“Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitabNya.
Khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan.
Lantas bagaimana jika menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitabNya. Khawatir besok kamu tak bisa mendapatkan jodoh itu sudah menghina Tuhan?
Kenapa bisa seperti itu? Hal itu disebabkan rasa cemas yang terlalu berlebihan tidak dipertemukan jodoh.
Ketakutan itu maka akan membuat kamu lupa kepada Allah. Akhirnya kamu jadi lalai beribadah, malas berdoa dan jadi orang yang pesimis.
Dan parahnya kamu akan sangat terobsesi sekali mencari pasangan. Dan pada akhirnya lupa mana yang baik dan mana yang benar.
Sebab pemikiran kamu akhirnya akan seperti daripada harus menyandang gelar jomblo, lebih baik pacaran saja sama siapapun yang aku mau.
Pola pikir orang seperti itu sebenarnya terlalu sempit untuk meyakini bahwa jodoh itu sudah diatur oleh Allah. Secara tidak langsung kamu tidak percaya bahwa Allah telah mengatur jodohmu.
Hal itu sama saja kamu tengah menghina Tuhan sang Pencipta. Jadi mulai sekarang jauhkan hal-hal seperti ini ya”. (Sujiwo Tejo, budayawan)
***
Soal pandemi covid-19 yang tidak kunjung surut dan telah menguras tenaga yang begitu dahsyat, tidak hanya pikiran tetapi juga hati. Beberapa hari-hari ini kita melihat fenomena boneka yang dipasang didepan rumah dan menimbulkan beragam komentar, tidak hanya seputar masyarakat kita yang telah modern dan berpikir ilmiah lebih-lebih juga berkaitan dengan persoalan iman. Sebagaimana edaran yang dibagikan via whatsapp dari PC LBMNU Kencong terkait pembuatan orang-orang sawah yang merebak kala pandemi covid 19 sedang mengintai menarik untuk dicermati. Karena redaksi yang digunakan menunjukkan kehati-hatian, tidak serta merta menghakimi pola yang terjadi dimasyarakat, seperti yang bisa dikutip:
“Terkait orang membuat patung atau orang-orangan sawah yang ditaruh di depan rumah, dengan tujuan untuk menolak covid-19, Hal ini termasuk katagori thiyaroh atau Tasya'um (berfirasat buruk atau kuatir terhadap terjadinya suatu keburukan sebab sesuatu) yang mana hukumnya adalah haram, bahkan bisa kafir jika meyakini patung itu sendirilah yang bisa menolak covid-19 bukan Allah SWT. Namun status muslim itu sudah cukup sebagai dalil untuk tidak kita hukumi kafir, karena orang itu tidak akan meyakini yang menolak covid-19 adalah patung itu sendiri, akan tetapi jika orang itu ditanya pasti akan menjawab yang memberikan manfaat dan mudharat adalah Allah”.
Memang benar ternyata masyarakat yang membikin boneka didepan rumahnya tidak meyakini bahwa boneka tersebut lah yang mampu menolak bala’, sekalipun mereka memasang tetapi semuanya tetap dikembalikan kepada Allah SWT, bahkan seseorang warga mengatakan ketidakpercayaannya kepada beberapa ikhtiyar yang bersifat ilmiah, seperti obat-obatan dan vaksin. Ia mengatakan kalau tindakannya memasang boneka ternyata hanya menjalankan budaya jawa, bahwa ketika terjadi pageblug maka akan dipasang boneka didepan rumah tanpa harus menggantungkan kepercayaannya kepada si boneka. Tetapi apabila ada orang yang menaruh kepercayaannya kepada boneka maka jelaslah perkara, sebagaimana yang tertera dalam hasil bahtsul masail PC LBMNU tersebut.
Persoalan iman menjadi sesuatu yang sangat rumit untuk dibicarakan, karena tema tersebut menyangkut gerak-gerik dari hati manusia yang tidak kasat mata, tindakan anggota tubuh yang dianggap sebagai cerminan hati seing kali salah untuk dipersepsi. Sehingga yang memang benar-benar tahu bahwa seseorang itu imannya masih tertanam kuat adalah Allah sendiri, bahkan orang tersebut sendiri terkadang luput. Menganggap dirinya sedang beriman, semisal karena rajin pergi ke masjid, tetapi ternyata ada pergeseran hati yang kurang diwaspadai, sehingga ia terpleset tanpa sadar imannya terlepas.
