Di sebuah pagi yang menjelang
siang. Ketika sinar mentari sedang mencuri-curi celah ditengah awan. Agar binar
cahayanya sampai ke tanah. Saya yang sedang dalam meja kerja dihadapkan dengan
laptop abu-abu dan segelas kopi. Tiba-tiba terbawa pada suatu kumpulan ingatan
yang masih acak. Itu semua terjadi setelah melihat wallpaper adalah seorang
laki-laki yang tampak setengah badan di atas permukaan laut dengan membawa
trisula dan berita-berita berseliweran di media sosial tentang kekerasan
seksual.
Orang Romawi menyebutnya sebagai
Neptunus. Sedang orang Yunani menyebutnya sebagai Poseidon. Salah satu kaisar
Romawi, Caligula mendekrlarasikan perang dengan menyerbu kekuasaannya dengan
mengerahkan pasukannya untuk memukul, menebas dan menombak pantai dan ombaknya
sekalian. Lalu membawa pulang harta rampasan perang berupa kerang laut.
Karena Neptunus atau Poseidon itu
adalah mitos. Maka lebih pasnya tindakan raja itu sebagai irrasional. Romawi
sedang dipimpin oleh orang gila. Dalam sudut pandang lain, ini merupakan sebuah
tragedi yang bergejolak dalam jiwa manusia. Tidak sederhana, lantas dikatakan
gila saja. Suatu hasrat alami, kekuasaan tiada tepi bahkan tidak kenal mana
darat dan laut.
Neptunus, sebagaimana yang
tersebut dalam kartun Spongebob Squarepants, dikenal dalam mitologi sebagai
seorang yang berbadan besar dengan otot sempurna, six pack. Persis
seperti dalam wallpaper tersebut. Mukanya yang garang seolah menyimpan
kewibawaan laut. Padasnya yang perkasa, tidak gentar dipukul ombak. Dan
ombaknya sendiri yang tiada kenal kata putus asa. Tidak mau berhenti-henti
sehingga ia dikenal dengan menjadi dirinya sendiri yang selalu menyapa pantai
dengan keras.
Neptunus atau Poseidon, ia
melecehkan kehormatan seorang perempuan bernama Medusa. Ketika, dalam sebuah kesempatan
sedang berjemur di tepi pantai, dalam suasana senja. Cahaya merah
kegelap-gelapan sedang menggelinding ke ufuk sebelah barat. Suasana romantis.
Neptunus tergoda, menjadikan
gairahnya aktif, sayangnya hanya setelah melihat siluet tubuh Medusa. Bukan
bentuk aslinya. Sejurus kilat merayap, tubuh besar yang disegani oleh seluruh
ombak maupun badai. Membuat seorang kaisar iri. Luluh lantak dalam genggaman
nafsunya. Ia bertindak sebagaimana yang dilakukan oleh dosen dan polisi,
seperti dalam pemberitaan media hari-hari ini, pelecehan seksual.
Singkat cerita dalam mitologi, pengaduan
dari seorang wanita yang tercampakkan dalam dinginnya tepi pantai tidak
diperhatikan oleh penegak hukum Yunani. Ia justru dipersalahkan dalam perkara
ini. Karena menebar pesona tubuh sembarangan, di tepi pantai. Sehingga
memancing orang lain untuk melakukan kebejatan. Oleh karena itu, secara mudah
dapat dikatakan kalau Medusa memfasilitasi Neptunus untuk berbuat bejat atau
melanggar konstitusi atas dasar nilai kemanusiaan.
Sehingga kesalahan ada pada
Medusa, bukan malah tertuju kepada Neptunus yang tidak mampu menjinakkan
syahwat keabadiannya. Atau berupaya untuk mengendalikan kebuasan dari
hormon-hormon dalam tubuhnya. Mengingat Neptunus hidup di laut dalam kondisi
iklim dominan dingin dekat air dengan semilir angin terus-menerus tiada henti.
Barangkali geografi sedemikian yang menjadikan segalanya mengharuskan.
Sebelum Medusa di anggap menjadi
biang keladi kejahatan Neptunus. Perlu dipikirkan bahwa kondisi kehidupan
Neptunus sendirilah yang lebih dahulu mendorongnya untuk bertindak demikian.
Lingkungan sekitar tempat ia tinggal ternyata memfasilitasi, bagaimana tidak?
Dinginnya laut. Sehingga membutuhkan kehangatan. Menyoal pengendalian hawa
nafsu adalah masalah paling utama beratnya. Tidak diragukan lagi. Tubuh kekarnya
dan kuat tidak menjamin dirinya adalah seorang yang mampu menguasai diri
sendiri.
Termasuk realita hari ini. Kurang
mampu mengendalikan nafsu adalah modal utama bertindak kerusakan. Bukan hanya
otot tubuh yang kuat. Sekalipun ilmu yang mumpuni tetapi tidak dibarengi iman
maka tidak akan bisa terhindar dari kebejatan. Seperti contoh baru-baru ini, 12
santriwati oleh seorang tenaga pengajar di dalam pesantren. Neptunus mungkin
sekedar faktor dinginnya laut. Tetapi siapapun tidak pernah tahu tontonan dari
orang tersebut sekalipun ia dipanggil ustadz. Dan faktor-faktor lainnya.
Sayang sekali irrasional dan
kesintingan Caligula dalam ekspedisi militernya ke laut menantang Neptunus sang
dewa laut karena berdasarkan nafsu kekuasaan pula untuk menjadi dewa. Bukan karena
tindakan immoralitasnya, sehingga ia seolah berkewajiban menghukum. Dan seharusnya
butuh seseorang meskipun bukan kaisar atau tidak perlu menunggu menjadi kaisar
untuk menentang dan melawan immoralitas.
Tegalwangi, 09-12-2021
Arif Prastyo Huzaeri
Post a Comment for "Wallpaper Neptunus"