Hema adalah seorang pecinta alam. Dengan mesin ketik tua warisan dari sang kakek yang dulu berprofesi sebagai seorang jurnalis, ia menuliskan surat cintanya kepada alam dan membuat mural di dinding-dinding. Hal itulah yang menyebabkannya mesti mengahadapi aparat kepolisian dan kejar-kejaran yang mengantarkannya untuk mengenal seorang gadis bernama Starla.
Hema bersembunyi di sekitar rumah Starla pada suatu malam. Bunyi mesin ketik yang ia pencet ternyata mengundang kerisauan dalam hati Starla, hingga ia memberanikan diri untuk mengambil sebilah tongkat baseball dan langsung memukul secara bertubi-tubi ke arah orang yang mengahasilkan bunyi tersebut. Hema kaget dan dalam keadaan membela diri, ia menjelaskan segalanya. Sampai akhirnya Starla menghentikan pukulannya dan kesalahpahaman dapat teratasi.
Dari pertemuan pertama yang ditentukan oleh takdir dengan cara yang tidak menyenangkan bagi Hema dan rasa bersalah bagi Starla, terhitung sejak detik itu hingga enam jam selanjutnya. Akhirnya kedua pasang mata itu telah melihat sebuah rasa yang tercerminkan dari mata masing-masing, yaitu cinta. Hanya dengan tempo waktu yang begitu singkat enam jam, mungkinkah?. Hari berganti hari yang selalu diisi dengan ranumnya senyuman Starla dan manisnya kata Hema, seolah dunia tidak sekedar dinding-dinding untuk dibikin mural telah diakuisisi oleh mereka berdua.
Hema tidak lagi menuliskan surat cintanya kepada alam, tetapi sudah beralih kepada seseorang yang merupakan bagian dari alam dan selama ini disembunyikan darinya. Setelah ditampilkan ia merupakan bentuk terindah dari alam itu sendiri, yaitu Starla.
Alur film menghadirkan ketegangan dan perselisihan antara hubungan keduanya dalam menit-menit setelah Starla mendapati seseorang yang wajahnya mirip sekali dengan Hema sedang jalan bareng bersama seorang perempuan.
Dari sana menjurus kepada persoalan lama Antara kakek Hema dari pihak ayah dan pihak ibu yang menjadikan ayah dan ibunya berpisah, termasuk Hema dan kembarannya. Sedangkan yang dilihat oleh Starla tidak lain adalah kembarannya. Akibat kekecewaan itu, Starla mulai menagih nilai cinta yang telah bersemi dan mekar diantara keduanya, apakah benar-benar cinta atau sekedar pelampiasan akibat baruh putus dari Bimo.
Mungkinkah enam jam?
Hubungan antara Starla dan Bimo berusia lebih lama, satu tahun, karena sebab ini dan itu tetek bengek yang menunjukkan kurang dewasa akhirnya harus berakhir kandas. Baru kemudian muncul orang lain, yaitu Hema Candra. Keduanya saling suka dalam tempo enam jam dan mengalahkan yang satu tahun. Bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi?
Sebenarnya dalam soal cinta waktu tidak bisa dijadikan ukuran. Sebagaimana ungkap Fisikawan terkenal, Albert Einstein "ketika anda berpacaran dengan cewek yang manis, satu jam seperti sedetik. Ketika anda duduk di atas tungku panas, sedetik serasa satu jam. Itulah relativitas".
Tidak masalah kalau yang setahun bisa kalah dengan yang enam jam. Karena bisa jadi yang setahun itu tidak menjalani proses mencintai, yaitu terus menyemai cinta agar tetap bersemi. Malah menampilkan ego dari masing-masing, sehingga berujung pada peristiwa putus. Sebenarnya kata putus sebagai kalimat yang menandai berakhirnya hubungan, membutuhkan momen saja, jatuh sampai usia hubungan satu tahun. Sejatinya ketika sudah bersimpang hati dan tidak ada upaya untuk mengaitkan dengan merasa satu entitas, hubungan sudah kandas, tanpa harus menunggu kata putus dari salah satu pihak.
Sedangkan enam jam, sebenarnya ukuran yang lama karena seseorang bahkan ketika benar-benar mencintai seseorang satu detikpun masih dikatakan lama, karena cukup waktu secepat cahaya bergerak lantas mengisi dengan sinarnya ruang-ruang hati. Hal ini bisa tampak dari pertama kali mata melihat.
Cinta dengan pandangan pertama, merupakan bentuk cinta paling murni. Karena sebelum hal-hal lain terlihat, seperti harta benda, tampang, kedudukan dan status sosial dimana banyak orang berucap cinta tetapi sebenarnya yang ia hasrati adalah hal-hal tersebut. Sedangkan mata untuk melihat benda ia membutuhkan cahaya. Dari cahaya itulah terjadi koneksi antara dua belah jiwa yang sebenarnya adalah satu menemukan bagiannya yang lain. Dengan cahaya pula saling mengantarkan kode, jauh lebih cepat sebelum kalimat-kalimat tertata dan terukur secara pas untuk diucapkan.
Sayangnya, secepat cahaya itu cinta bisa terpatri tetapi apabila timbul keraguan atau tidak adanya keputusan eksistensial melebihi kecepatan cahaya dalam jarak mata melihat mata, sehingga terlihat yang lain, semisal baju yang menandakan status sosial maka batal pula cinta dalam pandangan pertama.
Kenapa harus mata?
Karena dari mata dan oleh mata kejujuran terlihat. Banyak sekali orang yang menyembunyikan sebuah kebenaran dengan mengatakan tidak di mulut, tetapi matanya jika memang benar iya maka akan terlintas iya. Lewat mata pula akan terlihat kondisi kejiwaan, apakah sedang lunglai, capek, berseri-seri dan gembira. Bisa jadi tubuh sedang capek tetapi jiwa tetap bersemangat, hal itu terlihat dari bagaimana cahaya mata masih dan tetap bersinar.
Begitu pula dengan kasus Hema, Starla dan enam jamnya. Bahkan enam jam termasuk lama seolah sedang diskusi cinta yang rumit yang tidak terucapkan oleh kata-kata dan tidak terwujud sebagai bunyi sehingga telinga tak mampu menangkap tetapi tidak ingin melepaskan keyakinan.

Post a Comment for "Bedah FIlm: Surat Cinta Untuk Starla"