Kemiripan Akun dan Tubuh dalam Mengakses Dunia

 


Kita tidak pernah membayangkan dan tidak pernah bisa, apa yang akan terjadi di masa depan. Selalu menjadi misteri. Begitu pula masa kini, dulu tidak pernah terbayangkan apa yang pada hari ini terjadi. Semuanya selalu diluar kendali. Bisa saja imajinasi manusia terlewat batas untuk memikirkannya atau kurang mencapai tapal batas. Tidak bisa memperoleh suatu bentuk yang akurat.

Kalau dulu nenek moyang kita menyadari adanya sebuah dunia diluar jangkauan tubuh fisik mereka, dunia gaib. Hari ini tercipta sebuah tatanan dunia baru, dengan konsep sosial-psikologi yang jelas berbeda. Ada lebih banyak keberanian, kecerobohan, keserampangan dalam bertindak dan berucap. Ada kebebasan menembus ruang-ruang terjauh. Tidak lain dunia tersebut, yang masih dalam kategori dunia fana, sebagaimana dunia fisik ini, adalah dunia maya.

Oleh karena itu seseorang pada hari ini mempunyai kesempatan untuk hidup dalam dua dunia. Dunia baru ini, kebanyakan diisi oleh generasi muda dengan kecakapan menggenggam telepon pintar. Sentuh layar dan geser atas-bawah, itulah yang cukup dilakukan.

Untuk menjadi warga dari dunia maya, seseorang harus mendaftarkan kewarganegaraannya dengan cara mengunggah identitas dari dunia fisik. Jadi sebenarnya kewarganegaraan dari dunia maya adalah proyeksi kewarganegaraan dari dunia nyata. Setelah terdaftar maka akan memperoleh fasilitas kebebasan yang melebihi dunia yang sebenarnya. Oleh karena itu, sepertinya secara sosiologis kebanyakan orang lebih meminati hidup dalam bentuk proyeksi bukan dalam jati diri yang memang benar-benar asli.

Identitas kedirian dari warga dunia maya diumpamakan sebagai sebuah tanda pengenal yang nantinya akan discreening di pintu masuk antar dunia. Hanya mereka yang mempunyai bisa keluar masuk. Inilah yang disebut sebagai akun. Menariknya seseorang bisa memiliki lebih dari satu akun. Artinya seseorang bisa mempunyai ragam bentuk kewarganegaraan dari dunia maya. Bisa sebagai seorang perempuan, meskipun laki-laki tanpa ada pemeriksaan. Bisa lebih muda, mengingat angka tahun kelahiran dijadikan lebih muda. Dan seterusnya, dengan kebebasan yang selalu mendapatkan rasa curiga dan ketidakpercayaan.

Akun ini bila dipikir-pikir lebih lanjut, mirip tubuh manusia. Ia adalah fasilitas untuk seseorang agar dapat mengakses ruang dan waktu, begitu juga dengan segala yang terangkum didalamnya. Perlu kita sadari, bahwa manusia bukanlah tubuh yang ia gunakan. Melainkan sebuah entitas lain yang bersemayam kedalam tubuh. Sehingga ia dikatakan sedang hidup, tergantung dimana ia singgah. Bisa di Indonesia sebagai seorang Jawa, Sunda, Batak, Bugis dan seterusnya. Bisa sebagai seorang Jerman dengan mata birunya. Bisa sebagai seoorang Arab dengan postur besarnya. Bisa sebagai seorang Barat dengan kulit putihnya.

Entitas itulah yang dinamakan sebagai jiwa. Dunia fisik ini adalah tempat transit, sepanjang tubuh memenuhi persyaratan hukum alam untuk beroperasi maka itulah yang dikenal dengan kehidupan tubuh. Jika sebaliknya maka itulah yang dikenal dengan kematian. Sedangkan jiwa sendiri adalah entitas keabadian. Ketika tubuh tidak memnuhi persyaratan tumbuh dan berkembang ditambah lagi terjadi kerusakan mekanik yang fatal, maka jiwa akan melanjutkan perjalanannya ke tempat persinggahan selanjutnya.

Sedangkan akun adalah fasilitas untuk mengakses dunia fana yang baru ditemukan. Entitas yang dibawa tidak lain adalah identitas dalam dunia fisik. Jika suatu hari mendapatkan gangguan entah dalam bentuk teror yang merusak harga diri dihadapan sesama warga net. Maka pemilik akun akan meninggalkannya, jarang sekali ini disebut sebagai kematian, sekalipun ditinggalkan oleh jati diri yang berasal dari dunia fisik. Melainkan akan mengatur ulang kehidupan baru didunia yang sama dengan akun baru.

Terkadang ada pula sebuah peristiwa bunuh diri akun, istilah ini juga jarang atau tidak pernah digunakan, semisal begini, seseorang yang menjalin hubungan asmara didunia fisik biasanya akan diperteguh didalam kehidupan maya pula. Apapun yang terjadi di dunia fisik sebagian akan dihadirkan didunia maya, entah dalam narasi dan gambar gembira, sedu, sedan, terkejut, terpesona dan menderita. Apabila jalinan asmara mengalami keretakan dan pada akhirnya kandas, sehingga melahirkan kebencian. Sedikit dari yang banyak pemilik akun akan melakukan bunuh diri akun dengan cara menggunakan sebuah fitur atau layanan untuk meninggalkan, yaitu dengan cara tutup akun.

Bunuh diri akun bukanlah kematian, karena yang diberhentikan adalah kenangan yang dilakukan oleh akun tersebut. Sehingga seseorang setelah meninggalkan akun tersebut akan membuat akun lagi. Artinya ia sedang memperbarui kehidupan baru di dunia yang sama, dengan kondisi sosiologi dan psikologi yang benar-benar baru dan berbeda dari sebelumnya.

Tegalwangi, 24-01-2022

Arif Prastyo Huzaeri    

Post a Comment for "Kemiripan Akun dan Tubuh dalam Mengakses Dunia"