Peternak lele yang telah berkecimpung
dalam dunia peternakan sejak tahun 2019 akan merasakan pahitnya kenaikan pakan
sebanyak 6 kali. Angka yang cukup dramatis, mengingat harga jual lele tak
kunjung ikut naik pula. peternak yang tiap pagi menebar pakan dikolam,
sekaligus meremas-remas isi pikirannya yang memandang masa depannya sebagai
peternak tragis.
Bukan tragis apa? setiap 1000
ekor lele membutuhkan standarnya sebanyak 3 karung kosentrat. Tahun 2019 pada
waktu harga pakan tingkat pertama, senilai 319.000, tingkat kedua 308.000 dan
ketiga 302.000. tetapi sekarang telah melambung tinggi, pertama 336.000, kedua
337.000 dan ketiga 317.000. Seandainya diikuti dengan harga jual lele yang
mahal, maka tiada masalah. Pakan mau naik sebanyak mungkin.
Kondisi seperti itu, bila
ditaksir, per-seribunya akan mendapatkan untung 150.000. nilai yang fantastis
kecil bila dihitung dengan masa perawatan, penantian dan tenaga. Mungkin hanya
menjadi pelipur lara ditengah masyarakat. Ketika ada yang bertanya. Kerja apa?
Ternak Lele. Daripada tidak bekerja. Lain lagi dengan mereka yang menjadi
penyayang binatang, semisal ikan. Karena hoby untung tak perlu dihitung,
kemalangan tak perlu resah. Yang penting hoby terlaksana. Siapapun yang faham
kondisi seperti itu, tidak akan menganggapnya sebagai usaha yang menggiurkan.
Beberapa tahun yang lalu, ada gojlokan
untuk mahasiswa filsafat. Dengan beredarnya sebuah meme. Bahwa ketika menjadi
mahasiswa, mereka bacaannya buku filsafat tetapi setelah lulus bacaannya adalah
buku panduan beternak lele. Sebenarnya kondisi seperti ini tidak hanya mencakup
kepada mahasiswa filsafat saja, tetapi juga kepada seluruh mahasiswa pada
umumnya untuk memberitahukan bahwa kehidupan butuhnya praktis, teoritis
belakangan.
Guyonan itu, sampai sekarang
masih terasa segar. Tidak sedikit yang tertawa berulang-ulang ketika kembali
melihat meme tersebut. Membaca kembali meme itu dengan melihat kondisi dunia
ternak lele, sepertinya meme itu harus direvisi. Tidak dengan membaca buku
panduan ternak saja, tetapi disamping itu juga membaca buku-buku filsafat
kembali yang berkaitan dengan kiat-kiat melakukan perubahan sosial.
Kira-kira gambarnya, ketika awal
menjadi mahasiswa bacaannya buku filsafat. Setelah lulus bacaannya buku panduan
ternak lele. Lanjut, karena merasakan kondisi yang tidak sesuai antara buku
panduan dengan realita yang sebenarnya, maka dicarilah cara jitu memecahkan
masalah yang dihadapi. Akhirnya membaca kembali buku gerakan dan perubahan
sosial.
Pasalnya, menurut para peternak,
mahasiswa harus faham betul kondisi ini apalagi yang mau ternak lele. Harga
pakan terus meningkat, ternyata tidak memberikan kualitas yang lebih dari
sebelumnya. Harga barang mahal, kualitas kosentrat menurun. Satu karung yang
semestinya bisa meningkatkan bobot daging, sekarang tidak bisa. Kalau bahasanya
pabrik bahan pembuatan pakan sekarang mahal, sehingga asupan gizi dikurangi.
Siapa yang mau percaya dalih yang
dikeluarkan oleh lidah pabrik. Toh, mereka yang menjual pakan mahal, malah
menikmati daging lele dengan harga murah. Mereka rela gizi lele yang dimakan
berkurang asal pendapatan meningkat. Tetapi bagi peternak yang menyandarkan
punggungnya pada daging lele, mereka akan menjerit.
Untuk itu bagi mahasiswa,
khususnya mahasiswa filsafat dan jurusan lain yang mendalami ilmu peternakan
pasca wisuda, sebaiknya merapatkan barisan. Kenapa khusus mahasiswa filsafat?
Karena mereka lah yang paling kenal dengan Marx. Sedangkan mahasiswa lain,
belum tentu. Untuk itu pasti mengenal pula ajaran-ajarannya dan semboyannya.
Jika ada mahasiswa filsafat tidak kenal dengan Marx, setidaknya mendengar
namanya saja. Nanti bisa ikut gabung dengan mahasiswa yang lebih mengerti. Yang
penting punya identitas yang sama, yaitu peternak lele dan keinginan
memperjuangkan cita-cita luhur para peternak.
Untuk itu langkah pertama,
disamping mempersiapkan kritisisme marxian dalam menoleh ke arah kebijakan yang
berkaitan dengan harga kosentrat, juga mengkoordinir para peternak
non-mahasiswa untuk mengambil langkah berani, buka nerimo saja. Pertama
kali seragamkan semboyan, bisa menggunakan sebuah kalimat dalam pamflet
kerennya Marx, manifesto komunis, yaitu “buruh sedunia bersatulah”. Dirubah
dengan “peternak lele sedunia bersatulah”.
Bersatu melawan tirani para
pemangku kebijakan yang bisa menaik-turunkan pakan seenaknya. Agar mereka
mempertimbangkan harga pakan sesuai dengan harga lele. Silahkan dinaikkan harga
pakan, tetapi setelah harga jual lele juga meningkat. Karena beginilah keadilah
seharusnya diatur.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 12-11-2021
Silahkan bisa pikir sendiri.
ReplyDelete