiri. Ia sedang diobjekkan oleh sesatu yang lain diluar
dirinya. Akhirnya ia tidak menjadi
seorang yang benar-benar bebas. Ketika seseorang berkehendak akan sesuatu dan
orang lain menghendakinya dengan sesuatu yang lain. Bila interaksi keduanya
terjalin ikatan asmara, dapat dimungkinkan yang satu harus rela mengurungkan
keinginannya sendiri ketika mengganggu keinginan dari pujaannya. Sadar atau
tidak sadar, atas nama cinta ia sedang menjadi objek.
Mode berpikir Sartre tentang
hubungan sosial manusia memang sangat ekstrem. Tetapi bisa dianggap bermanfaat
untuk memberikan keseimbangan pada fenomena sosial yaitu bucin, yang dinilai
adalah gejala sosial yang juga ekstrem dan turut memprihatinkan. Perlu adanya
penyadaran terhadap jati diri seorang manusia agar tidak terlena atas nama
cinta. Sekalipun itu adalah hal yang
natural dalam diri manusia dan dibutuhkan, tetapi tidak perlu berlebihan,
hingga lepas kesadaran dan melompat ke sungai. Rela segalanya atas nama cinta.
Oleh karena itu, kesadaran akan
diri sendiri. Aku ini? Aku adalah? Aku harus? Aku sedang? Harus dan selayaknya
senantiasa aktif. Objek dan subjek diluar diri ketika merasuki sebuah kesadaran
haruslah dipertimbangkan dengan akal sehat. Tidak dengan rasa kesemsemnya itu.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 04-11-2021
Post a Comment for "Kita Perlu Jean Paul Sartre untuk Mengatasi Bucin"