Resensi Buku: Surabaya: Kota Pahlawan Santri

 

surabaya kota pahlawan santri

Surabaya: Kota Pahlawan Santri

Rijal Mumazziq Z

LTN NU Kota Surabaya

2017

xi+154 halaman

Sejarah

 

Buku ini memuat sepuluh bab atau lebih tepatnya esai dengan judul yang berbeda-beda. Dimana setiap tulisan mempunyai narasi yang berbeda dengan yang lain tetapi masih dalam satu tema yaitu perang kemerdekaan dimana hendak menilik kontribusi dari kalangan Pesantren, Kyai dan para santrinya dalam mempertahankan kemerdekaan yang telah dideklarasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Ditulis oleh Rektor Inaifas Kencong, Gus Rijal Mumazziq Z. Berupaya untuk mengurai dan menyingkap sebuah rahasia yang mengendap selama 76 tahun Indonesia merdeka. Suatu fragmen sejarah yang tidak pernah ditayangkan secara publik dan kurang diperhatikan oleh pemilik sejarah itu sendiri.

Sesuai dengan judul yang diberikan “Surabaya: Kota Pahlawan Santri”. Struktur kalimat yang tidak pernah kita dengar sepanjang Indonesia merdeka. Pasalnya, kita hanya mengerti bahwa Surabaya adalah kota pahlawan titik. Tidak ada imbuhan “santri”. Dari sepuluh bab atau sepuluh esai sejarah yang disajikan adalah upaya menampilkan bahwa para santri berdasarkan intruksi dari para kyai, turun gelanggang mengangkat senjata.

Berbagai peristiwa perang dalam rentang waktu, sejak disiarkannya resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 dan seterusnya, tercatat beberapa kejadian secara detail, mulai dari hubungan Bung Tomo dan KH Hasyim Asy’ary, resolusi jihad, laskar Hizbullah dan Sabilillah, fenomena supranatural, strategi para kyai, guyonan arek Surabaya, pengenalan beberapa tempat penting bersejarah sampai pada terminologi jancuk yang dilontarkan oleh para pejuang kemerdekaan di sekitar hari-hari tersebut.

Menariknya dalam buku ini disertai gambar tokoh dan tempat-tempat penting. Sehingga memudahkan pembaca untuk memvisualisasi cerita dan kejadian. Hanya saja pada bab ke sembilan yang membahas “napak tilas tempat bersejarah di kota Pahlawan”, justru tidak ada gambarnya. Padahal sangatlah butuh gambar, untuk menghilangkan penat dan bosan membaca nama-nama gedung dan tempat.

Bagi pembaca akan menemukan sensasi yang lain dalam menilik fenomena perang. Jika biasanya membaca cerita perang akan membawa pembaca pada imajinasi dimana desing peluru dan bau anyir darah ditampilkan, maka pada buku ini akan ditemukan kekonyolan para pejuang pada waktu perang. Ketika akan berangkat, memegang senjata, membidik musuh dan sebagainya. Dipenuhi dengan cerita lucu heroik, yang semestinya tegang dan kaku.

Merakit Kembali Sejarah yang Pernah Hilang

Membaca tulisan demi tulisan sampai akhirnya mengakhiri seluruh sajian dalam buku ini, menghasilkan sebuah perumpamaaan dalam pikiran bahwa setiap tulisan seolah sepotong kelopak mawar. Ia telah terpisah, sekalipun demikian akan tetap disebut mawar. Membaca seluruh isi tulisan berarti sama dengan memungut kelopak demi kelopak dan merangkainya dalam alam pikiran sebagai satu bunga mawar utuh.

Kita dapati, bahwa setiap tulisan dengan tulisan seolah berdiri sendiri-sendiri. Mempunyai nalar, narasi yang tidak bersambung antara satu dengan yang lain. Tetapi masih dalam satu tema yang sama, yaitu kontribusi para kyai dan santri dalam perang di Surabaya. Setiap cerita mempunyai harumnya sendiri-sendiri, tetapi tetap bisa ditarik dalam satu tarikan nafas, yaitu aroma harum heroisme kyai dan para santri yang ingin membela negaranya, mmemilih antara merdeka atau mati syahid.

Sebenarnya kita dapati, bahwa judul “Surabaya: Kota Pahlawan Santri” sudah dapat ditemukan dalam bab ke 2, yaitu Inferno Surabaya: Magnet bagi Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah. Pada paragraf terakhir penulis menarik kesimpulan berdasarkan asumsi-asumsi yang disuguhkan sebelummnya, untuk menyebut Surabaya sebagai kota pahlawan santri. Sedangkan bab yang lain, secara maknawi turut mengarah kesana. Sekalipun secara subtansi bernarasi dalam konteks lain.

Sejarah tentang resolusi jihad, peran pesantren; kyai dan santrinya dalam mempertahankan kemerdekaan sedikit demi sedikit dirakit perlahan tetapi pasti. Beberapa fakta mulai diungkap setelah lama tertimbun dalam puing sejarah. Termasuk buku yang ditulis oleh Gus Rijal ini, memberikan kontribusi dalam menemukan fakta baru dan menguatkan para sejarawan lain.

Buku sejarah yang satu dengan yang lain akan selalu melengkapi bukan bertanding. Pembaca sejarah akan mencari puzzle yang hilang dan sesuai diantara tumpukan puzzle-puzzle sejarah yang lain. Termasuk dalam buku ini, kurang diperlihatkan kontribusi kyai dalam mengkoordinir pasukan menjelang 10 November. Lebih banyak pada cerita akar rumput disekitar medan peperangan.

Untuk terakhir kalinya, membaca sejarah artinya menyiapkan konsep masa depan. Sebagaimana yang dikatakan oleh George Orwell dalam novelnya 1984,”barang siapa yang ingin menguasai masa depan ia harus menguasai masa lalu, barang siapa yang ingin menguasai masa lalu ia harus menguasai masa kini”. Kehadiran sejarah baru, sebagaimana yang diungkap oleh Gus Rijal adalah tanda kemenangan masa kini, karena hari ini kita bisa mengakses masa lalu demi menata kehidupan di masa depan.

Arif Prastyo Huzaeri

Tegalwangi, 09-11-2021

 

Post a Comment for "Resensi Buku: Surabaya: Kota Pahlawan Santri "