2 Cara Untuk Mengatasi Ketakutan Menurut Betrand Russel

 


Siapa yang tidak kenal Betrand Russel? Orang dengan perawakan kurus,  rambut seperti tak terurus, tetapi dia telah menulis buku sejarah filsafat yang cukup tebal. Cukup untuk membikin pembacanya menjadi kurus, buku yang cocok dengan ketebalannya sebagai bantal dan pengiring tidur, setelah kepala panas sebelum pikiran hangat.

Buku tersebut juga direkomendasikan oleh Rocky Gerung sebagai bacaan bagi pengkaji filsafat. Mau tidak mau buku tersebut memang cukup memadai untuk mengarungi samudra kefilsafatan bagi seseorang, sebelum menginjak kepada teks asli para filosof. Pembaca tidak akan disajikan sekedar kesimpulan, melainkan juga digenggam erat tangannya untuk diajak tahap demi setahap dengan bahasa yang sangat menggoda untuk mengikuti analisis para filosof sejak era Phusikoi hingga bab terakhir, yaitu pikirannya sendiri tentang analisis logis.

Siapapun yang hendak mengaji filsafat disamping mempunyai modal cerdas juga harus berani dan tahan banting. Termasuk untuk menuntaskan bacaan yang telah disediakan oleh Russel ini. Tidak sedikit yang sudah merasa bangga dengan menenteng bukunya ditangan kanan atau kiri dan menunjukkan sampulnya, tidak untuk mengungkap pikirannya.

Ngomong soal keberanian, tidak hanya untuk mengarungi teks filsafat yang rumit, tebal dan berat secara bobot ketika ditimbang oleh kurir biro jasa dan secara perjalanan berfikir. Tetapi lebih-lebih untuk mempraktikkan kehidupan yang penuh makna filosofis sehari-hari. Memang betul dan harus seseorang dimodali dengan keberanian. Tanpanya pengetahuan hanya menjadi rongsokan dalam kepala, karena secara fungsi tidak bisa diapa-apakan.

Seseorang yang penakut sekalipun pandai, tidak lebih mirip kerbau. Tubuhnya besar dilengkapi tanduk siap Serang, tetapi tidak ia gunakan untuk melawan dikala ia terancam, Betrand Russel sendiri pernah menyampaikan perkara ini, sebagaimana yang ia katakan, "akar dari persoalan dunia adalah orang-orang baik dan berwawasan luas ragu dengan dirinya sedangkan orang-orang cupet dan bodoh, mereka begitu yakin dengan dirinya". Kepandaian dan kebaikan harus menjadi satu paket dengan keberanian, tidak bisa ditukar-tukar dengan apapun yang lain.

Tidak sedikit orang yang dibelenggu dan dihantui oleh ketakutannya sendiri, tanpa memperdulikan sebenarnya realitas yang terjadi atau akan terjadi. Lebih dulu ketakutan itu merenggut gerak langkah dan kedip matanya, yang lebih banyak tertutup dalam menilai persoalan.  Dalam sebuah tulisannya yang dihimpun kedalam sebuah buku berjudul "bagaimana saya menulis", ia memberi solusi untuk mengatasi rasa takut, dengan dua cara yang akan kami ulas sebagaimana berikut.

1. Memahami Pokok Permasalahan.

Jika kita memang benar-benar takut terhadap sesuatu, pastikan dulu dan kenali apa yang kita takuti itu. Apakah dalam diri sendiri sudah tidak mampu atau kewalahan dalam menghadapinya, tidak salah kalau mau dicoba untuk mengahadapi tidak mesti dalam arti melawan.

Semisal, orang banyak yang takut dengan hantu. Anehnya yang takut-takut itu tidak pernah berjumpa dengan hantu. Sedangkan orang yang pernah jumpa dengan berbagai bentuk gaib dan jenis hantu, tidak merasa bermasalah manakala berjumpa. Artinya bukankah ketakutan sebenarnya berasal dari dalam diri sendiri bukan sesuatu yang lain diluar diri sendiri. Untuk itu perlu memberi pengertian terhadap diri sendiri dengan mencoba memahami sesuatu yang ditakuti itu apakah benar-benar menakutkan dan layak untuk dihindari. Atau sekedar perlu dicoba ulang dan ditantang dengan berbagai cara.

2. Mempraktikkan Keberanian.

Cara kedua terasa tautologis, mengatasi masalah dengan sesuatu dari permasalahan itu sendiri, tidak ada faktor luar yang menemani dan membantu. Tetapi memang harusnya begitu, permasalahan yang menyangkut jati diri diatasi oleh diri yang terdiagnosa beberapa gejala penyakit kejiwaan, termasuk ketakutan. Setelah mencoba memahami dengan benar pokok perkara, baru selanjutnya mencoba belajar membangkitkan keberanian berdasarkan pengetahuan yang telah ia cerna.

Sebagaimana dalam contoh sebelumnya, jika seseorang takutnya pada hantu, maka setelah mengidentifikasi hantu dalam berbagai sudut pandang dan menemukan kalau hantu itu tidak berbahaya, tidak menyakiti, sekedar mengagetkan dengan tampang yang diluar nalar dan tidak biasa dalam dunia manusia. Maka ditarik kesimpulan apa yang harus ditakuti. Untuk itu bisa sekali-kali dicoba janjian untuk bertemu sekedar membuktikan pemahamannya dan melatih keberanian. Pengalaman pertama melawan ketakutan akan memberi arti dan kesadaran bahwa ternyata selama ini, apa yang kita takuti dalam bentuk imajinasi ternyata tidak benar kalau sudah menjadi kenyataan.

Karena kebanyakan ketakutan berasal dari tafsiran-tafsiran pikiran kita yang terlalu berlebihan, hal tersebut terjadi karena kurang pengalaman. Jadi jalani dan alami dulu baru berkesimpulan.

Arif Prastyo Huzaeri

Tegalwangi, 25-03-2020

Post a Comment for "2 Cara Untuk Mengatasi Ketakutan Menurut Betrand Russel"