Bagi seseorang yang telah
memasuki usia pernikahan, ada baiknya bagi dirinya untuk memperhatikan beberapa
langkah dan tahapan sebelum masuk ke jenjang tesebut. Memang benar, seperti
kata kebanyakan orang bahwa pernikahan itu yang rumit adalah tafsirannya bukan
prosesnya. Tinggal sat... set.. sat... set... sebenarnya sudah selesai, tetapi
tafsiran-tafsirannya seolah hendak menafsiri dunia yang ingin dirubah pada masa
mendatang.
Sama halnya dengan proses editing
dalam melakukan desain grafis, yaitu sama-sama rumit. Tetapi tidak bagi mereka
yang lihai dan ahli mengoperasionalkannya. Bicara tentang kerumitan dan
keruwetan antara keduanya, yaitu nikah dan desain grafis, pada tulisan ini kami
akan bicara tentang persamaan dan perbedaan dari keduanya yang harus diketahui
oleh mereka yanng belum menikah apalagi mereka adalah seorang designer.
Antara keduanya mempunyai
kesamaan di awalnya saja, tetapi harus bersimpang jalan pada akhirnya,
lebih-lebih karena memang secara prinsipil jelas berbeda. Sekalipun begitu
perlu dipertimbangkan demi menghindari munculnya tafsir-tafsir yang rumit atas
kehidupan, karena pada intinya cukup jalani saja hidup ini. Toh sekalipun hidup
tidak diberi tafsir, ia senantiasa memberi makna terus-menerus. Berikut adalah
langkah-langkah yang mempunyai persamaan antara keduanya, nikah dan desain
grafis.
1. Koleksi.
Bagi seorang ahli sekalipun dalam
mewarnai dan mengkreasi sebuah ide dalam bentuk ilustrasi gambar, dengan
tatanan artistik yang megah dan enak dipandang, sarat akan makna yang dalam,
sesuai dengan konteks realitas. Itu semua tiada bukan karena kemampuannya dalam
melihat wahana desain secara matang dan tajam, sehingga mampu menghasilkan
karya desain yang maksimal dan diminati banyak orang. Meskipun begitu,
orang-orang dalam kapasitas tersebut tidak bisa menutup kemungkinan, bahwa
keahliannya juga didapat dari cara mengumpulkan ide-ide indah. Kegiatan koleksi
bentuk dan kombinasi berbagai warna adalah upaya untuk menghasilkan sesuatu
yang benar-benar baru dan indah. Jelas harus perlu mempertimbangkan sifat
kebaruan itu sendiri, karena jika tidak akan cenderung jatuh pada kegiatan
mencuri ide itu sendiri.
Begitu pula dengan menikah, ada
baiknya bagi seseorang untuk melakukan aktivitas koleksi. Yaitu mengkoleksi banyak
karakter dari calon pasangan yang hendak dinikahi. Bukan berarti harus banyak
pengalaman menjalin hubungan cinta kasih dengan banyak orang, tidak juga. Cukup
memperhatikan dan menjadi pengamat yang baik. Dengan begitu akan mempunyai
keluasan wawasan yang dipergunakan untuk mempertimbangkan kecocokan dengan diri
sendiri. semakin banyak pengalaman maka akan semakin banyak pula kemungkinan untuk
tidak menyesal dilain hari, karena sebelumnya sudah menjadi pelajaran dan titik
pijak.
2.
Seleksi.
Setelah mempunyai banyak koleksi
ide unik dan menarik, maka langkah selanjutnya bagi seorang designer adalah
melakukan proses seleksi. Jika hasil dari koleksi lumayan banyak, maka jelas
akan memberikan peluang untuk lebih mudah dan tidak perlu ribet-ribet memeras
pikiran dalam-dalam. Hanya tinggal seleksi mana yang perlu dan dikehendaki
untuk digunakan dan mana yang tidak perlu tinggal buang, hasilnya diupayakan
adalah karya yang benar-benar tampak otentik, disamping juga artistik.
Seseorang yang telah mempunyai
koleksi pengalaman terhadap lawan jenis atau telah menjalani banyak pengalaman
tersebut, langkah selanjutnya yang harus ditempuh adalah, sama dengan desain
grafis, melakukan seleksi. Ia mesti memillih satu diantara yang terbaik dan
terindah sesuai pandangan dan kapasitas dirinya dalam hal kecocokan. Jika menemukan
keraguan antara ini atau itu, maka ia perlu diam sejenak dalam beberapa waktu
untuk menemukan jawaban. Bisa jadi hal ini ditimbulkan oleh kebuntuan pikiran,
karena ketertarikan dari hati yang tidak bisa difahami secara jernih.
3.
Manipulasi dan
Resepsi.
Pada tahap terakhir inilah
terjadi perbedaan antara keduanya, nikah dan desain grafis. Untuk seseorang
designer tahap finishing yang harus dilakukan agar menghasilkan sebuah karya,
maka ia harus melakukan manipulasi objek-objek yang telah diseleksi, karen jika
tidak begitu maka karya yang ia hasilkan tidak lebih dari kegiatan kliping yang
hanya menghimpun dan menumpuk apa yang telah ada, bukan melahirkan sesuatu yang
benar-benar baru.
Sedangkan bagi seorang yang
hendak melangsungkan pernikahan, maka ia mesti meneguhkan hasil seleksinya dari
sekian banyak koleksi dengan jalan mengucapkan ikrar suci dalam akad pernikahan
yang disaksikan oleh kedua keluarga, maka terjadilah resepsi. Jika seseorang
tidak melakukan resepsi setelah seleksi, maka akan membuka kemungkinan untuk
menambah koleksi lagi, dengan begitu hasil seleksi yang barusan menjadi mungkin
tersingkirkan dan tidak mencapai hasil akhir.
Terkhusus bagi seorang designer,
niscaya disamping ia melakukan manipulasi dan resepsi atas hasil koleksi dan seleksinya
secara sendiri-sendiri.
Subagyo
09-03-2022
Post a Comment for "Persamaan dan Perbedaan Tahapan Menikah dengan Desain Grafis"