Setelah ramai-ramai dengan wayang
berjenggot, disambung dengan peraturan TOA adzan, lanjut dengan logo halal,
Soal IKN dan 34 tanah dari berbagai provinsi, berbagai persoalan tentang
minyak, mulai dari kelangkaan sampai komentar nyinyir Megawati kepada
emak-emak, hingga Marc Marquez yang jatuh terguling-guling di Mandalika. Itu
semua tidak lain adalah wacana yang dalam waktu berhimpitan kita konsumsi
bebarengan. Umpama sedang sarapan, seolah mencoba mencampur sayuran, daging,
pecel, soto, sambal, kerupuk, tempe, tahu, mie, bakso dsb dalam satu piring
lantas dilahap dalam satu waktu. Begitulah media, semenjak kita bernafas di era
klik, semuanya bisa diketahui secara cepat hanya dengan sentuhan. Karenanya
semua tersajikan yang jauh bisa terlihat, terdengar dari dekat.
Jika mau diperpanjang sajian
berita tersebut, pasti akan berkelanjutan tiada hentinya, selama orang-orang di
bumi ini masih ada dan matahari tiap pagi masih terbit dengan cahaya tuanya,
selama itu pula tidak ada kesangsian lagi bahwa perwacanaan akan berlanjut.
Saya sendiri merasa ada yang
janggal dengan wacana ini semua, seperti apa yang sedang diedarkan bukanlah
esensi dari keberadaan zaman dalam konteks sosial-politik. Sesuatu yang
ditangkap mata dan didengar telinga seakan hanya wujud yang sengaja ditampilkan
untuk untuk dikonsumsi publik sebagai suatu cara dalam menutupi sekelumit atau
bahkan seambrek kebenaran dari sebuah fenomena yang sedang terjadi. Sesuatu
yang benar ada pada bendanya dijauhkan dari akses publik sendiri karena ada
beberapa kekhawatiran dari cuap-cuap netizen yang berbahaya dan diperkirakan
mengganggu stabilitas.
Apakah memang iya, benar ada yang
disembunyikan? Siapa yang bisa menjawab, toh juga jawaban tidak tampak atau
tidak ditampakkan. Saya teringat dengan peristiwa beberapa tahun silam, ketika
terjadi aksi 212, ketika massa berarak ke Monas dalam rangka memprotes beberapa
patah kata dari Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang
dianggapnya telah menistakan agama Islam. Memang massa yang menggunakan dress
code berwarna putih itu berangkat dari hati nuraninya, semuanya berjalan sesuai
hukum alamiah, tidak ada intervensi dari pemerintah. Lagian yang digugat adalah
pemerintah sendiri.
Ternyata dengan adanya kegiatan
tersebut, dimana menjadi perhatian seluruh khalayak, semua media mengambil
fokus dalam beberapa hari untuk senantiasa menyuduti Monas dari berbagai arah.
Beberapa hal sepertinya diabaikan tidak mendapatkan liputan, kalau hendak
diliput pasti mencari jalan untuk mengaitkan dengan Monas dan atributnya. Saya
yang pada waktu itu menjadi mahasiswa, pulang kuliah mampir ke Pom Bensin untuk
mengisi tenaga si kuda besi. Setiap hari pulang-pergi kuliah dan senantiasa
mampir ke Pom, pasti ingat sekali berapa harga bensin itu sendiri.
Sewaktu seluruh Indonesia
memperbincangkan Ahok dan 212, saat itu pula ada selisih perbedaan dari digit
angka untuk harga bensin perliternya. Sayangnya, tidak satupun media yang
menganggap kenaikan bensin adalah perkara yang penting karena ada yang lebih
diminati publik. Sehingga kebijakan pemerintah pada waktu itu mengambil
kesempatan saat terjadi huru-hara, sehingga tidak akan ada satu orangpun yang
membahas, memperbincangkan apalagi melayangkan kecaman.
Jadi aksi 212 yang bersifat
alamiah itu, memberikan keuntungan, sebuah kebijakan menaikkan harga bensin
yang sebenarnya potensial diprotes justru tidak ada satupun yang membahas.
Walhasil, bagaimana dengan setiap pemberitaan terhadap sebuah kejadian entah
itu dikira bersifat alamiah atau memang sengaja dibuat sebagai rekaan untuk
mengalihkan perhatian massa, dan apakah berita-berita yang hari-hari ini kita
konsumsi sebenarnya untuk membuat wajah kita menoleh dan ada seseorang yang
berlari tanpa kita sadari atau memang esensi asli dari sebuah kejadian? Itulah
yang kira-kira dicari dan ditunggu.
Yang paling mencurigakan kali ini
adalah soal minyak, semakin curiga setelah Megawati berkomentar, sebagaimana
kita ketahui, dengan mempersalahkan emak-emak yang ribut dan antusias dalam
membeli minyak goreng, padahal kalau dipikir Megawati sendiri juga emak-emak,
senior lagi dalam usianya. Hanya saja, penuh tanya dan resah mencari jawaban,
kejadian apa yang sedang atau hendak terjadi sehingga minyak dijadikan isu
pengalihan. Mau tidak mau, akal jernih kita akan menganggap bahwa perihal
minyak dan segala tetek bengkelnya adalah peristiwa tidak masuk akal, ada
beberapa arus yang sengaja disumbat. Jika berita tidak menayangkan kabar
terbakarnya atau gagal panennya petani sawit, ditingkat dasar berarti tidak
bermasalah. Tinggal tingkat selanjutnya, ada apa dan dimana terdapat kemacetan
distribusi dan untuk apa? Kita bertanya dan esok akan diberi jawabannya.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 25-03-2022

Post a Comment for "Minyak Goreng: Dalam Politik Semuanya Disengaja"