3 Alasan Mengapa Martabak Dijadikan Oleh-oleh ke Rumah Seorang Perempuan


Bagi pecinta film romance, pasti tidak ketinggalan untuk menonton sebuah film yang diadaptasi dari novel Dilan 1990, karya Pidi Baiq, film yang disutradarai oleh Fajar Bustomi itu mengisahkan cerita cinta antara Dilan dan Milea pada usia remaja, tepatnya saat masih sekolah SMA.

Ada satu segmen yang sedikit menyinggung judul tulisan ini, yaitu ketika kang Adi datang ke rumah Milea, ia disamping membawa novel Prancis Madame Bouvary juga membawa oleh-oleh yaitu martabak. Kenapa kok martabak? Pasti ada alasan sosiologis yang menunjangnya. Kenapa bukan gorengan, Bakso, Mie ayam atau Pizza. Tetapi martabak.

Pada tulisan ini saya ingin berbagi pengetahuan atas penyelidikan saya terhadap kondisi sosial pinggir jalan dan kaitannya dengan watak dari seorang perempuan, kenapa cenderung ke martabak.

Pada tulisan ini saya ingin berbagi pengetahuan atas penyelidikan saya terhadap kondisi sosial pinggir jalan dan kaitannya dengan watak dari seorang laki-laki pada akhirnya cenderung membelikan oleh-oleh berupa martabak ketika mengunjungi rumah perempuan.

1. Cukup Mewah.

Mau tidak mau harus ngaku, kalau perempuan ternyata suka barang-barang mewah. Termasuk makanan. Sedikit sekali ada seorang perempuan, 1 banding 1000 mungkin, yang kurang update tentang makanan. Bahkan setelah menikahpun, mereka akan tetap seperti itu, yaitu suka makan yang enak-enak dan bermacam-macam. Martabak sendiri adalah satu kuliner yang tergolong mewah, derajatnya jauh lebih tinggi dari gorengan, tetapi ia tidak bisa dikategorikan diantara mie ayam, nasi goreng dan bakso, karena bukan makanan untuk kenyang, tetapi sekedar camilan. Kemewahannya dapat dilihat dari harga, uang saku anak SD, SMP gak akan kuat beli harus nabung dulu.

Tetapi bukan berarti yang mewah harus mahal, cukup katakan bahwa yang mewah adalah yang berkelas. Menjadi keinginan banyak orang, ada standar rasa enak yang digemari dan telur sendiri pasti disukai, kecuali bagi orang yang punya penyakit gatal-gatal.

2. Familiar.

Siapa yang tidak tahu dengan martabak, yang manis atau yang telor, kedua-duanya sangat familiar dijalanan. Hampir tidak ada jalan yang tiap malamnya banyak pedagang kaki lima kecuali disana juga ada pedagang martabak. Pasti itu dapat diperkirakan dengan sangat nyata. Karena martabak sudah mendarah daging di pinggir jalanan, maka siapapun pengguna jalan pasti mengenalnya dengan baik. Kuliner enak ini, jika sudah mempunyai reputasi yang baik didalam benak dan kesan orang banyak, maka dapat dengan mudah sekali untuk diterima oleh siapapun tanpa harus mempertimbangkan hal-hal yang rumit lainnya, seperti kesehatan. Jadi kalau seseorang bawa oleh-olehnya berupa sate, semisal, harus dipastikan penghuni rumah yang didatangi punya riwayat darah tinggi atau tidak. Kalau mau bawa Bakso, harus dipastikan suka atau tidak. Lebih-lebih kalau martabak itu lebih efektif dimakan sambil bincang-bincang. Bayangkan kalau makan nasi goreng sambil bincang-bincang di ruang tamu. Karena sudah banyak yang kenal aliyas familiar, maka martabak pun kerap menjadi media penghubung dari satu famili ke famili yang lain, untuk menjadi satu.

3. Kuliner yang Memang digemari Para Perempuan.

Sedikit bicara pengalaman jalanan, setiap ada kios martabak dapat dipastikan kalau hampir dari 90 persen pembelinya adalah perempuan, 6 persen adalah anak-anak usia dibawah 15 tahun, entah laki-laki atau perempuan dan 4 persen adalah laki-laki, itupun mereka membelikan istrinya, bukan kemauan sendiri untuk dimakan. Jadi antrian panjang menunggu martabaknya matang adalah diisi oleh kaum perempuan. Jika tidak percaya silahkan cek sendiri ke lapangan. Dengan cara tidak hanya sehari dua hari tetapi minimal satu Minggu agar prosentasenya akurat, seperti yang saya lakukan dalam tulisan ini.

4. Ternyata Perempuan Suka Makanan Berkalori.

Tidak ada ceritanya laki-laki menghindar dari makanan yang berkalori tinggi. Kebanyakan aktivitas tersebut dilakukan oleh perempuan, itu karena mereka merasa sudah tidak langsing lagi. Anehnya, mereka yang menghindar justru merekalah yang banyak menyantap dan menikmati camilan-camilan dengan kalori tinggi.

Jarang ada laki-laki ribet dan membahas soal makanan panjang-panjang, perempuanlah yang begitu. Dan memang kebanyakan makanan enak itu pasti mengandung kalori tinggi, jelas saja perempuan menyukainya. Meskipun dengan akibat yang akan ditanggung sebagai perempuan tidak menarik lagi. Begitu pula dengan Martabak, makanan yang satu ini mempunyai kelezatan justru dari tingginya kalori, komposisi telur, balutan tepung berprotein tinggi dan minyak yang melekat jelas berkilau. Sensasi rasanya justru didapat dari bahan-bahan tersebut.

 

Saputro

08-03-2022

Post a Comment for " 3 Alasan Mengapa Martabak Dijadikan Oleh-oleh ke Rumah Seorang Perempuan"