Larangan Malam Mingguan untuk Senior

 

senior dilarang malam mingguan

Larangan Malam Mingguan untuk Senior

            Sebagai seorang makhluk, senior adalah seorang yang spesial. Bagaimana tidak? Dengan suatu kelebihan yang diperoleh dari hasil berprosesnya ia menempati posisi yang cukup disegani dan menjadikan bawahannya atau kader-kadernya yang layak mendapatkan pengayoman untuk jarang berkata “tidak”. Meskipun bukan suatu keharusan bagi kader untuk mengatakan “tidak”, tetapi sering kali mengatakan “iya” atau “siap cak” adalah adalah bentuk relasi dari adanya pengayoman, menolak instruksi senior artinya mengabaikan pengalaman yang ia miliki selama ini dalam arti lain ia sedang menolak kebenaran.

Jadi bisa dikatakan jika senior melakukan seratus tindakan maka prosentase kesalahannya adalah dua persen, sedangkan jika kader atau junior melakukan seratus tindakan maka akan menjadi kebalikannya dua persen adalah kebenaran miliknya sedangkan sisanya adalah bentuk kesalahan. Lagi-lagi apabila ditambah dengan menolak kehendak senior, kebenaran yang ia miliki berkurang satu, sehingga hanya satu persen.

            Dalam hal ini ada suatu fenomena menarik yang dapat kita lihat mengenai interaksi kebenaran antara senior dan junior. Secara ringkas senior mempunyai potensi kebenaran lebih banyak dihadapan junior karena dua faktor. Pertama, pengalaman yang lebih banyak, sudah menjadi wajar apabila senior mempunyai pengalaman yang lebih banyak karena ia lebih dahulu bertengkus lumus dengan tantangan-tantangan yang harus diselesaikan, entah benar-benar selesai atau karena ditunda, tetapi mencicipinya adalah jalan memperoleh kemungkinan kebenaran. Kedua, otoritas, karena telah banyak berproses melewati banyak fase, maka derajatnya pun akan menanjak, semakin rela dan setia menerima proses seorang senior akan terlihat kredibilitasnya dihadapan para junior.

Tidak heran jika interaksi yang terjadi seorang junior akan banyak bertanya dan senior akan banyak menjawab. Meskipun sebenarnya kondisi tersebut memungkinkan bahwa junior yang banyak bertanya adalah junior yang malas berfikir, sedangkan pertanyaan yang di ajukan bagi senior sebenarnya adalah derita atau siksaan, sebab ia dipaksa berbicara tentang suatu kebenaran, apakah mungkin senior mengetahui segalanya, jika tidak, maka kebenaran yang disampaikan bisa berupa kebenaran otoritatif, yaitu kebenaran yang mengacu kepada dirinya yang telah lama berproses daripada junior, sehingga, logikanya, senior jelas lebih benar dan junior lebih salah. Sehingga kita dapat menarik suatu kaidah,”bahwa seorang junior bisa lebih cerdas dan berpengetahuan, tetapi kebenaran selalu lebih memihak senior”.

            Sebagai pemegang kebenaran otoritatif (tetapi juga terkadang memegang kebenaran sejati), seorang senior harus menjaga agar otoritas tersebut tidak goyah. Oleh karena itu ia mesti menjaga muruah nya (harga diri), caranya denga tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang dinilai mencoreng moralnya dihadapan para junior. Semisal: seorang senior dilarang untuk malam mingguan. Sebab tugas seorang senior adalah mengayomi juniornya mulai hari senin sampai tembus senin lagi, jadi satu minggu tanpa jeda menjadi kewajiban bagi senior untuk melakukan pemberdayaan sumber daya manusia para junior-juniornya. Malam minggu bukanlah sebuah kesalahan bagi seorang senior, tetapi apabila ia lebih memilih untuk menjalankannya maka akan berakibat fatal. Kebenaran otoritatif yang ia miliki akan diragukan oleh para junior-juniornya. Setelah itu senioritasnya sedikit demi sedikit akan terkikis untuk kemudian lengser keprabon.

            Seorang senior boleh melakukan tradisi malam mingguan, asal jangan ketahuan junior-juniornya, semisal hanya diketahui oleh sesama senior atau bisa juga dengan cara jika ia adalah senior di kota Surabaya maka malam mingguannya bisa dilakukan di Malang. Karena cakupan senioritasnya hanya berlaku pada satu kota saja, ketika ia pergi ke kota lain ia telah melepas jubah senioritasnya dan menjadi manusia biasa atau dengan kata lain ketika ia keluar kota maka tidak akan ada seorangpun yang mengetahui, kalau ia sedang menikmati malam mingguan. Apabila ia sempat ketahuan oleh kadernya maka naas lah nasibnya, tetapi senior selalu pandai berbicara, mayoritas memang begitu, untuk menghalau segala praduga negatif yang terbesit didalam pikiran junior dan ia juga bisa menggunakan kebenaran otoritatifnya, untuk membungkam praduga tersebut. Posisi senior selalu istimewa, ia mampu melakukan segalanya. Maka para junor harus pandai-pandai untuk menjadi senior yang hebat tidak sekedar hanya menunggu prose tanpa melakukan proses untuk menjadi senior.

            Sekalipun begitu, senior sangat pantas menerima kritik. Junior yang pandai mengkritik senior suatu saat akan menjadi senior secara maksimal dan disegani oleh para juniornya. Junior yang tidak malam mingguan sampai ia menjadi senior maka kehidupannya akan sepi dan nelangsa, tetapi ia akan utuh tanpa berkurang sedikitpun segal bentuk keistimewaan dan pamornya dihadapan para junior. Malam minggu secara budaya berarti bersenang-senag di akhir pekan bersama pasangannya atau dengan teman-temannya, larangan bagi senior untuk melakukan malam mingguan adalah, karena ia mempunyai beban kewajiban yang begitu besar untuk mengurusi para junior-juniornya, ketika ia memaksakan diri dengan malam minggu dan ketahuan maka bersiap-siaplah moralnya hancur, karena lebih memilih berbahagia untuk dirinya sendiri dan tidak menyibukkan dengan kewajibannya serta menjadi contoh dan teladan yang baik, dari sini jelas “senior dilarang malam mingguan”. Tetapi pendapat tersebut menurut perspektif para junior. Sedangkan para senior akan berperspektif bahwa mereka juga dari golongan manusia sehingga sah-sah saja jika melam mingguan. Lepas dari perspektif-perspektif yang bermunculan, akan menjadi kabur kebenaran yang memang benar-benar benar dan sebuah perspektif akan selalu digunakan oleh siapapun dengan cara menyesuaikan kondisinya.

Tegalwangi, 17-05-2021

Arif Prasetyo Huzaeri

 

4 comments for "Larangan Malam Mingguan untuk Senior "