Konon, ada cerita bahwa ular
sawah dalam suatu kesempatan mengeluarkan seluruh bisanya. Sebagaimana kita
ketahui hari ini, ular jenis tersebut tidak memiliki bisa hanya kekuatan
lilitan saja. Kemudian, bisa yang dikeluarkan dihisap oleh beberapa hewan kecil,
seperti lebah, kalajengking, kelabang, semut hitam dan beberapa serangga
lainnya yang memiliki racun. sekalipun tidak mematikan tetapi sudah cukup untuk
membuat lawannya merasakan kesakitan dan bersikap untuk menjauhi apabila
berjumpa.
Rasa benci apabila diumpamakan
pada bisa hewan-hewan tersebut, maka akan nyaris benar sempurna. Tetapi hanya
nyaris bukan persis. Soalnya, kebencian adalah nama lain dari jenis racun yang
cukup berbahaya. Ia singgah atau menetap pada dada sebelah kiri. Orang yang
sedang memendam amarah, pasti rasa yang timbul berasal dari tempat tersebut. Tetapi
ketika didiagnosa oleh tenaga kesehatan paling mutakhir sekalipun, jelas tidak
ada bentuknya.
Jika bisa atau racun akan
berbahaya pada apapun yang dihadapkan sebagai lawan, sehingga terdapat
serangan. Maka kebencian pun juga hampir sama, orang yang memendam rasa benci
dan tidak kuasa untuk meredamnya sehingga harus-harusnya untuk mengekspresikan
pada objek yang dibenci. Pertama akan membahayakan orang lain, tidak akan
pernah dapat dikendalikan dampak dari kebencian tersebut. jika akalnya cukup
sadar, maka itulah organ satu-satunya yang bisa menyelamatkan. Jadi intensitas
kebencian tergantung pada intensitas kesadaran dari seseorang.
Berbeda sekali dari kalajengking
dan ular ketika menyerang siapapun diluar diri mereka. Bisa atau racun akan
dibawa kemana-mana, zat yang menjadi bagian tubuh. Tidak berbahaya bagi yang
memiliki. Tetapi, sebagai bahaya kedua, kebencian akan membahayakan diri
sendiri. Rasa nyeri kepada orang lain, sebelum terbalaskan akan berwujud
terusan. Beberapa orang yang memang benar menjalaninya akan merasa dahaga
berkelanjutan sampai kebencian tersebut berwujud. Terkadang ada yang menampilkan
dalam bentuk merusak barang milik sendiri,
berteriak sekeras-kerasnya, bergerak dalam keadaan tak terkendali dan
juga langsung eksekusi membalas orang yang dituju dengan cara apapun
terpikirkan secara sistematis atau serampangan.
Sewaktu Gandari melahirkan
seonggok daging, kemudian atas kesaktian Resi Byasa merubahnya menjadi para
pangeran Astinapura Duryudana dan saudara-saudaranya, para Kurawa. Maha mentri
Widura mencium bau kejahatan dari bayi kakaknya itu, Destrarastra. Ia mengusulkan
untuk membunuh Duryudana, tetapi ditolak dengan beringas oleh sang ayah
tercinta. Pada akhirnya para Kurawa, Duryudana dan saudara-saudaranya menjadi
simbol kejahatan, angkara murka. Menjadi sebab terjadinya pembantaian umat
manusia di padang Kurusetra. Perkelahian antar sepupu, Pandawa melawan Kurawa.
Duryudana secara khusus dan
saudara-saudaranya bukanlah anak manusia yang perlu dipikirkan resikonya. Selama
ia hanya seonggok daging yang berjalan. Tetapi setelah hatinya dirasuki oleh
api kebencian, iri, dengki, angkuh, sombong maka tidak hanya Astinapura akan
celaka dalam kemelut api mahkota, apabila ia kenakan tetapi sebagian dari
dunia. negara-negara yang ikut andil di padang Kurusetra pula, ikut terkena
jilatannya. Ia bukan seonggok daging lagi, melainkan bara yang menghanguskan
apapun yang bersentuhan. Iblis pun, sewaktu melihat Adam lantas muncul iri
dalam hatinya. Muncul sebuah rasa “saya lebih baik”, maka sejak saat itu dunia
dimulai, dan dari golongan yang enggan untuk bersujud dan terpatri didalam
hatinya rasa semacam itu menjadi tokoh antagonisnya.
Tidak diragukan lagi, kebencian
adalah suatu penyakit hati yang cukup berbahaya dan kurang disadari. Akibat yang
ditimbulkan sangatlah nyata dan rasional tetapi kehadirannya sebagai rasa
apabila diucapkan akan dianggap tidak masuk akal. Kurusetra pada eranya adalah
salah satu contoh akibat dari kebencian. Tidak berhenti disitu saja masih
banyak padang Kurusetra-Kurusetra lainnya sebagai tampat atau gelanggang mengekspresikan
kebencian. Kewaspadaan perlu ditingkatkan dengan cara senantiasa untuk
menggunakan akal pikiran terlebih dahulu. Emosi yang berlebihan menunjukkan
bahwa daya akal sebenarnya kurang. Begitu juga dengan sebaliknya. Sangat perlu
kiranya untuk melatih akal pikiran agar dapat beroperasi ketika apai kebencian
ditiup oleh keadaan, sehingga tiak menjalar kemanapun.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 26-01-2022
Post a Comment for "Suatu Refleksi tentang Kebencian"