Radeya aliyas Karna, raja Angga. Sulung
dari Yudistira, Bima dan Arjuna. Sejak kecil ia telah akrab dengan nasib
nestapa. Kelahiran yang seharusnya membahagiakan justru dipenuhi dengan isak
tangis tak tertahankan dari sang Ibu. Sungai gangga menjadi saksi pilu
perpisahan antara sang anak dan ibu. Sampai dibawanya kepada seorang Ibu baru
yang darinya ia mewarisi kebaikan, Ibu Radha. Suaminya adalah seorang kusir
kuda Bisma yang agung, Adirata.
Secara stratifikasi sosial Karna
harusnya diterima sebagai murid Drona. Peralihan dekapan dari Kunti ke Radha
juga menjadi pertanda peralihan derajat dari ksatria ke suta. Jiwanya yang
membara tidak kunjung padam untuk menelan segala jenis pengetahuan, membuatnya
selalu tegar dalam terjangan gelombang nestapa dan nasib yang tidak memihak
kepadanya. Akhirnya ia memilih gurunya sendiri, Parasurama.
Setelah segala ilmu
kebijaksanaan, kedigdayaan dan kanuraga berhasil ia serap. Sampai pada suatu
hari seekor serangga menggigitnya. Sakit tidak lebih terasa dari terbongkarnya
jati diri. Bahwa Karna bukanlah seorang brahmana melainkan ksatria, sedangkan
Parasurama tidak menerima murid kecuali dari kalangan Brahma. Kutukan pun ia
terima, kelak di waktu genting, ilmu yang berhasil diperolehnya akan
terlupakan. Tidak hanya itu, kutukan terus menjalar. Karna dikutuk oleh seorang
Brahma bahwa pada suatu hari nanti roda keretanya akan terjerembab ke dalam
pasir. Karena ia menabrak mati sapi milik sang Brahma.
Identitasnya tertutup sebagai
ksatria, menyebabkan mereka yang tidak tahu untuk terus mencibir dan
merendahkan sebagai anak kusir kuda. Kemampuannya dalam senjata panah yang
telah mengimbangi Arjuna tidak pernah dilihat sebagai prestasi, seolah cela
sosial lebih tampak dari kelihaiannya dalam memainkan anak panah. Lagi-lagi
masih sebab “anak kusir kuda” ia harus tertolak olehh seorang putri jelita raja
Drupada, putri Drupadi.
Nasib nestapa dan nelangsa
sepanjang hidupnya tidak mengurangi kebaktiannya. Karna adalah prilaku seorang
yang murah hati, apapun yang ia miliki akan ia sedekahkan termasuk pusaka yang
menjadikannya tidak mempan oleh berbagai jenis senjata. Indra yang mengetahui
hal itu mencemaskan anaknya, Arjuna, menyamar sebagai pengemis untuk disedekahi
dan ia berhasil. Akibat kebaikan Karna, setelah itu para Kurawa tidak lagi
memiliki tameng yang kuat.
Derita dan terus menderita dalam
berbagai hidupnya. Tidak satu celahpun kecuali telah diisi oleh pelecehan dan
makian “anak kusir kuda” menjadikan Radeya atau Karna terlihat dahaga untuk
menerima kehormatan. Ketika ia tenggelam untuk direndahkan oleh siapapun, maka
sangat wajar Karna membutuhkan pertolongan sekalipun melalui punggung buaya dan
itu adalah Duryudana. Tetua Kurawa, ksatria anak Destrarastra.
Pertemanan yang tampak sekilas
mengharukan, tidak disadari oleh Karna bahwa Duryudana ssebenarnya hanya
memanfaatkan keahliannya dalam memanah untuk melawan Arjuna. Karna telah buta
akan hal itu disebabkan harga dirinya yang sedang sakit terkoyak tak
tertahankan melalaikan terangnya kebenaran. Karna telah tersesat dalam jalan
kebaikannya sendiri hanya karena luka menganga dan berdarah dalam hatinya,
sehingga untuk memperoleh kehormatan ia melampaui batas-batas yang semestinya
diperhatikan.
Adipati Karna adalah pemisalan
dari kewajara yang dimiliki oleh seorang manusia, yaitu menginginkan agar
mendapatkan penghargaan ditengah orang banyak atau sekedar dihadapan
perseorangan. Memang orang yang mendapatkan penghargaan akan lebih mudah memperoleh
kebenaran, sebagaimana seseorang yang menginginkan memperoleh ikan dengan
memastikan ada atau tidaknya dalam sebuah kolam yang bening. Bagi yang
sebaliknya, mencari ikan di air keruh akan terasa sukar. Tetapi tidak boleh
baginya sekalipun dalam kondisi keruh untuk merusak habitat asli ikan, seolah
berharap agar seluruh ikan menjadi miliknya.
Bahwa setiap manusia mempunyai
hak untuk memperoleh penghormatan tetapi dengan syarat tidak mengganggu
kebenaran. Begitu pula dengan kebenaran sendiri, siapapun berhak atasnya tetapi
dengan kadar sesuai kapasitasnya sendiri-sendiri. Memahami dan mengenal
kebenaran yang layak dan cukup merupakan sifat terpuji dan sikap yang teramat
sulit. Sayangnya kita dapati tidak sedikit orang seperti adipati Karna yang
terluka karena tidak dihargai sehingga memaksa untuk memperoleh penghargaan
sampai-sampai melukai kebenaran. Atau memaksakan kebenaran ada pada dirinya
dalam jumlah yang sangat besar dan sia-sia, tanpa memperdulikan kebutuhan
dirinya sendiri.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 24-01-2022
Post a Comment for " Nestapa itu Berjuluk Adipati Karna"