Kebenaran dalam dunia digital, sepertinya dan senyatanya
lebih semu dari kebenaran di dunia nyata. Terlalu lama berada dalam titik
keraguan dalam melihat penampakan yang diberikan adalah sesuatu yang tidak
baik. Tergesa-gesa menilai bahwa ini adalah kebenaran dan ini adalah kesalahan,
juga merupakan kecerobohan. Memang harus membutuhkan kewarasan yang benar prima
dalam membaca fenomena digital serta menyingkapnya.
Kita sendiri tidak bisa mengendalikan jari-jari yang
memberikan putusan akan kebenaran atau kesalahan. Dimana dari jari itu
menunjukkan arah gerak dunia. Memang mentari akan tetap terbik esok pagi,
tetapi suasana yang kalut akan menjadikan sinar itu seolah tidak pernah datang.
Akibat dari intervensi wacana dari dunia sebelah yang tidak karuan. Bisa juga,
seolah mentari tidak pernah terbenam selamanya karena dari dunia sebelah pula
mengabarkan hal-hal yang kita inginkan.
Bertambah satu tugas manusia di era sekarang. Disamping
mengatasi hatinya juga jarinya. Dan jari itu mempunyai pengaruh dalam mengatur
suasana hati. Bagaimana tidak? Seseorang yang terbiasa eksis di facebook,
Instagram, Twitter dan sosial media lainnya sebagai seorang seleb dengan
ratusan bahkan ribuan like. Akan terpana dengan klik jari penggemarnya.
Sampai akhirnya pikirannya mengalir menuju hilir sebab-sebab jari-jari nge-klik
like.
Disatu sisi realitas digital sangat menghibur hingga menipu.
Disisi lain menggoda untuk selalu update agar dilike. Mau jujur
ataupun tidak, sesuatu yang kita posting dan disukai orang. Menjadikan kita
merasa senang. Motivasi berasal dari jari-jari yang nge-like agar
terulang berkali lagi dan lagi.
Dalam suasana dirundung bahagia. Kita tidak tahu secara
pasti apakah mereka yang nge-like benar-benar sesuai antara hati dan
jari atau tidak. Yang jelas kita tergoda oleh hiburan dan tertipu dengan adanya
jari yang nge-like. Seseorang yang dengan mudah merasa senang dan
terhibur bukanlah termasuk dari pribadi yang kuat. Sama halnya mereka yang
gampang sekali tumbang manakala tersudut.
Like akhirnya adalah gangguan pada eksistensi manusia
untuk menjadi sosok yang utuh. Tidak hanya mereka yang sering diguyur oleh
tepuk sorak ceria dari warga net, tetapi mereka yang tidak memperolehnya
sehingga berharap akan hal yang sama, juga dikatakan pribadi yang rapuh pula.
Jika sedari dulu kita mengenal setan yang menganggu
kehidupan manusia dalam dunia nyata. Ketika manusia bermigrasi mengambil posisi
dalam dunia maya setan pun turut menyertai dengan konsep gangguan yang sama
hanya teknisnya berbeda.
Setan tersebut, kita sebut setan digital, memburamkan dan
meniadakan kemampuan akal pikiran pengguna sosial media dengan cara
membanggakannya ketika mendapat like. Tanpa harus pikir panjang dan
pencermatan yang cukup jeli, like adalah netizen benar-benar menyukai
postingannya.
Padahal ada beberapa kemungkinan, bisa jadi postingan
tersebut tidak benar disukai atas dasar pemahamannya. Melainkan karena
ketenaran orang yang memposting itu saja, seperti pejabat publik, selebritis,
ilmuwan terkenal. Jadi bukan objeknya tapi orangnya. Jika begitu, tidak perlu
repot-repot membuat postingan. Apapun pasti akan dilike.
Kemungkinan lain, netizen yang ngeklik like sekedar
pencet karena melihat postingan tersebut telah disukai sekian banyak orang.
Bukan dari keputusannya, tetapi hanya ikutan dari kebanyakan orang. Tidak ada
pertimbangan, kenapa ia suka.
Setan digital telah merambah ke dunia maya. Memperdayai
pikiran netizen dengan sesuatu yang tidak sebenarnya. Hal ini kurang banyak
disadari oleh kebanyakan orang. Mereka tetap merasa bangga dengan apa yang
sebenarnya ia anggap benar sayangnya itu adalah tipuan halus dari setan
digital.
Jika ia tertipu tidak bisa dengan mudah menyalahkan si setan
digital itu. Melainkan harus introspeksi diri bahwa ia adalah bagian orang yang
sering bangga terhadap dirinya sendiri. Setan digital hanya menyempatkan
peluang tersebut, agar lama-kelamaan ia terjerumus dalam kefasikan digital.
Jubung, 06-11-2021
Arif Prastyo Huzaeri
Post a Comment for "Like Semu dan Kefasikan Digital"