Rene Descartes telah memulai hal
baru dalam sejarah yang disebut sebagai abad modern, ia sendiri mendapatkan
julukan sebagai bapak modern. Dengan metode keraguannya yang radikal, akhirnya
ia menemukan sebuah kesadaran diri, "aku yang berpikir" sebagai
sesuatu yang tidak lagi bisa diragukan oleh apapun, berbeda dengan keberadaan
tubuhnya dan benda-benda sekitar, tidak ada jejak-jejak kepastian untuk tidak
diragukan, sehingga dapat dimungkinkan bisa terkecoh oleh, dengan menggunakan istilahnya,
para iblis yang jenius. Dengan begitu ia melandaskan dasar pengetahuannya dari
rasio.
Ia cukup berhati-hati untuk
memperoleh pengetahuan, pastinya agar menghasilkan pengetahuan yang memang
benar layak tidak sedikitpun terjadi kesalahan. Ada beberapa prinsip yang ia
gunakan sebagai pedoman untuk mengakses suatu pengetahuan, ia rumuskan didalam
bukunya yang berjudul Discourse On The Methode. Pertama, tidak pernah
menerima sesuatu sebagai benar, jika tidak memiliki pengetahuan yang sangat
jelas akan kebenarannya. Ia membuang segala bentuk prasangka dan pengetahuan
yang hanya sepotong-sepotong, dimana hal tersebut mempunyai nilai keraguan.
Kedua, membagi kesulitan ke dalam banyak mungkin bagian. Kesulitan-kesulitan
yang didapati, ia organisir dan atur sedemikian rupa agar antara satu jenis
dengan yang lainnya tampak dan dapat dikenali, serta diperolehnya penyelesaian.
Ketiga, setiap proses mengetahui
ia mulai dari sesuatu yang paling mudah terlebih dahulu baru kemudian beranjak
ke yang lebih sulit. Dengan begitu ada tahapan dalam melalui suatu pengetahuan
secara tertib serta latihan atas pikiran sedikit demi sedikit dan setahap demi
setahap. Keempat, melakukan pencacahan sedemikian lengkap dan pemeriksaan
secara komprehensif. Dengan begitu seluruh elemen dan bagian utuh dari sebuah
pengetahuan tidak ada yang tersisa, seluruhnya bisa diketahui secara maksimal.
Dari keempat prinsip tersebut
akan menjurus kepada dua metode yang bersifat teknis, intuisi dan deduksi.
Descartes memaksudkan intuisi sebagai sebagai kepala konsepsi pikiran yang
kebenarannya tidak dapat diragukan, semata-mata muncul dari terang rasio.
Seperti segitiga yang terbentuk dari tiga garis. Sedangkan deduksi adalah
penarikan kesimpulan dari beberapa proposisi yang diketahui secara pasti.
Deduksi bekerja berdasarkan intuisi, yang menjadi titik tolak penarikan
kesimpulan.
Descartes seperti halnya Plato,
ia mengandalkan adanya ide bawaan, yang mana dalam caranya mengetahui sebuah
objek diperankan oleh intuisi. Sehingga masih membutuhkan sebuah konfirmasi
dari dunia luar. Untuk mendapatkan ide bawaan seseorang, bagi Descartes harus
berupaya untuk mengngat kembali, yang mana dalam hal ini akan terbantukan
dengan adanya dunia luar. Melihat sebuah objek diluar dengan panca indra
berarti sedang mengingat kembali sebuah ide yang telah terbenamkan dalam
pikiran. Indra tidak pernah berfungsi dalam memroduksi sebuah pengetahuan
karena sebuah pengetahuan, semisal pola gerakan, rasa, warna sudah ada, indra
hanya cara untuk mengingat sesuatu yang sudah ada. Selanjutnya sebuah ide akan
diproses berdasarkan metode deduksi. Intuisi saja tidak bisa digunakan untuk
menghasilkan pengetahuan apapun.
Apa yang dilakukan oleh Rene
Descartes tidak lain adalah upayanya dalam membangun sistem filsafatnya, bukan
sebagai pedoman pasti dalam filsafat yang tidak bisa tidak harus diikuti. Ia
tidak besikap keras kepala untuk memaksakan metodenya dalam merubah total
sistem filsafat. Ia hanya sekedar mengajukan sebuah tawaran dalam berfilsafat.
Oleh karena itu, ia sendiri siap dan rela akan adanya kemungkinan bahwa kelak
akan ada perbedaan dan perlawanan atas metode yang ia temukan. Kerendahan
hatinya ini dapat dilihat dari bukunya Discourse On The Methode.
Tegalwangi, 18-03-2022
Arif Prastyo Huzaeri
Post a Comment for "Cara Memperoleh Pengetahuan Menurut Rene Descartes"