Kebencian mirip sekali dengan api. Berkobar-kobar, penuh gairah dan semangat melahap segala yang terjangkau olehnya. Mengahancur segala yang terdekat dengan cara menghancurkan dirinya sendiri. Bersamaan yg lain hancur, ia sendiri turut ikut dalam kehancuran.
Begitulah kebencian, ia yang dikusai oleh hasrat benci senantiasa mengandalkan objek yang dibenci agar kebencian itu tetap hadir, tanpa sadar bahwa dirinya juga sedang diobjektivikasikan. Oleh karena itu, orang yang penuh rasa benci bukan orang merdeka.
Sudah sekitar satu abad lebih, Nietzsche memberikan perumpamaan yang menarik dengan apa yang ia sebut sebagai ubermensch, manusia unggul, super. Bukan seekor singa, sakalipun hewan tersebut dipersonifikasikan sebagai raja hutan. Dengan kegarangannya, seramnya, wibawanya dan jejak langkahnya menjadikan orang lain bergetar. Bahkan tabiat singa adalah adalah milik orang lemah, yang senantiasa merespon sinyal dari luar dengan keganasannya.
Melainkan seorang bayi, bagaimana bayi bertabiat? Apabila ada orang gemas melihatnya, melemparkan kata pujian, dikodang (bahasa jawa), ia akan senang tetapi setelah semua sikap dan kejadian telah berlangsung, ia dengan sendirinya tidak akan terbius untuk merasa kurang dan butuh akan hal tersebut. Seorang bayi akan bisa melakukan apapun sesuai keinginannya tanpa mengaharap dan menantikan pujian.
Begitu pula, ketika terdapat seseorang yang mengganggu, seketika akan menangis sebagai respon sesuatu yang tidak menyenangkan secara alamiah, tetapi tidak menjadikan dirinya untuk menyimpan rasa benci atas perkara tersebut, dalam bentuk menyimpan kebencian untuk diwujudkan esok hari sebagai balasan. Semuanya terjadi dan selesai seketika itu saja.
Kebencian memang terletak di hati, tetapi manajerial pikiran mempunyai wilayah penting dalam menentukan apakah seseorang itu harus melaksanakan kebencian atau kah memangkasnya dari dalam sanubari. Semakin pikiran orang tumbuh, maka kemungkinan semakin bisa mengendalikan kemunculan kebencian atau malah semakin menyuburkannya. Bayi tidak bisa menerima kebencian, karena memang ia sendiri tidak terlalu ambil pikir atas persoalan yang mengganggunya.
Bukan berarti, tidak perlu banyak berpikir dan lebih baik serta damai untuk menjadi bayi saja. Tetapi seharusnya yang perlu diperhatikan agar sebuah kebencian tidak menguasai diri adalah dengan cara menyiapkan premis-premis yang nantinya akan membawa kepada wilayah produktif. Dan sadar bahwa kebencian akan senantiasa membawa pada ujung tapal batas yang bersifat destruktif.
Seseorang jelas mampu membedakan dan memperkirakan mana yang akan berujung pada kerusakan yang masif dan terstruktur dan manapula yang akan membikin dirinya berkembang. Setidaknya, jika memang tidak bisa berkembang, minimal tidak rusak.
Semua orang tidak bisa menghindar dari realitas yang menjadikan dirinya terganggu, sehingga memungkinkan bergentayang kebencian dalam jiwanya. Tetapi ia bisa memilih untuk meresponnya, sebagai kebencian ataukah bukan. Setidaknya orang yang tidak ingin dikuasai oleh api kebencian, jika tidak bisa merubahnya di selain kebencian itu sendiri, maka ada baiknya untuk menghindar agar tidak terbakar.
Umpamanya seorang
siswa yang sering dibully oleh temannya, jika ia bukan orang kuat untuk
memaafkan kesalahan. Sangat memungkinkan ia akan menyimpan api kebencian, untuk
itu agar tidak hangus dan habis dalam proses membalas kepada temannya, bukankah
ia lebih baik pindah sekolah. Menjauhi arena toxic yang mengganggu dan mempunyai potensi untuk merusak dirinya
kala itu dan masa depan. Tetapi sekali lagi, orang kuat akan senantiasa
memaafkan bukan membalas. Kekuatan tersebut salah satunya tidak lain berasal
dari kekuatan pikiran, bagaimana ia cerdas untuk memilih sudut pandang lain,
sekalipun realitas seolah membawanya hanya untuk membenci dan membalas.

Post a Comment for "Kebencian"