Contoh yang mudah untuk kita perhatikan adalah jum’atan, karena pada hari jum’at seluruh orang akan pergi ke masjid kemudian lantas menjadi budaya, maka seseorang bisa saja pergi ke masjid dikarenakan kondisi yang telah membudaya bukan lagi karena dorongan iman. Ini persoalan yang rumit untuk dicermati, yang jelas iman adalah persoalan pribadi atau individu, bukan dengan kategori menuruti kerumunan seseorang dapat dikatakan beriman.
Kita jelas pernah mendengar nasihat atau ceramah dari seorang mubaligh yang mengatakan kalau obat itu adalah bentuk ikhtiyar, maka obat itu tidak bisa menyembuhkan penyakit apapun tetapi yang mampu menyembuhkan adalah Allah SWT. Sebagaimana cerita nabi Musa, ketika ia mengalami sakit gigi kemudian mendapatkan arahan untuk pergi ke gunung agar mengkonsumsi suatu bunga, pertama sakit, ia langsung sembuh, sedangkan untuk kedua kalinya dengan melakukan hal yang sama, sakitnya tidak sembuh. Cerita tersebut menjadi pengajaran kalau sebenarnya segala jenis obat-obatan yang bersifat ilmiah ataupun tradisional tidak pernah mempunyai kontribusi sedikitpun dalam soal kesembuhan. Meyakini ikhtiyar sebagai hal dapat mengubah takdir akan menimbulkan problematika dalam keimanan. Pada hakikatnya ikhtiyar dihadapan takdir hanya berupa sehelai rambut yang dihadapkan pada sebilah pedang tajam, yaitu tidak pernah ternilai.
Hal lain dan sering kita lakukan selain mempercayai kesembuhan lewat obat adalah meyakini amal yang banyak dengan segala bentuk ibadah mampu menyelamatkan. Ia bisa digolongkan sebagai orang yang beragama tetapi harus dan perlu dipertanyakan, apakah ia beragama saja tetapi tidak ber-Tuhan? Bisa jadi ibadah-ibadah yang dilakukan justru menjadi hijab atau penghalang untuk menuju Allah SWT, karena lagi-lagi menggeser kepercayaan dan keberislaman yang semestinya ditujukan kepada Allah, malah kepada ibadah itu semata dalam arti ibadah yang dilakukan memberikan dampak, bahkan beribada karena mencari dampak, semisal rizqi lancar, kehidupan damai, segala persoalan selesai atau dalam logika terbalik karena segala yang bersifat duniawi terpenuhi maka mengira bahwa sebenarnya itu semua adalah buah dari iman.
Belum tentu, Allah tidak bisa didikte oleh makhluk dengan ibadah mereka dan segala keputusannya itu milik Allah. Bahkan untuk tidak memberikan pahala kepada orang yang beribadah sekalipun atau mengampuni orang yang berlaku dosa terlalu banyak, karena Allah maha kuasa atas segalanya. Oleh karena itu hukum sebab-akibat tidak bisa diberlakukan untuk mengenal Allah SWT, dan hukum tersebut justru berbahaya untuk iman manusia.
Sederhana sekali, sebagaimana apa yang diucapkan oleh Sujiwo Tejo dalam kutipan diawal tulisan ini. Jadi tidak perlu tindakan yang heboh dan tampak dalam pandangan umum, persoalan iman merupakan sesuatu yang sangat licin, daripada itu kita sendirilah yang mesti berhati-hati dalam menghadapi segala fenomena kehidupan, jangan sampai hati bergeser dan berpaling dari-Nya. Untuk itu kita sendirilah yang sebenarnya dapat menjaga iman kita sendiri-sendiri.
Tegalwangi, 23-08-2021

Post a Comment for "Boneka Dan Persoalan Iman"