Klik: Meraba Dunia Fana Baru

klik meraba dunia

Ini kabar baik atau bukan, entahlah. Bahwa dunia fana kita bertambah satu. Artinya bertambah luas. Disamping ada dunia nyata-fana ada dunia Maya-fana. Pertama kali terucap tatanan dunia baru ini, ketika William Gibson merilis novelnya, Burning Chrome, 1982 dan berlanjut pada novel berikutnya dua tahun setelah itu, Neuromancer. Pada tahun itulah kata cyberspace (ruang siber) yang akrab dan serinng kita ucapkan dikenal oleh khalayak. Lama-kelamaan hingga sekarang menjadi kosa kata baru yang menyumbang dalam percakapan kebudayaan kita sehari-hari.

Sepertinya ia lebih nyata daripada dunia nyata yang sebenarnya. Bagaimana tidak? Banyak orang lebih leluasa bergerak dan berucap disana. Tanpa harus peduli kalau sebenarnya, ia sama-sama dilihat dan diawasi. Bukankah prinsip kenyataan adalah bagaimana terdapat jaminan kebebasan bagi tiap-tiap individu tanpa harus merasa ada pengendalian. Itulah kiranya dalam dunia maya. Ia lebih menjamin gerak kebebasan bagi tiap individu.

Keberanian berekspresi lebih total terlampiaskan dalam ruang-ruang siber. Semuanya terjadi setelah bunyi "klik" terdengar. Itu berarti ada kebebasan yang sedang didistribusikan. Semakin banyak klik yang terdengar, semakin banyak pertandingan hasrat yang bebas sebebasnya.

Benar sekali menurut penuturan penulis buku "aku klik maka aku ada", F.Budi Hardiman, dalam sebuah sinopsis yang mengantarkan pembaca mengerti maksud dari isi buku. “tidak ada desing peluru dan kucuran darah, yang ada hanya bunyi klik”. Layaknya revolusi-revolusi pada umumnya yang pernah tercatat oleh sejarah, di Rusia, Prancis, Cina dan Indonesia semuanya selalu menagih tumbal darah. Tinta sejarah diganti dengan tinta berbau anyir darah untuk menggoreskan dunia harapan setelahnya.

Sedangkan revolusi digital, dunia cepat sekali berubah hanya dengan bunyi klik berkali-kali. Seolah itu bukan revolusi dalam arti yang selama ini kita miliki. Tetapi, kita tahu, hanya dari bunyi klik sekali saja dunia dewasa ini bisa porak-poranda. Rasa cemas dan was-was tersebar menyeluruh ke pelosok-pelosok yang dialiri sinyal.

Hanya lewat jari telunjuk yang membunyikan suatu bunyi yang tidak berharga, klik. Bunyi klik yang syahdu dalam keheningan ia begitu kentara dalam keramaian ia diabaikan. Hanya bermodalkan jari, apapun dari bagian dunia bisa diraba. Maka sejurus, lebih cepat dari besutan pedangnya Bukeksiansu. Hasrat dari pemilik telunjuk Sudah menyebar ke permukaan bumi, layaknya sinar mentari pagi.

Jika hasrat itu berbentuk hoax, maka tidak butuh peluru dan darah, bumi bisa berantakan. Jika hasrat itu adalah kebenaran, tetapi konsumen tidak bisa mencerna dengan baik. Justru memproduksi pemahaman yang keliru, maka tidak lain adalah kebenaran yang terpalsukan. Tidak ada bedanya dengan hoax. Secepat ia tertarik dengan informasi yang keliru atau ia kelirukan lewat dasar pemahamannya sendiri. Saat itu pula ia menjadi konsumen dan distributor berita bohong tersebut.

Untuk itu sebagai produsen dan konsumen dari "klik". Selayaknya untuk bijak, bajik, cerdas dan waras dalam setiap pengambilan gerak nge-klik. Jika telunjuk Adolf Hitler akan menentukan hancur dan sirnanya sebuah negara. sekaranng tidak perlu telunjuk sedigdaya miliknya. Telunjuk mungilpun, tanpa hasrat menguasai apapun hanya melampiaskan keinginan diri sendiri bisa merubah takdir dunia.

Sebelum nge-klik berpikir terlebih dahulu merupakan formulasi terbaik. Syarat nge-klik sebenarnya harus adanya kondisi mampu berpikir. sehingga yang "aku klik maka aku ada" adalah hasil dari pikiran yang dirawat oleh akal yang jernih dan sehat.

Tegalwangi, 07-11-2021

Arif Prastyo Huzaeri

Post a Comment for "Klik: Meraba Dunia Fana Baru"