Judul buku :
Sunset Bersama Rosie
Pengarang :
Tere Liye
Penerbit :
SABAKGRIP
Tahun terbit : 2021
Tebal halaman :
408
Isbn :
978-623-96074-6-3
Genre :
Roman
Novel yang ditulis Tere Liye ini
memuat cerita dari gejolak hati remuk redam anak manusia yang bernama Tegar
Karang. 20 tahun ia mengenal seorang wanita bernama Rosie sejak kecil saat
rambutnya masih berkepang dua hingga tumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Tetapi
sayangnya waktu itu dikalahkan oleh seorang laki-laki baru yang lebih berani
dan mampu menggunakan kesempatan hanya tempo 2 bulan, Nathan. Akhirnya Tegar
karang sejak kali pertama ia mendengar Rosie menerima Natan dengan telinganya
sendiri di puncak Gunung Rinjani maka sirnalah seolah makna hidupnya. Ia depresi.
Kehidupan bergerak terbit dan
terbenam setiap harinya. Ada guratan takdir lain yang tidak disangka-sangka.
Suatu hari terjadi bom di Jimbaran yang merenggut kehidupan Nathan. Waktu itu Natan
dan Rosie telah dikarunia empat orang putri, Tegar telah mencoba menjauh dan
memperbaiki luka lama yang telah tertutup rapat. Peristiwa bom tersebut terjadi
saat mereka sedang melakukan video conference. Dari sinilah seluruh cerita
bermula.
Bom meledak ditonton dengan
sempurna dalam panggilan video bersama anak-anak Rosie. Mengetahui hal itu,
Tegar langsung saja pergi ke Jimbaran. Memesan tiket pesawat, sebelum ramai
pemberitaan oleh media. Sampai disana, Natan meninggalkan anak-anaknya menjadi
yatim dan Rosie menjanda. Akhirnya dalam masa kalut tersebut, Tegar Karang
mengambil inisiatif untuk mengulurkan tangan mengurus semuanya.
Rasa yang tersisa belasan tahun
lalu didalam lubuk terdalam hati Tegar memberikan kekuatan kepadanya untuk
meninggalkan pekerjaan, kehidupan baru yang sudah dirajut bersama Sekar, bahkan
ia rela meninggalkan pertunangannya untuk merawat anak-anak Rosie. Sedangkan
Rosie sendiri sedang mengalami depresi luar biasa, setengah gila. Tidak
tanggung-tanggung dua tahun Tegar merelakan usianya untuk merawat anak-anak dan
mengurus segala persoalan.
Ketika ia telah mengambil
keputusan besar dari alur takdir yang telah diguratkan dengan tantangan terjal, kelokan tajam, jurang-jurang curam. Ia
akhirnya memihak kepada setengah hatinya untuk Sekar, sekalipun setengah
hatinya adalah untuk Rosie. Cerita berakhir dengan kesia-siaan jalan yang
dipilih oleh Tegar, karena guratan takdir menentukan yang lain. Ia harus
bersama Rosie dan empat orang anaknya. Dengan jalan salah seorang anak Rosie
yang bernama Lili, baru bisa berkata-kata. Sekali berkata ia tidak ingin
memanggil Tegar dengan sebutan paman, om atau uncle, melainkan papa.
Sebagaimana dalam novel, bisa
diperhatikan sebuah makna lama yang terasa baru tentang artinya kesempatan.
Tegar Karang tidak cukup berani untuk mengutarakan apa yang seharusnya ia
sampaikan. Hanya memendam rasa terlalu dalam hingga akhirnya berubah jadi malapetaka
memenuhi seluruh jiwanya. Dikoyak-koyak oleh kenyataan yang terjadi akibat dari
takutnya merebut takdir.
Seandainya Tegar berani
menggunakan kesempatan sebagai sahabat Rosie dengan rasa persahabatan yang
lain. Maka takdir akan bercerita lain. Tidak seperti yang dibaca. Tetapi ketakutan
lebih menawannya. Mungkin tidak bisa dikatakan kalau sebenarnya Tegar kalah
oleh Natan yang kenal baru 2 bulan, sedangkan ia 20 tahun. Bisa jadi Tegar
kalah selamanya sepanjang tahun, selama matahari terbit dan terbenam. Karena ketakutannya
untuk sekedar mengucapkan disela-sela kesempatan terlihat permanen.
Seorang Tegar adalah orang yang
bergerak dalam arus takdir. Mengikuti entah kemana air akan membawanya. Apakah dilautan
luas dengan seluruh kekayaan dan kebebasannya ataukah akan berputar-putar di
lubang buaya. Ia tidak mempunyai kuasa untuk memilih bagi dirinya sendiri,
dalam hal ini adalah menentukan nasibnya bersama Rosie.
Orang seperti Tegar jelas tidak
menarik untuk dilihat dan dicontoh. Ia meremehkan kesempatan, padahal
kesempatan sedang berpihak kepada dirinya. Lebih-lebih ketika kesempatan dirasa
tidak ada, maka layak untuk membuat kesempatan menjadi hadir untuk dapat
dipergunakan. Bukan berarti menghindar atau merebut takdir, melainkan
mengupayakan dari keberadaan takdir yang lain. Toh itu artinya sama-sama tidak
mengerti kejadian dimasa depan. Oleh karena itu pintu menuju takdir adalah
kesempatan itu sendiri. Ketika tidak menggunakan pintu bernama kesempatan maka
bukan berarti tidak menjalani takdir. Tetapi sebenarnya sedang menyerah dan
menerima kepada takdir lain yang diluar kendali.
Dengan demikian bukan persoalan
20 tahunnya Tegar. Bisa jadi seluruh usianya akan ia tangisi apabila ia tetap
saja bersikap demikian.
Post a Comment for "Resensi Novel: Sunset Bersama Rosie"