Beberapa transisi sejarah telah
dilewati. Berbagai model penguasa, kekuasaan, pemerintahan, strategi, intrik
politik, kekecewaan, pengkhianatan, polemik, aksi dan revolusi pun telah
berlalu. Hingga sampai pada nama yang kini kita bela dan banggakan dalam
berbagai ajang dan tanpa ajang sekalipun. Ada sepak bola menang atau kalah. Ada
badminton menang atau kalah. Tetap bangga dengan Indonesia.
Cukup mengherankan, seperti yang
dikatakan Cak Nun, Indonesia hari ini dalam caranya mengakomodir keadilan
dengan menghadirkan sistem pemerintahan seharusnya berbentuk kerajaan atau yang
ada bau-baunya. Tetapi, nyatanya kita lihat Indonesia hari ini menjauh dari
fakta sejarah yang dimiliki. Lantas dikubur dalam kenangan dalam bongkahan
cerita orang tua dan buku-buku.
Sebagai bekas jajahan Belanda,
seharusnya pun mengikuti model dari sistem pemerintahannya. Dimana 3,5 abad
bangsa kita bernapas dibawah sepatu serdadu. Akan jelas bekas-bekas hegemoni
yang tergores. Tetapi tidak, para founding fathers kita memilih suatu sistem
sebagaimana bangsa-bangsa modern lainnya. Yaitu demokrasi. Nafas yang dihirup
tidak lain adalah oksigen yang disemburkan di Prancis, persaudaraan, kebebasan
dan kesetaraan. Suatu yang sebenarnya tercela di Yunani, Plato mengutuknya.
Seluruh perangkat administrasi,
seragam, kosa kata seluruhnya telah berubah sebagai cerminan negara modern.
Yang tidak, hanya mentalnya rakyat saja. Sekalipun mereka berbicara dan
bertindak layaknya masyarakat yang hidup sebagai produk modern, tetapi
sedikitpun mereka tidak bermental orang yang hidup dalam negara modern.
Seseorang dalam status rakyat
tidak akan berani mencela atau mengkritisi kebijakan pemerintah. Kaidah
berfikir yang digunakan adalah bahwa pemerintah tidak akan mencelakakan
rakyatnya. Jadi hampir nyaris seluruhnya
dinilai kebaikan dan upaya menuju kesejahteraan.
Tidak bermasalah sebenarnya sikap
seperti itu. Tetapi sikap tersebut sebagai jalan untuk menuju menjilat seorang
penguasa yang seharusnya memperoleh kepercayaan, justru rakyatnya yang ingin
dipercaya oleh penguasa. Budaya yang terus membenarkan, terus saja sendiko
dawuh, keyakinan bahwa penguasa adalah kebenaran mutlak itu sendiri bukan
bagian dari negara modern.
Penguasa dalam perspektif negara
modern bukanlah titisan dari langit yang senantiasa benar. Melainkan seseorang
yang didelegasikan untuk mengurusi kepentingan orang banyak. Jika suatu ketika
ia dikira menyeleweng maka menjadi wajar saja kalau rakyat berdesakan menuntut
keadilan
Rakyat yang bungkam dan berbaik
sangka akan merelakan bila keadilan yang seharusnya berada disisinya harus
dikurangi atau bahkan direnggut. Seperti kata Drupadi dalam kesedihannya
setelah gagal dilucuti,"bahwa bungkamnya orang yang benar dianggap kejahatan
terbesar dari ucapan iblis".
Modal pertama yang perlu dimiliki
oleh rakyat adalah mengenal dengan akrab pada kebenaran. Yang hendak
difungsikan untuk menghitung keadilan dan kesejahteraan yang didistribusikan
oleh pemerintah. Sayangnya, setelah mendapat fasilitas dari pemerintah.
Lagi-lagi kembali kepada pemerintah. Bisa saja tidak difasilitasi karena dapat
mengganggu keserakahannya. Oleh karena itu dalam proses pencariannya bisa
dimulai dengan swadaya lebih dahulu. Baru setelah itu harus berani mengucapkan.
Rakyat yang pandai, kritis dan
cerdas akan cenderung tidak disukai oleh pemerintah yang sedang berkuasa.
Sehingga pemerintah akan berusaha untuk mengkudeta rakyatnya sendiri, dengan
jalan konstitusional. Kita mengerti sendiri beberapa aktivis keadilan sering
dikriminalisasi. Jika semua adalah aktivis maka bubar negara karena tidak punya
penduduk yang diperintah.
Begitu pula disisi sebaliknya,
penguasa kita lebih sering merasa terhormat ketika duduk di singgasana. Tidak
punya kesadaran yang membawa ingatan pada bau harum di ruangan ber AC nya
berasal dari keringat rakyat yang meluangkan waktunya untuk pergi ke TPS.
Dalam setiap kebijakannya,
penguasa cenderung menginginkan untuk mendapat pembenaran, setiap kali
disalahkan ia akan berbicara dihadapan media seolah menjelaskan dan seolah
mencoba meyakinkan rakyat bahwa mereka tidak paham. Selama seorang penguasa
bukan nabi yang mendapatkan wahyu berarti ia sangat mungkin salah. Jadi protes
adalah kewajaran.
Toh, mereka adalah seorang
delegasi rakyat dari bilik TPS. Ketika rakyat tidak puas atau merasa dirugikan
dengan caranya berkuasa maka seruan untuk kembali dari pendelegasiannya dengan
cara aksi massa adalah panggilan untuk pulang, bukan sikap immoral bagi tumbuh
berkembangnya negara. Kita lihat dengan cukup teliti, ternyata semuanya itu
adalah realitas berarti kita belum siap menerima sistem baru ini.

Post a Comment for "Demokrasi Kita Masih Mengkonfirmasi Sistem Feodal"