Merajut Kebahagiaan Bersama Epikuros

 kebahagiaan

Berani bahagia di saat yang tidak baik-baik saja adalah keputusan terbaik dalam memaknai hidup. Dewasa ini, rasa-rasanya bahagia menjadi sebuah utopia yang secara eksplisit mudah sekali ditemukan dalam lapisan masyarakat. Bahagia tidak perlu muluk-muluk, cukup dengan sebuah ketikan berisi untaian motivasi dan pegalaman hidup -copas, tuntas, meluas- di berbagai jejaring media sosial.

Dalam situasi pandemi seseorang dituntut berdamai dengan dirinya sendiri. Manakala bertambahnya kesulitan yang dihadapi, beradaptasi dengan perubahan gaya hidup, hasrat mendapatkan sesuatu yang baru, dan setidaknya kehendak mempertahankan kualitas hidup masing-masing. Bagi sebagian orang mudah saja mengatakan bahagia adalah makan atau bahagia adalah ketika panen tiba dan lain-lainya.

Dari berbagai pendapat yang berbeda-beda pada dasarnya bahagia sangat berdekatan dengan nilai kecukupan. Bahagia meniscayakan sebuah usaha dari subjek atas kepentingan yang dikehendaki. Oleh karena itu pemikiran seseorang adalah episentrum bahagianya, Pandangan ini dikenal dalam bidang filsafat Antroposentrisme.

Lebih mudahnya seseorang mampu menciptakan bahagianya melalui kehendak diri sendiri. Antitesisnya adalah bahwa seseorang tidak bisa mewujudkan bahagianya sendiri, bahagia adalah pendiktean orang lain terhadap sesamanya. Lebih miris lagi ketika bahagia terobyektifasi dalam superstructure masyarakat.

Manusia dalam membentuk perspektifnya tidak jauh dari peristiwa yang di dalamnya mengandung nilai dan fakta. Pada sisi yang lain ia terbatasi oleh episteme yang berlaku secara umum. Sehingga potensi bahagia sebagai perspektif seringkali dikalahkan oleh episteme yang ada. Seorang sering terjebak dalam bahagia yang bersifat statis-formalistik, yang tidak memiliki dampak atau power atas kebahagiaan individu dan cenderung mengesampingkan nilai.

Pertanyaannya, apakah manusia akan cukup dengannya? Tentu tidak. Bahagia seperti itu bukanlah yang ideal dan layak. Hal itu dikarenakan manusia tidak dapat mencapai bahagia hanya sebagai nilai atau hanya sekedar fakta. Manusia membutuhkan bahagia sejati yang didalamnya mengandung nilai dan fakta.

Bagi seorang Seneca hidup bahagia adalah saat kita dapat mengontrol pikiran dan mencintai takdir diri sendiri. Takdir manusia adalah satu yaitu hidup dalam derita. Bahagia adalah soal kemampuan berdiri sendiri dalam derita.

Epikouros berpandangan lain, bahagia adalah mewujudkan nilai cukup dalam kehidupan sehari-hari. Jika kepuasan ditimbulkan oleh hasrat alamiah, maka untuk membatasinya adalah dengan rasa kecukupan terhadap sesuatu. Gampangnya, untuk bahagia seseorang harus membentuk kesadaran pada diri yang menjadi kebutuhannya.

Epikuros menguraikan bahagia sebagai nikmat yang muncul dari pengalaman inderawi masing-masing. Adapun tiga pokok ajarannya adalah sebagai berikut; 1. Untuk bahagia kenali baik-baik dirimu, dan hiduplah selaras dengan alam (manusia selalu terikat dengan jejaringnya dan alam) 2. Definisi bahagia hanya saat kita hidup di muka bumi (stop melihat masa depan atau masa lalu, nikmati saat ini) 3. Bahagia yang ideal adalah yang benar-benar bahagia.

Ajaran satu dan dua tidak sepenuhnya merepresentasikan bahagia, secara eksplisit ajaran pertama dibatasi oleh kematian, timbul pertanyaan bagaimana nasib bahagia yang tidak sempat terwujud? Ajaran kedua, menjadikan manusia tidak peduli dengan konsekuensi yang timbul atas tindakanya. Ajaran ketiga merupakan puncak dari ajaran bahagia perpsektif Epikouros. Ia menyebutnya  ataraxia yakni keadaan imbang, harmonis, dan damai.

Ataraxia menggolongkan bahagia dalam tiga kategori; 1. Kenikmatan alamiah dan mutlak (untuk hidup) mislanya; saat lapar, haus dan seks terpenuhi 2. Kenikmatan mutlak alamiah tapi tidak mutlak misalnya; makanan, minuman dan seks yang dicari secara berlebihan 3. Kenikmatan tidak alamiah tidak mutlak misalnya; selera ingin kaya raya, dimuliakan, dan di hormati.

Kesimpulan sementara dari pembahasan diatas adalah kebahagiaan individu tidak dapat diintervensi, dimanipulasi oleh struktur eksternal. Bahagia sejati adalah bahagia yang dapat diwujudkan diri sendiri, mencukupkan segala yang didapat semestinya bisa mengukur kadar kemampuan, mencari variasi kenikmatan, supaya imbang dan harmonis. Bahagia itu nyata jangan sampai hidup sekali hanya menikmati bahagia semu lebih-lebih sekedar formalitas.

Imam MDP

Jogjakarta, 07-11-2021

 

Post a Comment for "Merajut Kebahagiaan Bersama Epikuros"