Beberapa Guyonan Banser Tegalwangi Saat Pam Jum'at Manis

 

Sudah menjadi rutinitas masyarakat bahwa pada hari kamis sore yang besoknya adalah jum’at legi, mereka berduyun-duyun untuk mengunjungi makam-makam keluarga yang telah meninggal. Untuk memanjatkan yasin, tahlil dan do’a serta menaburkan bunga di area makam. Oleh karena itu, jelas akan terdapat banyak orang yang berdatangan dengan sangat ramai.

Sebagian yang disibukkan dengan bekerja akan memilih waktu sesuai dengan kelonggarannya masing-masing. Ada yang pagi sudah datang, meskipun hanya satu sampai dua orang saja. Ada pula yang datangnya ketika siang sedang panas-panasnya. Tetapi pada umumnya mereka datang menjelang sore, dalam kondisi telah bersih seusai mandi. Mayoritas para peziarah adalah dari kalangan warga nahdliyin, dengan tidak menutup kemungkinan bahwa dari komunitas keagamaan lain warganya juga melakukan ziarah.

Di makam Gumokmori yang terletak di Desa Tegalwangi Kecamatan Umbulsari, ketika hari kamis menjelang jum’at legi masyarakat banyak yang berkunjung ke makam sanak familinya yang telah meninggal. Dengan membawa perlengkapan yang dibutuhkan mulai dari buku yang berisi bacaan tahlil dan yasin, bunga-bunga dengan beragam jenisnya dan sabit sebagai alat untuk membersihkan rumput.

Dari rumah mereka menggunakan alat transportasi sepedah motor ada juga yang masih memanfaatkan sepedah pancal. Karena lokasi makam tidak dapat dilewati sepedah sampai ke tengah otomatis sepedah akan ditinggalkan dipinggir jalan. Agar sepedah tetap aman, maka terdapat beberapa personel dari Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) Ranting Tegalwangi yang siap sedia menjaga sepedah-sepedah peziarah hingga selesai.   

Dengan berpakaian doreng, mirip tentara, dibagian belakang bertuliskan BANSER Ranting Tegalwangi mengenakan topi dengan logo yang sama. Para personel berjalan ngalor-ngidul sambil memantau pergerakan pengunjung yang datang dan yang pulang seraya menyapa beberapa peziarah yang notabene adalah tetangga sendiri atau teman. “karo sopo? Kok dewean? Lhoh kok jek cepete?”. Sapaan ringan semacam itu keluar secara spontan kepada peziarah, terkadang juga mengeluarkan lelucon, “piye wes nemu panggonmu?”, kalimat tersebut disaambut dengan tertawa terbahak-bahak.

Tidak kalah lucu lagi, ketika ada seorang anggota BANSER berbicara kepada temannya dengan menunjuk ke arah pintu masuk makam,”wong loro iko dadi terima tamu”. Kalimat tersebut disampaikan ketika melihat kawannya yang lain sedang menjaga di arah pintu masuk, ketika para peziarah datang mereka seolah menjadi penerima tamu dengan menyalami siapapun yang datang.

Begitu serba-serbi dalam penjagaan makam. Beberapa hari sebelum penjagaan atau beberapa jam. Terkadang satu anggota dengan anggota yang lain ketika bertemu atau via telepon saling bertegur sapa dengan bertanya,”piye njogo makam sok kamis?”, “ayo, njogo sepedah”.

Dari beberapa variasi kata tersebut sebenarnya yang dijaga itu apa? Sepedah, makam, atau keamanan?

Kalau kita fahami satu persatu, mulai dari kalimat menjaga makam, kata tersebut diucapkan karena menunjuk kepada tempat yang dituju yaitu pemakaman. Oleh karena itu bagi mereka yang mengatakan kata itu jelas mereka tidak akan menjaga makam, buat apa makam dijaga. Tetapi ingin menyampaikan makna dari kegiatan pada hari kamis dengan diwakili oleh kata “menjaga makam”.

Bagi yang berkata menjaga sepedah, kalimat tersebut lebih jelas dari kalimat sebelumnya. Salah satu tugas pengamanan yang diambil adalah bagaimana tidak terjadi kriminal, pencurian sepedah. Tetapi kalimat ini juga tidak benar sepenuhnya, dikarenakan menjaga sepedah bukanlah tujuan utama. Itu adalah tujuan yang bersifat perantara saja. Karena ketika peziarah masih khawatir sedangkan sepedah telah dijaga sehingga kekhusyu’an dalam berdo’a maka percuma.

Sebenarnya para BANSER NU pada hari kamis menjelang jum’at legi ketika nge-pam atau penjagaan di area pemakaman adalah bertujuan untuk menjaga dan memastikan kekhusyu’an para peziarah dengan memberikan kepercayaan atas sepedah atau apapun yang tidak dibawa masuk. Ketika mereka telah merasa aman maka tidak lagi memikirkan hal-hal yang aneh dan fokus dengan do’a yang dipanjatkan. Itulah tujuannya.

Dengan variasi kalimat “njogo makam, sepedah, keamanan”, pada intinya para BANSER ranting Tegalwangi sedang berupaya  menjaga kekhusyu’an para peziarah. Jadi seolah tugas yang tampak adalah menjaga hal-hal yang fisik tetapi ternyata mereka menjaga sesuatu yang berkaitan dengan yang diluar fisik, yaitu ketenangan dalam berdo’a tanpa harus memikirkan apapun karena sudah terdapat suka relawan yang hadir untuk mengemban misi itu. 

Arif Prastyo Huzaeri

Tegalwangi, 03-07-2021 

Post a Comment for "Beberapa Guyonan Banser Tegalwangi Saat Pam Jum'at Manis"